Ketika Del Toro Membuat Frankenstein Lebih Manusiawi

ENTAH sudah berapa ratus film Frankenstein dibuat. Menurut catatan Ensiklopedia, adaptasi pertama kali dirilis pada 1910 silam, sementara beberapa versi terkenal meliputi serial film dari Universal Pictures dan film-film modern seperti Mary Shelley’s Frankenstein (1994) dan Frankenstein (2015).

Dari semua film Frankenstein tersebut, hampir kesemuanya menampilkan kisah horor klasik tentang ilmuwan gila dan monster menakutkan. Sebab dalam novel orisinal Frankenstein, Victor Frankenstein memang digambarkan sebagai ilmuwan ambisius yang menciptakan makhluk hidup dari mayat dan menolak bertanggung jawab atas ciptaannya

Namun dalam film Frankenstein terbaru garapan Guillermo del Toro yang ditayangkan di Netflix, semuanya berbeda dan lebih manusiawi. Meski masih mengadaptasi novel karya Mary Shelley, sutradara peraih Oscar itu melakukan melakukan improvisasi sehingga membuat ceritanya lebih emosional dan punya sisi kemanusiaan.

Didikan orang tua

Di tangan Del Toro, Victor Frankenstein (Oscar Isaac) bertumbuh dari didikan ayahnya yang keras. Alhasil ia pun menjadi pribadi yang arogan.

BACA JUGA  Serial Squid Game Musim Terakhir Tayang Jumat di Netflix

Didikan keras itu lantas ia ulangi pada ciptaannya sendiri. Bukan karena takut, Victor justru memperlakukan sang makhluk dengan kejam sampai berusaha membunuhnya dengan membakarnya hidup-hidup.

Victor kali ini juga ditampilkan sebagai sosok yang menjadi sumber dari seluruh penderitaan. Bahkan, menjelang akhir hidupnya, ia baru menyadari bahwa monster itu sebenarnya adalah dirinya sendiri.

Sinopsis

Film Frankenstein (2025) yang tayang di Netflix. (Dok.Ist)

Kisah dimulai dengan Victor Frankenstein, seorang dokter bedah jenius yang terobsesi menciptakan kehidupan dari kematian. Dia menyusun tubuh monster dari potongan mayat korban perang berkat sokongan dana adiknya, William (Felix Kammerer) dan paman dari istri adiknya (Christoph Waltz).

Namun, hasil ciptaannya yang seharusnya menjadi mahakarya, justru berubah menjadi mimpi buruk. Ketika mahkluk (Jacob Elordi) itu benar-benar hidup, Victor bukannya bangga tapi justru takut. Ia seperti baru sadar bahwa dirinya terlalu memaksa ingin menjadi sang pencipta.

BACA JUGA  NETFLIX Beri Panggung Layar Lebar untuk Lisa BLACKPINK

Di sisi lain, makhluk itu mulai belajar memahami dunia, belajar merasa dan membaca. Dari seorang kakek tua buta, makhluk itu akhirnya mengenal kebaikan, cinta, dan arti kemanusiaan. Termasuk saat dia merasa menyukai isri dari Williams (Mia Goth).

Kesadarannya pun terus tumbuh. Dia yang awalnya cuma tahu dingin dan panas, sekarang tahu lebih banyak. Ia juga sadar dirinya tidak bisa mati.

Penuh empati

Jika di novel makhluk ciptaan Victor itu digambarkan sebagai sosok mengerikan dan kompleks secara moral, namun tidak dalam versi del Toro. Ia justru dihadirkan sebagai karakter yang polos dan penuh perasaan.

Layaknya anak kecil, ia baru belajar memahami dunia. Ia bukanklah monster haus darah, melainkan korban dari ketidakmampuan penciptanya untuk mencintainya.

BACA JUGA  Film sebagai Medium Cerita Warga

Dan di akhir film, jika di novel, Victor diceritakan meninggal tanpa penyesalan, dan makhluk itu berjanji akan mengakhiri hidupnya, di film Frankenstein kali ini, Victor sangat menyesali perbuatannya dan meminta ampun pada makhluk itu.

Mahluk itu pun menerima permohonan ampun tersebut. Dari akhir film itu, kita seperti ingin diingatkan bahwa jangan selalu memandang rupa. Sebab mahluk terburuk pun kadang punay sisi manusiawi

Selain itu, kita juga diingkatkan bahwa didikan orang tua pada seorang anak akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter orang itu saat dewasa nanti. Sehingga ketika ia punya pengetahuan lebih, hal itu bisa menjadi bumerang. (MLN/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Tim Peneliti UGM Kembangkan Lulur Mandi dari Garam Pantai Selatan

TIM Peneliti PSSTK (Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan) Universitas Gadjah Mada mengaku tengah mengembangkan produk inovasi yang berupa lulur mandi berbasis garam laut dan bahan alami dan diberi nama…

Cegah Stunting, UGM dan BRIN Kembangkan Pangan Lokal

TIM peneliti UGM, BRIN dan IDI Gunungkidul serta RS Panti Rahayu Gunungkidul mendorong masyarakat Paliyan, Gunungkidul memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang melimpah di wilayah mereka guna meningkatkan asupan gizi,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

  • July 29, 2026
Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

  • July 29, 2026
Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

  • July 29, 2026
Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

Kontroversi Warnai Penunjukan Mancini Sebagai Pelatih Italia

  • July 29, 2026
Kontroversi Warnai Penunjukan Mancini Sebagai Pelatih Italia

Resmi Jadi Arsitek Prancis, Zidane Diharap Kembalikan Kejayaan Les Bleus

  • July 29, 2026
Resmi Jadi Arsitek Prancis, Zidane Diharap Kembalikan Kejayaan Les Bleus

OTT Bupati Pemalang Disebut Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan

  • July 29, 2026
OTT Bupati Pemalang Disebut  Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan