Warga Desa Klurak Keluhkan Air Sumur Bau tak Sedap dan Keruh

  • Blog
  • September 10, 2025
  • 0 Comments

WARGA Desa Klurak Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo mengeluhkan air sumur mereka yang mengeluarkan bau tidak sedap dalam sebulan terakhir. Warga menduga bau tersebut akibat pembuangan limbah Pabrik Gula (PG) Candi Baru ke Sungai Mbah Gepuk meski sudah dibantah pihak PG Candi Baru.

Akibat pencemaran tersebut selain bau tidak sedap, air sumur menjadi sedikit keruh dan terasa agak lengket ke kulit. Kondisi seperti itu dialami warga di RT 1 hingga RT 7 RW 2, dan sebagian RW 1 terutama yang rumahnya berdekatan sungai.

“Air sumur mulai tidak enak baunya kami rasakan setiap masa giling tebu, sebenarnya jijik untuk mandi, tapi bagaimana lagi,” kata Setu,72, warga RT 7 RW 2 Desa Klurak, Selasa (9/9).

Beli air

Warga selama ini memang tidak menggunakan air sumur untuk memasak atau minum. Mereka hanya memanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Warga membeli air bersih untuk kebutuhan memasak dan minum.

Namun karena air sumur tercemar, sebagian warga terpaksa harus beli air untuk mandi. Sebagian lagi tetap mandi dengan air sumur yang aromanya bau menyengat tersebut.

“Saya beli air Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari, karena untuk mandi juga, karena kalau mandi dengan air sumur, baunya terasa lengket di badan,” kata Djoni,63, warga lainnya.

Kebutuhan ternak

Sugiono,65, warga RT 4 RW 2, terpaksa juga harus membeli air galon untuk memberi minum empat ekor sapinya. Sebab saat air sumur tercemar, sapi-sapi peliharaannya tidak mau minum air tersebut.

BACA JUGA  2.500 Hektare Lahan Pertanian di Priangan Timur Terancam Gagal Tanam

Sugiono menghabiskan lima hingga tujuh galon air bersih setiap hari hanya untuk kebutuhan ternaknya. Belum lagi kebutuhan keluarga di rumah yang juga harus dipenuhi. Kondisi ini tentu memberatkan, terutama jika berlangsung lama.

“Kalau dihitung-hitung, biayanya cukup besar setiap hari,” kata Sugiono.

Dari pantauan di lapangan, air sungai yang berada di sisi selatan pemukiman warga memang keruh. Warna air sungai menghitam, kotor, dan ironisnya air di sana mengalir pelan atau bahkan tidak mengalir. Genangan air sungai yang kotor dan bau tersebut diduga merembes atau meresap ke sumur-sumur warga.

Akibat kemarau

Pihak PG Candi Baru membantah tudingan warga, karena air sumur yang berubah bukan disebabkan limbah pabrik, melainkan akibat kondisi alam saat musim kemarau. Pada saat debit air sungai menurun, aliran menjadi lambat dan menimbulkan fermentasi alami yang menyebabkan bau tidak sedap.

“Sebelumnya kami perlu menjelaskan, ini bukan limbah dari PG Candi. Hal ini selalu terjadi setiap musim kemarau. Debit air menurun, sungai mengecil, lalu limbah domestik maupun dari perumahan dan UMKM sekitar masuk ke sungai Mbah Gepuk. Ditambah lagi ada aktivitas warga yang membendung sungai untuk pengairan sawah, sehingga aliran melambat dan terjadi fermentasi di sungai,” kata Kepala SDM dan Umum PG Candi Baru, Yoga Aditomo, Rabu (10/9).

BACA JUGA  Sejumlah Wilayah di Indonesia Mengalami Kekeringan Meteorologis

Menurut Yoga, fenomena ini selalu terjadi setiap musim kemarau. Kondisi sungai surut tersebut membuat bau tidak sedap muncul dan air sungai berpotensi meresap ke sumur warga. Namun ia menegaskan, limbah dari PG Candi Baru selalu melalui proses pengolahan sesuai aturan dan hasilnya dilaporkan rutin ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo.

“Yang jelas dari perusahaan memang ada air yang keluar, tapi sesuai ambang batas yang sudah ditentukan. Itu juga kami laporkan secara rutin ke DLHK,” tegas Yoga.

Lakukan penyemprotan

Menindaklanjuti keluhan warga, PG Candi Baru bersama DLHK melakukan penyemprotan cairan probiotik atau bioaktif bernama Ecolindi. Cairan ini diklaim efektif mengurangi bau yang muncul.

“Ini temuan baru bagi kami dan cukup efektif. Semoga bisa membantu mengurangi dampak bau maupun air sumur yang keruh, terutama di sekitar Klurak dan Kebonsari,” kata Yoga.

Selain itu manajemen PG Candi Baru bekerja sama dengan PU Bina Marga dan Desa Klurak akan membersihkan sungai dalam waktu dekat. Mereka membantu proses pembersihan sampah dan tanaman menggunakan alat berat. Sehingga diharapkan air sungai dapat mengalir dengan lancar.

Tunggu hasil lab

Terkait keluhan warga tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Bahrul Amig mengaku sudah menerima laporan. Bahkan pihaknya sudah turun langsung ke lapangan terkait keluhan pencemaran yang diduga berasal dari aktivitas giling PG Candi Baru itu. Tim DLHK juga sudah mengambil sampel dua hari lalu, dan hasil laboratorium diperkirakan baru keluar sekitar 12 hari lagi.

BACA JUGA  BPBD Jateng Salurkan Tujuh Juta Liter Air Bersih untuk Warga

“Telah melakukan pengecekan bersama Camat Candi. Ada pantauan kotor, dan kami akan coba memantau pengelolaan limbah di pabrik gula tersebut,” kata Amiq.

Sambil menunggu hasil uji laboratorium, DLHK juga melakukan beberapa langkah teknis. Mereka melakukan treatment lingkungan menggunakan formula ramah lingkungan untuk mereduksi bau dan mendekomposisi partikel tidak stabil yang berpotensi membahayakan biota maupun manusia.

Amig menambahkan, penerapan metode ecolindi, ecosungai, dan ecosumur dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran, yang nantinya akan dievaluasi perkembangannya. DLHK juga berkoordinasi dengan camat, kepala desa, dan pihak perusahaan, agar ada solusi yang tepat sasaran.

“Tim kami sudah komunikasi dengan PG Candi terus dilakukan, meski yang ditemui bukan pengambil keputusan utama. Besok tim DLHK akan menemui pihak perusahaan secara langsung agar ada langkah konkret dari mereka untuk menindaklanjuti persoalan ini,” tegas Amig. (OTW/N-01)

Penyemprotan ecolindi ke Sungai Mbah Gepuk Desa Klurak Kecamatan Candi Sidoarjo untuk mengurus bau, Rabu (10/9). (MN/OTW)

Dimitry Ramadan

Related Posts

  • Blog
  • July 24, 2026
Sri Sultan Bahas Isu Kebangsaan Bersama Gerakan Nurani Bangsa

GUBERNUR  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menerima silaturahmi para tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) di Keraton Kilen, Kompleks Keraton Yogyakarta, Kamis (23/7)…

Pemkot Bandung Bangun 220 Titik Pengolahan Sampah Berbasis Kewilayahan 

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah melalui pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan. Langkah itu menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

  • August 13, 2026
JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

Tinjau Perlinsos Digital, Menkomdigi Pastikan Bansos Tepat Sasaran dan Bebas KKN

  • August 13, 2026
Tinjau Perlinsos Digital, Menkomdigi Pastikan Bansos Tepat Sasaran dan Bebas KKN

Pemprov Jabar Siaga Cegah Karhutla saat Kemarau

  • August 13, 2026
Pemprov Jabar Siaga Cegah Karhutla saat Kemarau

Bantu Mahasiswa Dapat Pengalaman,Telkomsel Luncurkan Virtual Virtuship

  • August 13, 2026
Bantu Mahasiswa Dapat Pengalaman,Telkomsel Luncurkan Virtual Virtuship

Mahasiswa KKN UGM Ajarkan Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun dan Aromaterapi

  • August 13, 2026
Mahasiswa KKN UGM Ajarkan Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun dan Aromaterapi

Ketika Ilmu Pengetahuan Melintasi Sekat Iman dan Keyakinan

  • August 12, 2026
Ketika Ilmu Pengetahuan Melintasi Sekat Iman dan Keyakinan