Gen Z dan Hustle Culture, Antara Ambisi dan Kesehatan Mental

Di dunia kerja modern, istilah “hustle culture semakin sering terdengar  budaya kerja yang menyanjung semangat kerja tanpa henti, seolah kesuksesan hanya bisa diraih lewat lembur, rapat tanpa jeda, dan produktivitas tanpa batas.

Namun, ketika Generasi Z mulai memasuki dunia kerja, pandangan terhadap budaya ini mulai bergeser.

Apa Itu Hustle Culture?

Secara sederhana, hustle culture menggambarkan gaya hidup yang menjadikan kerja keras sebagai identitas diri.
Slogan seperti “grind now, shine later” atau “sleep is for the weak” menjadi simbol generasi yang percaya bahwa waktu istirahat adalah kemewahan.

Budaya ini banyak lahir dari era media sosial, mulai dari influencer, pebisnis muda, hingga pekerja kreatif memamerkan jadwal padat mereka sebagai bukti kesuksesan dan dedikasi.

BACA JUGA  Kasus Timothy Anugerah, Mendiktisaintek: Jadi Refleksi Bersama

Namun, di balik semangat itu, banyak pekerja justru terjebak dalam kelelahan kronis (burnout), stres, dan kehilangan arah hidup.

Generasi Z dikenal ambisius dan cepat beradaptasi dengan dunia digital. Mereka ingin sukses, kreatif, dan berpengaruh.
Tapi berbeda dari generasi sebelumnya, mereka tidak mau mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan pribadi demi karier.

Bagi banyak Gen Z, bekerja keras tetap penting tapi hidup dengan seimbang jauh lebih berarti.
Fenomena seperti “quiet quitting”, “anti-hustle movement”, hingga “slow living” menjadi simbol perlawanan terhadap budaya kerja berlebihan.

“Saya tetap ingin berprestasi, tapi saya juga ingin punya waktu untuk diri sendiri,” begitu kira-kira semangat yang diusung Gen Z.

BACA JUGA  RS Marzoeki Mahdi Dukung Kesehatan Mental Remaja

Dari Hustle ke Healthy Productivity

Fenomena ini membuat banyak perusahaan mulai beradaptasi. Kebijakan jam kerja fleksibel, remote working, dan mental health day kini bukan lagi tren sementara, tapi kebutuhan nyata di tempat kerja modern.

Kesuksesan bagi Gen Z tidak lagi diukur dari jabatan atau gaji besar, melainkan dari rasa puas, kesehatan mental, dan makna dalam pekerjaan.

Hustle culture mungkin telah membentuk semangat kerja generasi sebelumnya, tapi Generasi Z sedang menulis ulang definisi sukses. Mereka tidak menolak kerja keras namun mereka hanya ingin cara kerja yang lebih manusiawi, produktivitas berjalan beriringan dengan kebahagiaan. (*/S-01)

BACA JUGA  UGM Soroti Pemulihan Mental Penyintas Sumatra

Siswantini Suryandari

Related Posts

FH UII Peringkat 1 PTS Nasional Versi THE WUR

FAKULTAS Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) meraih peringkat pertama tingkat nasional untuk kategori perguruan tinggi swasta (PTS) dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) by Subject Law…

PSHK UII Soroti Penggantian Calon Hakim Konstitusi Usulan DPR

DPR RI mengganti nama calon Hakim Konstitusi (MK) usulannya dari Inosentius Samsul menjadi Adies Kadir. Pergantian ini menuai sorotan karena Adies sebelumnya pernah dinonaktifkan sebagai anggota DPR RI terkait kehadirannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

  • January 29, 2026
Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

  • January 29, 2026
Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

KLH Gandeng ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

  • January 29, 2026
KLH Gandeng  ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

  • January 29, 2026
Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

  • January 29, 2026
Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka

  • January 29, 2026
Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka