Wisuda ITB Buktikan Pendidikan Inklusif

SIDANG Terbuka Wisuda Kedua Tahun Akademik 2025/2026 Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Jumat–Sabtu (17–18/4), menghadirkan lebih dari sekadar perayaan akademik.

Di balik toga, senyum dan tepuk tangan, wisuda ini memunculkan satu pesan yang kuat, yakni pendidikan tinggi harus terbuka bagi semua dan tidak boleh meninggalkan siapa pun.

Wisuda ITB kali ini terasa istimewa bukan hanya karena menjadi penanda berakhirnya masa studi para lulusan, melainkan juga karena memperlihatkan sisi kemanusiaan yang begitu kuat.

Doa dan pengorbanan

Salah seorang wisudawan menuliskan kesan bahwa, suasana yang biasanya dibayangkan sangat teknis dan sarat pencapaian intelektual, justru diwarnai oleh kesadaran bahwa keberhasilan seorang wisudawan tidak pernah lahir dari perjuangan yang sepenuhnya individual.

Ada doa orang tua, ada pengorbanan keluarga, ada dukungan sahabat, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai tangan yang ikut menguatkan langkah hingga sampai ke hari bahagia itu.

Pendidikan inklusif itu tampak jelas dari kisah para wakil wisudawan, seperti disampaikan wisudawan Zulfi Akbar Harahap dari Program Studi (Prodi) Sarjana Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan.

BACA JUGA  KLH Gandeng ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

Penuh keterbatasan

Zulfi tumbuh dalam keterbatasan, di mana almarhum ayahnya adalah seorang kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga. Harapan sederhana sang ayah, agar anak-anaknya dapat menjadi sarjana menjadi bahan bakar bagi Zulfi untuk terus berjuang.

“Melalui beasiswa dari CTArsa Foundation, kerja keras dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung,” ucapnya.

Di tengah tantangan itu, Zulfi memilih untuk menjadi pribadi yang gigih, disiplin, dan tahan banting. Pada akhirnya, ia berhasil lulus, bahkan diterima bekerja di perusahaan multinasional, sembari membawa harapan untuk membantu keluarga dan meneruskan cita-cita ayahnya.

Harta yang berharga

Cerita tak kalah haru juga dituturkan Albert Lukas Pithel Hasugian dari Prodi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBMITB), membagikan cerita tentang perjuangannya sebagai anak seorang sopir angkot di Medan.

“Mimpi kuliah di ITB dulu terasa sangat jauh. Namun atas dorongan orang tua dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, serta dukungan beasiswa KIP-K, dosen, mentor, dan teman-teman saya mampu terus melangkah hingga menuntaskan studi. Perjalanan di ITB mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segalanya untuk memulai, cukup memiliki alasan untuk tidak berhenti,” tuturnya.

BACA JUGA  Bio Farma Sebut Pentingnya Inovasi dalam Industri Farmasi

Orang tua Albert selalu meyakinkan ditengah keterbatasan orangtua akan selalu berusaha, dengan memegang filosofi “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” yang artinya bahwa anak merupakan kekayaan atau harta yang berharga.

Kisah Zulfi dan Albert menjadi cerminan bahwa kampus adalah tempat harapan dapat bertumbuh melampaui batas latar belakang sosial dan ekonomi.

Wisuda ini menunjukan bahwa pendidikan tinggi yang bermutu tidak semestinya hanya menjadi milik mereka yang telah mapan. Justru ketika kampus membuka jalan bagi lebih banyak anak bangsa untuk belajar, di situlah ilmu menemukan maknanya yang paling nyata.

Alat membangun bangsa

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara menyebut, hari wisuda bukan hanya milik para lulusan, tetapi juga milik para orang tua, keluarga, sahabat, dosen dan tenaga kependidikan yang telah membersamai perjalanan mereka.

“Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

BACA JUGA  Bantu Cegah DBD, BMKG Luncurkan Produk Layanan DBDKlim di Bali

Dari sanalah kata Tata, muncul semangat bahwa pendidikan harus inklusif, memberi ruang bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk belajar dan bertumbuh. Termasuk pula mereka yang berasal dari keluarga sederhana, seperti anak pekerja bangunan, anak sopir angkot, anak petani kecil, hingga anak pondok pesantren dan lain sebagainya. Tidak ada yang ditinggalkan.

Rektor juga mengajak para lulusan untuk tidak berhenti pada kecerdasan individu.

“Dunia membutuhkan insan-insan yang mampu bekerja sama, menjelaskan gagasan dengan sederhana, mendengar dengan rendah hati, dan menjadikan ilmu sebagai sarana menghadirkan solusi.

Kemajuan bangsa tidak lahir dari orang-orang yang hanya cemerlang secara pribadi, melainkan dari mereka yang mampu berkolaborasi dan menggunakan ilmunya bagi masyarakat,” tandasnya. (zahra/M-01)

Related Posts

Siswa Smamda Diberi Pembekalan Guna Mencegah Kenakalan Remaja

JAJARAN Polresta Sidoarjo memberi pembekalan kepada ratusan siswa baru SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo di Aula KH AR Fachruddin, Senin (20/7). Langkah itu diambil guna membentengi para pelajar dari ancaman…

Kapolda DIY Buka Pendidikan Calon Tamtama Polri

KAPOLDA DIY Irjen Pol. Anggoro Sukartono, membuka secara resmi dimulainya Pendidikan Pembentukan Tantama Polri T.A. 2026 di SPN (Sekolah Polisi Negara) Imogiri, Bantul yang diikuti 299 peserta. Kabidhumas Polda DIY…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jabar Ungkap Kasus Tindak Pidana Judi Online 

  • July 20, 2026
Polda Jabar Ungkap Kasus Tindak Pidana Judi Online 

Telkomsel Hadirkan Nobar Lebih dari 40 Titik di Jabodetabek

  • July 20, 2026
Telkomsel Hadirkan Nobar Lebih dari 40 Titik di Jabodetabek

Polresta Yogyakarta Tangkap Lima Pelaku Pengeroyokan Brutal di Jalanan

  • July 20, 2026
Polresta Yogyakarta Tangkap Lima Pelaku Pengeroyokan Brutal di Jalanan

Puji Program 3 Juta Rumah, REI Sidoarjo Minta Kepastian Regulasi

  • July 20, 2026
Puji Program 3 Juta Rumah, REI Sidoarjo Minta Kepastian Regulasi

Siswa Smamda Diberi Pembekalan Guna Mencegah Kenakalan Remaja

  • July 20, 2026
Siswa Smamda Diberi Pembekalan Guna Mencegah Kenakalan Remaja

Pimpin Apel Gabungan, Wabup Taput Ingatkan Potensi Dampak Hujan Lebat

  • July 20, 2026
Pimpin Apel Gabungan, Wabup Taput Ingatkan Potensi Dampak Hujan Lebat