
DEPARTEMEN Pendidikan Kimia FMIPA UNY menerjunkan timnya ke sekolah-sekolah guna memberikan edukasi tentang bahaya makanan minuman berkadar gula tinggi kepada guru.
Salah salah satunya menyelenggarakan edukasi di SD Kanius Jomegatan, pada Sabtu. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim Dr. Das Salirawati dengan anggota Dr. Erfan Priambodo, Metridewi Primastuti, M.Pd., dan Marfuatun, M.Si.
Kegiatan ini juga didampingi oleh mahasiswa, yaitu Jasmine Dwi Andini, Keysha Rahma Darelly, Nafisah Khairul Syifa, Bertania Indah Ayu Kinanti, dan Dhila Alsa Afira.Dr. Das Salirawati menekankan pentingnya memahami batas aman konsumsi gula, khususnya bagi anak-anak.
Dampak negatif
Ia menjelaskan konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak melebihi 5% dari total asupan kalori harian. Untuk anak usia sekolah, batas ini setara dengan sekitar 3 sendok makan gula per hari.
“Konsumsi gula berlebihan dapat memicu berbagai dampak negatif seperti obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan sekitar 25% asupan gula anak berasal dari minuman manis. Oleh karena itu, pembatasan konsumsi minuman dengan tambahan gula menjadi langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan anak sejak dini.
Gaya hidup
Pada kesempatan itu Dr. Erfan Priambodo menyoroti fenomena jajanan anak di era modern yang cenderung tinggi gula. Ia menjelaskan gaya hidup praktis membuat anak-anak lebih memilih makanan dan minuman instan yang mudah didapat dengan harga terjangkau.
“Anak-anak saat ini cenderung tidak memperhatikan dampak kesehatan jangka panjang, selama makanan dan minuman tersebut sesuai dengan selera mereka,” ungkapnya.
Kebiasaan mengonsumsi makanan manis sejak kecil, lanjutnya dapat membentuk preferensi rasa hingga dewasa, sehingga meningkatkan risiko konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang.
Resistensi insulin
Dari sisi ilmiah, Marfuatun, M.Si., memaparkan penjelasan kimia di balik diabetes. Dikatakan, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan kadar gula dalam darah dan mengganggu fungsi insulin.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, tubuh akan mengalami resistensi insulin yang berujung pada Diabetes Melitus tipe 2.
“Dalam jangka panjang, diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan saraf, gangguan ginjal, hingga stroke,” jelasnya.
Dikatakan tren peningkatan kasus diabetes pada anak menjadi perhatian serius. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan kasus diabetes pada usia muda, yang salah satunya dipicu oleh pola konsumsi gula berlebih serta gaya hidup kurang aktif.
Baca kandungan di label
Metridewi Primastuti, M.Pd., dengan materi edukasi tentang cara bijak mengonsumsi gula mengajak siswa dan orang tua untuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman, serta membiasakan membaca label kandungan gula pada produk kemasan.
“Mengurangi konsumsi minuman manis dan menggantinya dengan air putih adalah langkah sederhana namun sangat efektif,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara gula alami dan gula tambahan. Gula alami yang terdapat dalam buah dan sayuran relatif lebih aman dibandingkan gula tambahan yang banyak ditemukan dalam minuman kemasan, sirup, dan makanan olahan.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap dapat meningkatkan kesadaran siswa dan masyarakat tentang pentingnya menjaga pola konsumsi gula.
Edukasi sejak dini dinilai menjadi kunci dalam mencegah berbagai penyakit tidak menular, khususnya diabetes, yang kini mulai banyak menyerang usia muda.
Sejak usia dini
Kepala sekolah SD Kanisius Jomegatan, Theresia Marsinah menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai edukasi tentang bahaya konsumsi gula berlebih sangat penting diberikan sejak usia dini.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim dari UNY yang telah memberikan edukasi kepada siswa. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini, khususnya dalam memilih makanan dan minuman,” ujarnya.(AGT/N-1)






