Buka Kongres Alumni Jesuit, Sri Sultan Berharap Jadi Ruang Batin

SRI SULTAN Hamengku Buwono X mengemukakan terpilihnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai tuan rumah Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) diharapkan dapat menjadi ruang batin bersama bagi para alumni Jesuit untuk merefleksikan arah perjalanan persaudaraan mereka dalam membawa ilmu, iman, dan pengabdian, serta menjadi tempat lahirnya keberanian baru untuk membawa semangat persaudaraan ke tengah dunia yang tengah menghadapi berbagai persoalan sosial.

“Dengan semangat itu, saya berharap perjumpaan di Yogyakarta ini tidak selesai ketika forum ditutup. Biarlah dari kota ini lahir keberanian baru, untuk membawa persaudaraan ke tengah dunia, yang sedang diuji oleh kecurigaan, jarak sosial, luka ekologis, dan perpecahan nilai,” tutur Sri Sultan saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Kongres World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026, di Auditorium Universitas Sanata Dharma, Kabupaten Sleman.

Lebih dari sekadar pertemuan

Sri Sultan mengemukakan terpilihnya (DIY) sebagai tuan rumah Kongres Jesuit Alumni (WUJA) diharapkan dapat menjadi ruang batin bersama.(Dok/ist)

Kongres XI WUJA yang digelar DIY, kata Sri Sultan dimaknai lebih dari sekadar pertemuan. Sebagai persekutuan yang telah hidup selama hampir tujuh dekade, kepercayaan menjadikan DIY sebagai tuan rumah Kongres XI merupakan sebuah penegasan, bahwa DIY dipandang sebagai daerah yang mampu mempertemukan, menyatukan, dan menguatkan semangat persaudaraan.

BACA JUGA  Sambut Hari Bhayangkara, Alumni Akabri 1994 Gelar Baksos dan Bakkes di ISI

“Bagi kami, menjadi tuan rumah bukan perkara menerima tamu semata. Dalam tata batin Jawa, tamu adalah titipan rasa. Ia datang membawa cerita, pengalaman, doa, dan harapan. Maka, menyambut tamu,berarti membuka ruang bagi persaudaraan untuk duduk, mendengar, dan menemukan irama bersama,” tegas Sri Sultan.

DIY menurut Gubernur DIY itu, telah lama menjadi pendapa bagi perjalanan pendidikan Jesuit melalui berbagai lembaga pendidikan, mulai dari Kanisius, De Britto, hingga Universitas Sanata Dharma. Jejak panjang tersebut telah menanamkan benih ilmu, membentuk karakter, serta melahirkan generasi yang mengabdi di berbagai bidang kehidupan.

Perkuat persatuan

Penyelenggaraan kongres di Yogyakarta ini diharapkan mampu memperkuat persatuan, memperjelas arah kepemimpinan, serta mengembalikan pengabdian pada nilai-nilai kemanusiaan. “Akhirnya, marilah kita rawat api kecil yang menyala di batin masing-masing. Api yang tidak membakar, tetapi menerangi. Api yang tidak menghanguskan perbedaan, tetapi menuntun manusia untuk saling mengenali sebagai sesama ciptaan Tuhan,” tutup Sri Sultan.

BACA JUGA  BI Diharap Jadi Co-Creator Ekonomi DIY di Masa Depan

Sementara Provinsial Serikat Jesus (Jesuit) Provinsi Indonesia sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana S.J., menyebut lebih dari seribu peserta yang hadir, terdiri atas alumni Jesuit Indonesia maupun berbagai negara di dunia.

Di tengah berbagai konflik dan perpecahan yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia, pertemuan di DIY ini menjadi pesan dan simbol kuat akan pentingnya persatuan.

Tempat perjumpaan budaya dan agama

“Kita semakin bersemangat dengan tema United in Spirit, Leading with Purpose (Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan). Inilah sesungguhnya kerinduan terdalam kita, yaitu untuk senantiasa dipersatukan dalam semangat yang sama dalam menjalankan misi Tuhan di dunia,” ungkap Bagus.

BACA JUGA  SAR Yogyakarta Lanjutkan Pencarian Korban Terseret Arus Parangtritis

DIY menjadi tempat yang tepat dan istimewa untuk menjadi lokasi berkumpulnya alumni Jesuit dari seluruh dunia. Sebagai kota budaya dan pendidikan, Yogyakarta tumbuh melalui perjumpaan berbagai budaya dan tradisi keagamaan selama berabad-abad. Jejaring Katolik dan Jesuit pun turut memberi kontribusi dalam membentuk kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan di kota ini.

“Kini, Yogyakarta berkembang menjadi kota global yang semakin berkomitmen menjaga kekayaan tradisi perjumpaan budaya dan agama. Karena itulah, sangatlah tepat apabila Kongres WUJA diselenggarakan di Yogyakarta,” lanjut Bagus. (AGT/M-01)

Related Posts

Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

PERSOALAN sampah, bagi mahasiswa ini, bukan sekadar memilah dan mengolah. Ia secara lengkap mengurusnya dengan pola 3R;  Reduce, Reuse dan Recycle. Bersama lima rekannya ia menempatkan sampah sebagai bagian untuk…

Kembangkan Tangan Bionik dan Alat Rehabilitasi, Undip Raih Penghargaan Menhan

UNIVERSITAS Diponegoro (Undip) menerima penghargaan Dharma Pertahanan Pratama dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi pengembangan teknologi dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

  • October 29, 2026
Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa

  • October 29, 2026
GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa

Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

  • October 28, 2026
Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

  • October 28, 2026
Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

  • October 28, 2026
Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat

  • October 28, 2026
Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat