Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) berduka atas wafatnya Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch., Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan salah seorang tokoh penting dalam perkembangan pendidikan desain interior di Indonesia. Prof. Widagdo berpulang pada Sabtu (26/9/m), sekitar pukul 21.40 WIB, dalam usia 92 tahun.

Prosesi pelepasan jenazah dilaksanakan di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Minggu (27/9). Prosesi tersebut menjadi penghormatan terakhir atas jasa, darmabakti, dan pengabdian almarhum kepada ITB, masyarakat, bangsa, dan negara.

Prof. Widagdo yang lahir di Solo, 1 Mei 1934 merupakan Profesor Emeritus Desain Interior ITB, pakar estetika dan kebudayaan, serta praktisi desainer.

Almarhum menempuh pendidikan desain interior di Staatliche Akademie der Bildenden Künste Stuttgart, Jerman dan meraih gelar Dipl.Inn.Arch. (Diplom Innenarchitektur) pada 1964.

Modernisme dan tradisi desain Eropa

Pendidikan tersebut membawa pengaruh pemikiran modernisme dan tradisi desain Eropa, termasuk Bauhaus, yang kemudian turut mewarnai pengembangan pendidikan desain di ITB. Beliau kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa, FTSP ITB dan lulus pada 1969.

BACA JUGA  ITB Terima 1.911 Calon Mahasiswa Baru dari Jalur SNBP 2025

Sejak bergabung dengan ITB pada 1965, Widagdo berperan dalam membangun fondasi pendidikan desain interior di Indonesia. Di FSRD ITB, beliau turut merintis kurikulum dan memantapkan Program Studi Desain Interior, serta mengabdikan diri sebagai akademisi, praktisi, dan pemikir desain. Bidang yang ia ajarkan meliputi Desain Interior, Pendidikan Desain, hingga Sejarah Sosial Desain.

Pengabdiannya dalam pendidikan terus berlanjut setelah memasuki masa purnabakti. Beliau masih berkontribusi sebagai dosen luar biasa pada program pascasarjana dengan membimbing mahasiswa magister dan doktor, menguji tesis dan disertasi, serta turut mengawal perkembangan pemikiran dan penelitian seni dan desain di Indonesia.

Rekam jejak

Di luar dunia akademik, Widagdo meninggalkan rekam jejak dalam praktik desain di Indonesia. Salah satu karya monumentalnya adalah keterlibatan dia dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta. Karya tersebut memadukan pendekatan modernisme dengan penggunaan material dan karakter lokal Indonesia.

BACA JUGA  Komedian Temon Meninggal Dunia

Widagdo juga terlibat dalam representasi Indonesia pada pameran internasional. Bersama para senior Seni Rupa ITB, dia berkontribusi sebagai pakar desain dalam pengembangan Paviliun Indonesia, antara lain pada Expo Osaka 1970 dan Expo Sevilla 1992, dengan menghadirkan representasi teknologi tradisional dan kebudayaan Indonesia.

Selain itu, perhatiannya terhadap hubungan antara desain, estetika, kebudayaan, dan modernitas antara lain dituangkan dalam buku Desain & Kebudayaan. Pada 2008, ia juga menyampaikan orasi ilmiah Guru Besar Emeritus bertajuk ‘Membangun Bangsa Menuju Masyarakat Madani: Sebuah Refleksi Setengah Milenium Sejarah Indonesia’.

Dalam pemikirannya, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam kemajuan suatu bangsa. Almarhum juga pernah mengabdi sebagai Ketua Dewan Desain Nasional, Ketua Majelis Kehormatan HDII, dan anggota Dewan Kerajinan Nasional. Pada tahun 2005, ia menerima penghargaan Medali Ganesha Bakti Cendekia Utama ITB.

Abadi

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. saat memberikan penghormatan terakhir saat pelepasan jenazah, mengakui jasa, darmabakti, serta pengabdian almarhum kepada ITB, masyarakat, bangsa, dan negara.

BACA JUGA  Jadi Tuan Rumah KRAI, ITB Siap Lahirkan Talenta Robotik

“Kepergian Prof. Widagdo tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ITB dan dunia pendidikan. Pikiran, tenaga, ilmu, serta keteladanan yang telah beliau berikan akan senantiasa menjadi bagian yang berharga dalam perjalanan institusi ini dan akan abadi,” tuturnya.

Atas nama Keluarga Besar ITB, dirinya menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhum.“Selamat jalan, Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan warisan nilai yang Bapak berikan untuk ITB dan untuk kami semua. Semoga Allah SWT menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutupnya. (zahra/A-01)

Admin

Related Posts

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

AJANG olahraga lari Borobudur 100 tidak hanya menjadi ajang unjuk kebugaran, tetapi juga sarana untuk menggalang kepedulian sosial, guna mendukung kebutuhan medis dan harian anak-anak penyandang cerebral palsy. Project Director…

Kemensos Dorong Transformasi Puskesos Pemberdayaan Sosial di Sleman

KEMENTERIAN Sosial Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial mendorong penguatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Kabupaten Sleman melalui Transformasi Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Pemberdayaan Sosial. Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel, dipilih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

  • September 27, 2026
Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

  • September 27, 2026
Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

  • September 27, 2026
Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

Kota Bandung Alami Kemajuan dalam Pelayanan Publik dan Investasi

  • September 27, 2026
Kota Bandung Alami Kemajuan dalam Pelayanan Publik dan Investasi

128 Peserta Ikuti Kejuaraan Domino ORADO Piala Panglima TNI

  • September 27, 2026
128 Peserta Ikuti Kejuaraan Domino ORADO Piala Panglima TNI

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

  • September 27, 2026
1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy