
SATU dari 90 wisudawan lulusan Program Doktor Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada memiliki Indeks Prestasi 4,00 setelah menjalani kuliah pascasarjana selama 2 tahun 10 bulan.
Wisudawan yang meraih IPK sempurna tersebut adalah I Made Sarmita (37), lulusan Program Studi Doktor Kependudukan, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM.
Perjalanan untuk menuju jenjang pendidikan doktor diakui Made tidaklah mudah. Made bercerita latar belakang pendidikannya dimulai dari sarjana Pendidikan Geografi Undiksha Bali dari tahun 2006 hingga 2010.
Saat merantau ke Yogyakarta, ia menempuh pendidikan S2 di Kependudukan UGM pada 2011 hingga 2013. Lalu dilanjutkan ke jenjang S3 di prodi yang sama dari 2023 hingga 2026.
Menarik dan dinamik
Ia mengaku tertarik untuk mengikuti pendidikan di program studi Kependudukan datang dari disiplin ilmu yang menurutnya sangat menarik dan dinamik. Dikatakan berbagai persoalan empiris yang ada di masyarakat tidak terlepas dari kajian kependudukan dan demografi.
“Saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1,” ujarnya.
Pada awal kuliah, motivasi dan komitmen Made dalam melanjutkan studi cukup diuji. Sebab, ia sempat menghadapi kegalauan kepastian beasiswa yang sedang ia perjuangkan.
Dan akhirnya beasiswa pun berhasil diraihnya. Selama perkuliahan, Made mengaku merasa sangat terbantu oleh fasilitas yang diberikan oleh UGM.
Mode kuliah fleksibel
Ia mengapresiasi dosen dan tenaga kependidikan yang ada karena memberikan perkuliahan dengan mode fleksibel. Meski tugas kuliah yang diberikan terlihat berat, imbuhnya, ia mengaku hampir tidak menemukan kendala berarti selama proses kuliah.
“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.
Made turut memberikan pesan untuk tetap percaya dengan kemampuan diri dan doa sebagai modal utama dalam menyelesaikan studi dan memperoleh IPK 4.00.
Menurutnya, tidak ada sesuatu tanpa jalan keluar. Ia menekankan bahwa semua akan terasa mudah kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Begitu sebaliknya, kata Made, semua akan terasa sulit kalau hanya dipikirkan saja dan tidak dikerjakan.
“Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” pesannya.
Persiapkan rencana riset
Ia turut berpesan kepada calon mahasiswa S3 untuk lulus dengan predikat pujian sebaiknya untuk mempersiapkan rencana riset sejak sebelum kuliah.
Ketika memasuki semester pertama, sebut Made, mahasiswa perlu mendiskusikan rencana riset bersama dosen, kaprodi, atau pengampu mata kuliah.
“Jika sudah setengah matang, minta kepada prodi terkait calon promotor dan ko-promotor yang keilmuannya sesuai dengan rencana riset. Dipertimbangkan juga kesibukan, gaya komunikasi, dan karakteristik lain dari calon promotor dan ko-promotor,” tegasnya.
Made menyarankan pada semester 2 mahasiswa bisa mengupayakan untuk ujian komprehensif dalam mendapat masukan konstruktif sedari awal.
Publikasi
Pada semester yang sama, langkah tersebut ia sinyalir sudah memudahkan mendapat gambaran terkait publikasi sehingga ketika melakukan penelitian bisa langsung dipublikasikan. Ia menerangkan bahwa banyak rekan-rekan yang terkendala publikasi.
Menurutnya, mahasiswa perlu selektif dalam memilih jurnal yang sesuai ketentuan di masing-masing program studi.Selain itu, Made menekankan untuk terus fokus, konsisten, dan tetap menjaga motivasi dalam menggapai capaian akademik tertinggi.
Ia menceritakan selama menempuh pendidikan S3 prodi Kependudukan Sekolah Pascasarjana UGM, semua mahasiswa saling berkolaborasi agar bisa lulus tepat waktu.
Made menaruh harapan bagi rekan-rekan yang akan dan tengah melanjutkan studi agar selalu tetap optimis bahwa segala sesuatu itu bisa dikerjakan asal tekun dan tidak setengah hati. (AGT/A-01)






