
INDONESIA menegaskan komitmen kepemimpinan globalnya dalam menghentikan polusi plastik, meski perundingan internasional sesi kelima bagian kedua Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC-5.2) di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan Indonesia akan tetap mengambil langkah konkret. “With or without treaty, Indonesia akan tetap mengambil langkah terencana dan terukur untuk segera menghentikan polusi plastik,” ujarnya, Minggu (17/8).
Perundingan INC-5.2 yang berlangsung 5–13 Agustus 2025 menghasilkan dua draf revisi, namun sidang pleno pada 15 Agustus ditutup tanpa konsensus. Meski sejumlah negara menyampaikan kekecewaan, seluruh pihak sepakat melanjutkan proses ke INC-5.3.
Indonesia mendorong sejumlah prioritas dalam pembahasan, antara lain penghapusan plastik bermasalah dan bahan kimia berbahaya, penerapan desain produk berkelanjutan, penguatan ekonomi sirkular, pencegahan kebocoran plastik di seluruh siklus hidupnya, hingga remediasi dan restorasi ekosistem. Indonesia juga mengusulkan klasterisasi tema pembahasan serta membuka opsi Framework Convention bila konsensus penuh sulit dicapai.
Polusi plastik dicegah dengan pengelolaan sampah baik
Di tingkat nasional, pemerintah menargetkan pengelolaan 100% sampah pada 2029 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Saat ini Indonesia memiliki 250 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), lebih dari 42 ribu TPS3R, serta fasilitas modern seperti biodigester, RDF, dan PLTSa di 33 kota besar. Sebanyak 343 TPA terbuka juga tengah dikonversi menjadi sanitary landfill.
Transformasi ini diperkirakan membutuhkan investasi Rp300 triliun, dengan membuka peluang partisipasi swasta melalui kolaborasi pentahelix—sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
“Menunda penghentian polusi plastik hanya akan memperburuk pencemaran, membahayakan kesehatan, dan menambah beban ekonomi. Hanya melalui persatuan dan kerja sama global kita bisa mewujudkan perjanjian yang efektif dan inklusif,” tegas Hanif. (*/S-01)







