
RIBUAN wajah murung berseragam putih biru itu secara bergelombang keluar dari halaman PT Sri Rejeki Isman ( Sritex ) Tbk sepanjang Jumat (28/2/2025) pagi hingga siang.
Hari itu merupakan hari terakhir mereka bekerja di perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut, yang akan tutup permanen mulai Sabtu, 1 Maret 2025. Mereka terkena PHK massal per 26 Februari 2025.
Senyum getir tidak bisa disembunyikan, meski banyak di antara mereka memaksa diri untuk bertukar tandatangan di seragam yang mereka kenakan, seperti layaknya siswa sekolah merayakan kelulusan bersama teman-teman.
“Ya sedih memang. Masa depan keluarga dipertaruhkan setelah PHK yang jadi kewenangan kurator ini. Tanda tangan teman-teman yang ditorehkan di seragam kaos ini sebagai kenang-kenangan bahwa pernah hidup bersama di Sritex. Hiburan kecil menikmati kesedihan sebelum berpisah,” ungkap Agung, warga Sukoharjo yang bekerja di unit weaving Sritex sejak 2008.
Ungkapan getir yang sama, dituturkan Wagiyem, 49 tahun, ibu satu anak yang merintis di bagian tenun perusahaan raksasa tekstil selama 28 tahun.
Tunggu penjelasan
“Ya sangat berat, sebab anak lagi kuliah, suami juga cuma bekerja buruh. Tapi memang harus diterima, karena kata teman-teman pabrik sudah dipailitkan,” kata dia di warung sebrang pabrik yang akan ditinggalkan selamanya.
Sampai hari terakhir ribuan pekerja melaksanakan kewajiban bekerja di produsen tekstil di Sukoharjo itu, belum ada penjelasan kapan pencairan yang menyangkut hal pesangon, jaminan kehilangan pekerjaan (JKP), ataupun jaminan hari tua (JHT).
” Terakhir yang kita terima dari perusahaan, ya gaji terakhir pada Februari ini. Yang lain belum, seperti pesangon bisa menunggu paling lama 6 bulan, dan hak hak lain seperti JKP dan JHT,” tutur Sulis, pekerja bagian weaving yang sudah bekerja selama 17 tahun.
Efek domino
Dari pantauan di lapangan, selain memunculkan kesedihan dari 8475 pekerja yang dirumahkan permanen, efek domino ekonomi juga menerpa warga sekitar, terutama para pemilik warung makan dan pemilik tempat parkir di sekitar kawasan pabrik. Demikian juga jasa ekspedisi makanan dan juga ojek konvesional maupun ojek online yang sering antar jemput, serta UMKM lain yang selama ini membersamai para pekerja.
Surati, 52 tahun penyewa lahan parkir yang mengaku baru beroperasional selama 1,5 tahun dari kontrak 3 tahun senilai Rp105 juta, juga mengaku kelimpungan. Penghasilan rerata Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu menguap, karena per 1 Maret 2025, pabrik tutup resmi.
“Masih 1,5 tahun lagi, tapi mulai besok pasti sudah sepi. Karyawan kena PHK, dan Sritex resmi ditutup pihak kurator menurut informasi yang disampaikan teman teman serikat buruh,” beber Surati yang menyewa lahan parkir dari Ibu Siti itu.
Bantu jembatani
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Soemarno menegaskan, ribuan pekerja Sritex mengakhiri pekerjaan pada Jumat ini, meski resmi terkena kebijakan PHK sejak 26 Februari 2025.
Disperinaker Sukoharjo lanjut dia, seiring ditutupnya Sritex secara permanen, maka langkah yang dilakukan adalah berkoordinasi dan menjembatani pencairan hak hak pesangon para pekerja, dan juga menyangkut pembayaran jaminan hari tua (JHT) dan jaminan kehilangan pekerjaan ( JKP).
“Yang paling mendesak adalah bagaimana skema pencairan JHT, mengingat yang akan menerima sangat banyak, yakni 8475 orang. Ini tentu memerlukan wakyu tenaga yang luar biasa, apalagi berbarengan dengan Ramadhan yang disusul persiapan lebaran,” kata Soemarno.
Terkait hak JKP yang sebesar 60 persen dari gaji, akan diterimakan dengan beberapa syarat, seperti terdaftar di aplikasi SIAP KERJA. Disperinnaker Sukoharjo memfasilitasi lowongan itu sejak Sritex dipailitkan pada 24 Oktober tahun lalu.
Lowongan kerja
Hingga perusahaan tesktil dan produk tekstil (TPT) yang dibangun keluarga Lukminto ini resmi permanen tutup, Disperinnaker Sukoharjo sudah membuka lowongan pekerjaan bagi 10 ribu lebih di berbagai sektor perusahaan yang ada di Solo Raya.
“Untuk mereka yang baru saja kehilangan pekerjaan di Sritex, boleh dibilang diistimewakan, karena diyakini sudah mempunyai pengalaman kerja . Artinya banyak perusahaan di berbagai sektor yang butuh karyawan baru, tidak akan mempersulit persyaratan,” beber dia.
Sejak Sritex dipailitkan pada Oktober tahun lalu hingga Januari lalu, sudah ada 700 an lebih pekerja yang di PHK awal awal diterima di perusahaan lain yang ada di wilayah Sukoharjo.
“Pasti Disperinndaker Sukoharjo akan terus memfasilitasi mereka yang kena PHK itu, bagaimana mereka masuk di SIAP KERJA, dan cepat ditampun atau diterima di perusahaan yang membutuhkan,” lugas dia.
Hingga Jumat sore, Direktur Utama Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto masih belum bisa dihubungi. Ketika dicoba ditelepon, menolak menerima. (Wid/N-01)







