Sanitasi Buruk dan Buang Air Besar Sembarangan Jadi Penyebab Cacingan

KASUS meninggalnya seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat, dengan tubuh dipenuhi cacing, menimbulkan keprihatinan publik.

Sebab hal itu menunjukan betapa masih rendahnya standar kebersihan dan intervensi kesehatan.

Meskipun Kementerian Kesehatan sempat menegaskan kemungkinan lain penyebab kematian, seperti meningitis tuberkulosis atau infeksi lain yang lebih berat, kasus ini membuka mata bahwa cacingan masih menjadi ancaman nyata, bahkan di wilayah yang tidak tergolong tertinggal, terdepan, dan terluar.

Belum bisa dikendalikan

Kasus Sukabumi tersebut mencerminkan betapa masalah kecacingan belum sepenuhnya terkendali di Indonesia.

Pasalnya, kasus cacingan yang parah seharusnya tidak wajar terjadi di era sekarang, terlebih di daerah yang sudah dijangkau fasilitas kesehatan.

Artinya, faktor risikonya masih ada, seperti sanitasi buruk, perilaku buang air besar di tempat terbuka, dan kurangnya kesadaran masyarakat.

BACA JUGA  Pemkab Sleman Sasar Anak Rentan Stunting Lewat Program Genting

Kecacingan dalam kasus ini disebabkan oleh Ascaris lumbricoides atau cacing gelang, yang menular melalui tanah (soil-transmitted helminth).

Sebagian besar kasus memang tidak bergejala karena infeksi ringan, namun jika intensitas tinggi atau jumlah telur cacing yang tertelan banyak, sehingga kondisi bisa menjadi berat.

Mengambil nutrisi

Cacing akan mengambil nutrisi dari tubuh inangnya. Jika dibiarkan, anak bisa mengalami malnutrisi, stunting, anemia, bahkan gangguan perkembangan kognitif.

Pada kasus berat, cacing juga dapat bermigrasi ke organ lain, memicu peradangan pada usus buntu, abses di hati, hingga terhambatnya gerakan peristaltik usus yang dapat berujung kematian.

Kaitan kecacingan dengan stunting dan gangguan kognitif tidak bisa diabaikan. Cacing mengambil zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak, seperti protein, zat besi, zinc, serta vitamin.

BACA JUGA  Jaga Kesehatan Jemaah, Kemenhaj Jabar Hilangkan Seremoni Pelepasan

Kekurangan gizi pada periode seribu hari pertama bisa menghambat perkembangan otak.

Perbaikan sanitasi

Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) yang dilakukan dua kali dalam setahun harus diapresiasi. Namun intervensi itu tidak bisa berhenti pada pembagian obat saja.

Sebab, obat cacing efektif menurunkan beban infeksi, tetapi tanpa perbaikan sanitasi dan perilaku, anak bisa terinfeksi karena lingkungannya.

Masalah utamanya pada kebiasaan buang air besar pada tempat terbuka yang masih terjadi di masyarakat. Telur cacing dari feses yang mencemari tanah akan menjadi sumber penularan.

Kesuksesan salah satu daerah di Yogyakarta pada 1970-an, yang berhasil menekan angka kecacingan melalui pembangunan jamban serta edukasi masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor

Model kolaborasi lintas sektor serupa, melibatkan Kementerian PUPR, pemerintah daerah, hingga masyarakat harus digalakkan.

BACA JUGA  UGM Soroti Salah Kaprah Stunting, Bahaya Stigma Anak Pendek

Kolaborasi lintas sektor, evaluasi berkala dengan memeriksa feses populasi sebelum dan setelah intervensi, juga pengawasan pada resistensi obat itu penting.

Kematian akibat cacingan sebenarnya bisa dicegah. Namun, dibutuhkan tanggung jawab bersama. Tidak cukup hanya pemerintah, tetapi juga peran keluarga, kader kesehatan, hingga masyarakat.

Kasus di Sukabumi menjadi pengingat bahwa kecacingan bukan sekedar masalah kesehatan anak, melainkan juga persoalan sanitasi dan kesadaran kolektif. Tanpa intervensi menyeluruh, ancaman serupa bisa kembali terulang di berbagai daerah. (AGT/N-01)

Oleh:

(Dosen parasitologi FK-KMK UGM Prof. dr. E. Elsa Herdiana, M.Kes., Ph.D)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Inilah Penyebab Banyak Orang Indonesia Jatuh Miskin di Usia Senja

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat 41,75% lansia di Indonesia berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah. Hal itu membuat lansia terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kerentanan ekonomi.…

Pasien Stroke Butuh Perencanaan Perawatan Lanjutan

DATA menyebutkan stroke saat ini menjadi penyakit nomor 2 dunia yang menyebabkan kecacatan dan menyebabkan 6,5 juta jiwa kematian. Ketidakpastian perawatan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi pasien saat mengalami…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Pelatih Australia Richard Garcia Senang Bisa Juarai Piala AFF U-19

  • June 14, 2026

Montella Kecewa, Turki Kuasai Laga Tapi Kalah dari Australia

  • June 14, 2026
Montella Kecewa, Turki Kuasai Laga Tapi Kalah dari Australia

Pastikan Data PCMB Aman, Pemprov Jabar Minta Maaf Atas Kendala Akses

  • June 14, 2026
Pastikan Data PCMB Aman, Pemprov Jabar Minta Maaf Atas Kendala Akses

Pemkot Bandung Hadirkan 2.361 Peluang Kerja di Job Fair 2026

  • June 14, 2026
Pemkot Bandung Hadirkan 2.361 Peluang Kerja di Job Fair 2026

AFJ Dorong Dirjen PKH Tingkatkan Standar Kesejahteraan Hewan

  • June 14, 2026
AFJ Dorong Dirjen PKH Tingkatkan Standar Kesejahteraan Hewan

Skotlandia Menang, Brasil dan Swiss Tertahan

  • June 14, 2026
Skotlandia Menang, Brasil dan Swiss Tertahan