Masyarakat Diminta Jangan Fomo Minum Obat Cacing

KECACINGAN, masih menjadi masalah kesehatan yang nyata di Indonesia. Data menunjukkan prevalensi kecacingan di Indonesia masih mencapai 35%.

“Artinya dari tiap 100 orang setidaknya ada 35 orang yang kecacingan,” jelas Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes, Ph.D, Ketua Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, di kampus FKKMK UGM, Selasa (16/9).

Bahkan beberapa waktu lalu, masyarakat ramai membicarakan kasus kecacingan di Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa ini memicu kekhawatiran hingga muncul tren mengonsumsi obat cacing secara mandiri karena takut tertular. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah fear of missing out atau FOMO.

“Tentu ada dampak negatifnya, walaupun obat cacing itu aman,” jelas Prof. Elsa.

Picu resistensi

Menurutnya, jika mengonsumsi obat cacing tanpa indikasi medis yang jelas, justru bisa mengganggu flora (bakteri baik) dalam usus, memicu resistensi, serta menimbulkan rasa aman semu.

BACA JUGA  Navigasi Robotik Dorong Presisi Bedah Tulang Belakang

Orang mungkin merasa sudah terlindungi hanya dengan minum obat, padahal perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta perbaikan sanitasi jauh lebih penting untuk mencegah infeksi berulang.

Prof. Elsa menegaskan bahwa obat cacing tetap penting sebagai bagian dari program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) yang dijalankan pemerintah. Melalui program ini, anak-anak usia sekolah mendapat obat cacing secara rutin 1 hingga 2 kali dalam setahun, tergantung pada tingkat kasus di daerah.

Kebersihan dan sanitasi

Namun, ia mengingatkan bahwa upaya ini tidak akan efektif bila masyarakat mengabaikan kebersihan dan sanitasi. “Reinfeksi (tertular kembali setelah sembuh) bisa terus terjadi kalau lingkungan dibiarkan tercemar,” imbuhnya.

Meski program pemberian obat cacing massal difokuskan pada anak-anak, Prof. Elsa mengingatkan bahwa orang dewasa pun tidak kebal dari risiko. Kebiasaan sederhana seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi makanan yang kurang bersih atau mentah yang terkontaminasi bisa menjadi pintu masuk infeksi cacing.

BACA JUGA  Warga Diminta Jaga Kesehatan saat Cuaca Ekstrem

“Kecacingan bisa menyerang siapa saja, bukan hanya anak-anak. Jadi perilaku hidup bersih dan sehat itu penting untuk semua usia,” ujarnya.

Dampak kecacingan tidak bisa disepelekan. Infeksi berat dapat menimbulkan sakit perut, diare, hingga keluarnya cacing dari mulut. Dalam kasus tertentu, bisa terjadi komplikasi serius seperti sumbatan usus dan sepsis—infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah hingga organ-organ gagal berfungsi.

Stunting

Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung pada kematian. Lebih jauh, kecacingan juga berkontribusi pada stunting dan gizi buruk karena cacing mengambil nutrisi, merusak penyerapan di usus, dan menurunkan nafsu makan anak.

Karena itu, edukasi agar masyarakat tidak terjebak fenomena FOMO minum obat cacing menjadi penting. Fokus utama pencegahan justru ada pada kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai alas kaki, menggunakan jamban yang layak, serta mengelola sampah dengan benar.

BACA JUGA  Awas! Cemaran Mikroplastik Air Hujan Ancam Kesehatan Manusia

“Kecacingan adalah masalah komunitas, bukan hanya individu. Upaya pencegahannya harus kolektif, dimulai dari rumah hingga lingkungan,” pungkas Prof. Elsa. (AGT/N-01)

(Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes, Ph.D, Ketua Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. (

Dimitry Ramadan

Related Posts

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

INDONESIA menghadapi beban dengue yang masih tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total…

Peringati Hari Osteoporosis, Perwatusi Ajak Warga Rutin Bergerak

PERSATUAN Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) Kabupaten Bandung mengajak masyarakat membiasakan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik, olahraga sesuai kemampuan, serta pemenuhan nutrisi untuk menjaga kesehatan tulang. Upaya ini dinilai…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

  • October 29, 2026
Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

  • October 29, 2026
Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

  • October 29, 2026
Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

  • October 29, 2026
Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

  • October 29, 2026
Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa

  • October 29, 2026
GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa