
OSTEOARTRITIS menjadi salah satu penyakit muskuloskeletal yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak, tetapi juga dapat menghambat aktivitas sehari-hari, memengaruhi kondisi psikologis, serta menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Di tengah dampak tersebut, perempuan menjadi kelompok yang lebih banyak terdampak, dengan sekitar 60 persen orang yang hidup dengan osteoartritis merupakan perempuan.
Kondisi tersebut mendorong Mahasiswa jenjang doktoral FK-KMK UGM sekaligus dokter spesialis anestesi dan terapi intensif, dr. Muhammad Yusuf Hisam, Sp.An-TI., FIP, melakukan penelitian mengenai alternatif manajemen nyeri pada pasien osteoartritis lutut.
Kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik
Hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan bahwa kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal memberikan manfaat tambahan dalam penanganan osteoartritis lutut, terutama pada fungsi, aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup pasien.
Temuan tersebut dipaparkan Yusuf dalam ujian terbuka Program Doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Rabu.
Penelitiannya menunjukkan bahwa pemberian prolotherapy (injeksi non bedah), baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan aktivitas fisik personal, dapat menurunkan kadar biomarker interleukin-1 beta (IL-1β) dan matrix metalloproteinase-3 (MMP-3).
Kombinasi kedua intervensi, ujarnya memberikan hasil yang lebih baik khususnya pada biomarker MMP-3. Pasien yang mendapatkan kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal mengalami penurunan kadar MMP-3 yang lebih signifikan dibandingkan pasien yang hanya mendapatkan prolotherapy.
Belum konsisten
Pengembangan kombinasi tersebut, menurut Yusuf, berawal dari studi pendahuluan melalui systematic review. Kajian dilakukan untuk melihat efektivitas prolotherapy dibandingkan berbagai terapi nonpembedahan dalam penanganan osteoartritis.
Hasil kajian menunjukkan bahwa prolotherapy telah banyak diteliti, tetapi efektivitasnya pada osteoartritis lutut masih belum konsisten dan tidak menunjukkan keunggulan yang signifikan dibandingkan terapi lain, seperti kortikosteroid maupun terapi regeneratif seperti platelet-rich plasma (PRP) dan autologous conditioned serum (ACS).
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Yusuf untuk mengembangkan pendekatan dengan menambahkan intervensi lain pada prolotherapy. Aktivitas fisik personal dipilih karena relatif mudah, murah, dan dapat dilakukan sebagai bagian dari penanganan pasien.
“Kami menilai bahwa perlu ada kebaruan dengan menambahkan salah satu terapi yang mudah, murah, dan bisa dilakukan oleh semua klinisi serta mempunyai dampak yang lebih baik dibandingkan hanya terapi tunggal seperti prolotherapy,” ujarnya.
Tingkat perbandingan
Dalam penelitian tersebut, Yusuf membandingkan pasien yang mendapatkan prolotherapy dengan pasien yang memperoleh kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal.
Penelitian tidak hanya mengevaluasi perubahan biomarker, tetapi juga tingkat nyeri, fungsi, dan kualitas hidup pasien. Tingkat nyeri diukur menggunakan beberapa parameter, di antaranya Visual Analog Scale (VAS) dan Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC).
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada tingkat nyeri berdasarkan VAS. Namun, pengukuran menggunakan WOMAC menunjukkan perbedaan yang signifikan.
“Kelompok yang mendapatkan kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya mendapatkan prolotherapy,” jelasnya.
Lebih konsisten
Manfaat kombinasi tersebut juga terlihat pada aspek fungsi dan aktivitas sehari-hari pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua intervensi memberikan perbaikan yang lebih konsisten pada kemampuan pasien menjalankan aktivitas serta kualitas hidup.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan manajemen nyeri tidak hanya dapat dilihat dari penurunan intensitas nyeri, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk kembali bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Yusuf menyampaikan, temuan tersebut membuka peluang penggunaan kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal sebagai salah satu alternatif dalam manajemen nyeri pasien osteoartritis lutut.
Pendekatan tersebut juga menawarkan intervensi yang relatif mudah dan terjangkau, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat hasil penelitian.
Opsi alternatif
Penelitian lanjutan, menurut Yusuf, dapat dilakukan dengan melibatkan jumlah partisipan yang lebih besar, variasi intervensi yang lebih beragam, karakteristik derajat osteoartritis yang lebih kompleks, serta penggunaan biomarker yang lebih banyak.
“Berdasarkan kesimpulan, intervensi prolotherapy dan aktivitas fisik personal dapat menjadi opsi alternatif pada manajemen intervensi nyeri untuk penderita osteoartritis lutut,” ungkapnya.
Dalam ujian terbuka tersebut, Prof. dr. Yunita Widyastuti, M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.An.Ped(K)., Ph.D. bertindak sebagai promotor dan Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.N., Subsp. NIOO.(K). sebagai ko-promotor.
Ujian juga dihadiri oleh tim penguji internal FK-KMK UGM dan penguji eksternal dari Universitas Airlangga, serta Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) beserta kolega.
Setelah mempertimbangkan hasil ujian, Dekan FK-KMK UGM Yodi menyebutkan Dr. dr. Muhammad Yusuf Hisam, Sp.An-TI., FIP, lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor. Dengan kelulusan tersebut, Yusuf tercatat sebagai doktor ke-7.406 yang lulus dari UGM. (AGT/M-01)






