
DUNIA ilmu pengetahuan dan konservasi kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. Dr. Jane Goodall, DBE, pendiri Jane Goodall Institute, UN Messenger of Peace, sekaligus etolog, konservasionis, dan humanis ternama dunia, wafat pada usia 91 tahun karena sebab alami, Rabu (1/10).
Jane dikenal luas melalui penelitian 65 tahun terhadap simpanse liar di Gombe, Tanzania, yang telah mengubah pemahaman manusia tentang perilaku hewan. Namun di paruh akhir hidupnya, ia memperluas kiprahnya menjadi advokat global untuk hak asasi manusia, kesejahteraan hewan, perlindungan spesies, dan isu-isu lingkungan penting lainnya.
Sejak kecil Jane sudah mencintai alam. Terlahir dengan nama Valerie Jane Morris-Goodall, ia bermimpi pergi ke Afrika untuk mempelajari hewan. Mimpinya terwujud saat bertemu dengan ahli paleoantropologi Dr. Louis Leakey, yang kemudian mengirimnya ke Tanzania pada 1960. Di sanalah Jane membuat penemuan besar bahwa simpanse mampu menggunakan alat temuan yang merevolusi definisi tentang apa artinya menjadi manusia.
Meski awalnya tak memiliki gelar akademik, Louis Leakey membantu Jane menempuh studi doktoral di Cambridge. Disertasinya yang berjudul The Behaviour of Free-living Chimpanzees in the Gombe Stream Reserve (1965) menjadi fondasi riset jangka panjang yang hingga kini masih berlanjut.
Dalam perjalanan hidupnya, Jane menikah dua kali, pertama dengan fotografer satwa liar Hugo van Lawick, kemudian dengan Derek Bryceson, anggota parlemen Tanzania sekaligus mantan Direktur Taman Nasional Tanzania. Ia juga menulis lebih dari 27 buku, tampil dalam berbagai film dokumenter, serta menjadi sosok sentral dalam pameran keliling Becoming Jane yang digelar National Geographic.
Jane Goodall konservasionis yang humanis
Prestasi dan penghargaan yang diterimanya begitu panjang, mulai dari United Nations Messenger of Peace (2002), Dame Commander of the Order of the British Empire (2004), Presidential Medal of Freedom Amerika Serikat, hingga Kyoto Prize Jepang.
Jane juga dikenal sebagai pendiri berbagai inisiatif penting:
- Jane Goodall Institute (1977), kini memiliki 25 kantor di seluruh dunia.
- Roots & Shoots (1991), gerakan lingkungan dan kemanusiaan bagi generasi muda, kini aktif di lebih dari 75 negara.
- Jane Goodall Legacy Foundation (2017), untuk menjaga keberlanjutan program-program yang ia bangun.
Melalui karya dan pengabdiannya, Jane menginspirasi generasi ilmuwan, aktivis, hingga masyarakat luas. Ia kerap mengingatkan, “Setiap orang dapat membuat perbedaan setiap hari—tergantung perbedaan seperti apa yang ingin kita ciptakan.”
Jane meninggalkan seorang putra, Hugo Eric Louis van Lawick (Grub), tiga cucu, serta saudari kandungnya, Judy Waters. Meski menghabiskan lebih dari 300 hari setahun bepergian, rumahnya tetap berada di Bournemouth, Inggris, tempat keluarganya memberikan dukungan hangat sepanjang hidupnya.
Warisan Jane Goodall akan terus hidup melalui penelitian di Gombe, program konservasi berbasis masyarakat Tacare, pusat perlindungan simpanse Chimp Eden di Afrika Selatan dan Tchimpounga di Kongo, serta jutaan anak muda yang tergabung dalam Roots & Shoots di seluruh dunia. (*/S-01)









