
BADAN Perencanaan Pembangunan Naional menyebutkan hingga 2030 mendatang, jumlah guru yang pensiun mencapai 60.000 orang per tahun.
“Tahun 2025 Bappenas dalam dokumen revitalisasi LPTK mengindikasikan sekitar 66.188 guru yang pensiun dan hingga 2030 mendatang jumlah guru yang pensiun mencapai angka rata-rata 60.000 orang per tahun,” kata Prof. Dian Artha Kusumaningtyas, SPd., MPd.Si dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ranting Ilmu/Kepakaran Evaluasi Pembelajaran Fisika Universitas Ahmad Dahlan, Sabtu.
Kondisi itu, ujarnya berpotensi menciptakan kekosongan signifikan dalam sistem pendidikan.
Lewat pidato pengukuhannya yang berjudul “Reframing Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi” Prof. Dian mengungkapkan tingginya jumlah guru yang masuk masa pensiun tersebut jika tidak diimbangi dengan perencanaan rekrutmen serta penyiapan guru baru secara sistemik akan sangat berpengaruh pada dunia pendidikan di Indonesia.
Regenerasi
Dikatakan, permasalahan regenerasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah guru yang pensiun, tetapi juga ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan. Data Kemendikbudristek pada tahun 2024, katanya, kekurangan guru secara akumulatif mencapai 1.312.759 orang, yang merupakan konsekuensi dari gelombang pensiun dan terbatasnya rekrutmen pada periode sebelumnya.
Sementara itu, lanjutnya, kapasitas lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan pada satu periode rekrutmen berkisar antara 27.000 – 30.000 orang.
“Angka yang belum sebanding dengan laju pensiun yang dapat mencapai 60.000–70.000 guru per tahun,” jelasnya.
Rasio beban guru
Provinsi-provinsi di Pulau Jawa, lanjutnya menunjukkan rasio beban guru yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Analisis berdasarkan data SMA Negeri memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan tersebut.
Ia kemudian menyontohkan, di tingkat SMA di Jawa Barat jumlah guru mencapai 26.885 orang, jumlah siswa 541.246 orang atau rasio 1:20, Jawa Tengah, jumlah guru 18.396, jumlah siswa 347.588 atau rasio 1:19, Banten jumlah guru 6.596, jumlah siswa 147.612 atau rasio 1:22.
Sementara Sumatera Utara, jumlah guru 16.345, jumlah siswa 252.462 atau rasio 1:15 dan Aceh jumlah guru 12.829, jumlah siswa 122.127 atau rasio 1:9,5.
Distribusi spasial
Ketimpangan ini, jelasnya, menunjukkan persoalan regenerasi guru tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan numerik nasional, tetapi memerlukan perhatian pada distribusi spasial dan beban mengajar.
Prof. Dian lebih lanjut mengungkapkan, dinamika regenerasi guru juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan aspirasi generasi muda dan meningkatnya kompetisi global di bidang pendidikan.
Minat lulusan sekolah menengah untuk melanjutkan studi ke luar negeri ujarnya mencerminkan orientasi global yang semakin kuat.
Sejalan dengan tren internasionalisasi pendidikan tinggi dan mobilitas pelajar di berbagai negara. Motivasi tersebut, imbuhnya, umumnya didorong oleh keinginan memperoleh pengalaman internasional, akses terhadap sistem pendidikan yang dianggap lebih maju, serta prospek karier yang lebih luas.
Guru fisika
Temuan empiris pada siswa Indonesia memperlihatkan kecenderungan tersebut secara lebih konkret.
Secara khusus, Prof. Dian kemudian menyoroti keberadaan guru Fisika. Pada ranah psikologis, animo guru fisika terhadap studi internasional dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
Motivasi intrinsik berkaitan dengan dorongan eksplorasiintelektual dan perluasan wawasan, sedangkan motivasi ekstrinsik terkait peningkatan daya saing profesional, aksesjejaring global, dan legitimasi akademik.
Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi profesional profesional untuk menjaga relevansi kompetensi.
Dari sekitar 360.010 guru SMA, estimasi guru fisika berada pada kisaran 21.600– 25.200 orang. Tanpa kebijakan rekrutmen yang terarah berdasarkan bidang studi, defisit guru fisika dalam dua hingga tiga tahun ke depan menjadi kemungkinan yang realistis.
Bertempat di Amphitarium Gedung Utama Kampus IV UAD, hari Sabtu, Universitas Ahmad Dahlan menggelar pengukuhan 4 Guru Besar baru yang kesemuanya perempuan.
Bersama Prof. Dian, Guru Besar lainnya yang menyampaikan pidato pengukuhan adalah Prof. Dr. Rika Astari, S.S., M.A. (Ranting Ilmu/Kepakaran Bahasa dan Media), Prof. Dr. apt. Wahyu Widyaningsih, S.Si., M.Si. (Ranting Ilmu/Kepakaran Farmakologi dan Toksikologi) serta Prof. Dr. apt. Nina Salamah, S.Si., M.Sc. (Ranting Ilmu/Kepakaran Autentikasi Herbal dan Analisis Halal). (agt/M-01)






