
UNTUK menghadapi musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mulai melakukan langkah antisipasi, mulai dari pemetaan daerah rawan kekeringan, penyediaan pompa air, hingga penyiapan benih tahan kekeringan.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, Kamis (25/6) menyatakan pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah kawasan pertanian yang berpotensi mengalami kesulitan air saat kemarau, terutama di kawasan timur Kota Bandung.
“Kalau melihat sebaran pertanian sawah, banyak berada di wilayah timur seperti Gedebage, Cibiru, Ujungberung, Buahbatu, Mandalajati dan sekitarnya. Itu menjadi titik-titik yang rawan mengalami kekeringan,” ungkapnya.
Bahkan kata Gin Gin, sejumlah petani di kawasan Rancasari mulai mengeluhkan berkurangnya debit air yang biasa digunakan untuk mengairi lahan pertanian mereka.
Perbaiki akses irigasi
“Petani di Rancasari sudah mulai merasakan air berkurang dan memerlukan bantuan pompa untuk menarik air dari sumber air permukaan. Selain memetakan wilayah rawan kekeringan, pemerintah juga melakukan edukasi kepada petani mengenai teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim,” terangnya.
Langkah lainnya sebut Gin Gin adalah memperbaiki akses irigasi sederhana, menyiapkan sumur dangkal atau sumur pantek, serta menyediakan benih unggul yang memiliki ketahanan terhadap kekeringan dan masa panen lebih cepat.
“Kami juga mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang biasanya muncul saat musim kemarau panjang. Karena ancaman bagi petani bukan hanya kekurangan air, tetapi juga meningkatnya gangguan organisme pengganggu tanaman,” tuturnya.
Bisa dipinjam
Menurut Gi Gin, untuk mendukung kebutuhan air di lapangan, DKPP saat ini memiliki sekitar 30 unit pompa air yang telah disebarkan kepada kelompok tani dan Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Pompa tersebut dapat dipinjam secara gratis oleh petani yang membutuhkan. Mereka hanya perlu menanggung biaya operasional seperti bahan bakar.
“Peralatan kami siapkan gratis. Petani hanya menanggung biaya operasional. Namun kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan tambahan bantuan pompa karena kebutuhan di lapangan cukup besar,” paparnya.
Gin Gin menambahkan, karakteristik pertanian Kota Bandung berbeda dengan daerah penghasil pangan utama karena sebagian besar lahan masih mengandalkan sistem tadah hujan dan belum didukung jaringan irigasi teknis primer. Kondisi tersebut membuat persoalan air menjadi tantangan yang selalu dihadapi petani, bahkan ketika tidak terjadi kemarau panjang.
Pertahankan produktivitas pertanian
“Kota Bandung memang tidak memiliki irigasi teknis seperti daerah pertanian besar lainnya. Karena itu persoalan air menjadi tantangan sehari-hari bagi petani. Saat kemarau datang, upaya yang harus dilakukan tentu lebih besar lagi,” tandasnya.
Meski demikian lanjut Gin Gin, DKPP optimistis berbagai langkah mitigasi yang telah dilakukan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan Kota Bandung selama musim kemarau berlangsung. (zahra/M-01)






