Konsistensi Kamala Harris terhadap Palestina Diragukan

  • Global
  • July 27, 2024
  • 0 Comments

PARA pembela hak asasi manusia Palestina masih ragu dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kendali Harris jika ia terpilih menjadi Presiden AS nanti.

Sebab setelah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (25/7) lalu, dia menjanjikan dukungan berkelanjutan untuk Israel.

Padahal sebelumnya Wakil presiden yang juga calon presiden dari Partai Demokrat itu menekankan penderitaan warga Palestina di Gaza. Ia mengaku juga tidak akan tinggal diam dalam menghadapi penderitaan warga Palestina, seiring dengan berkecamuknya perang Israel di Gaza.

Namun para aktivis mengatakan bahwa mengungkapkan simpati terhadap warga Palestina tanpa melakukan perubahan berarti dari kebijakan dukungan militer dan diplomatik tanpa syarat AS tidak akan membantu Harris memenangi pemilih yang merasa diabaikan oleh Presiden Joe Biden terhadap perang tersebut.

“Tanpa komitmen nyata untuk berhenti membunuh anak-anak Gaza, saya tidak peduli dengan empatinya terhadap mereka,” kata sosiolog di Universitas Chicago, Eman Abdelhadi.

BACA JUGA  Israel Bertanggungjawab Kematian Komandan Tertinggi Hamas

Dia menekankan bahwa AS memikul tanggung jawab atas kekejaman yang dilakukan terhadap warga Palestina.

“Bersikap empati kepada seseorang yang Anda tembak di kepalanya bukanlah hal yang patut dipuji. Kami tidak membutuhkan empati dari orang-orang ini. Kita membutuhkan mereka untuk berhenti menyediakan senjata dan uang yang secara aktif membunuh orang-orang yang mereka anggap berempati,” sebutnya.

Selain itu, meskipun tanggapan Harris dianggap menyimpang dari retorika Biden, para kritikus berpendapat bahwa wakil presiden tersebut tidak mengartikulasikan posisi kebijakan baru apa pun.

Komit ke Israel

Setelah mengadakan pembicaraan dengan Netanyahu pada Kamis lalu, Harris menyampaikan pernyataan di televisi mengenai konflik tersebut di mana dia menegaskan kembali komitmennya yang teguh kepada Israel dan berjanji untuk selalu memastikan bahwa negara tersebut dapat mempertahankan diri.

“Saya juga menyampaikan kepada perdana menteri keprihatinan serius saya mengenai skala penderitaan manusia di Gaza, termasuk kematian terlalu banyak warga sipil tak berdosa,” kata Harris, seraya menyebut perang tersebut menghancurkan.

BACA JUGA  Imigrasi Bali Deportasi WN AS Setelah Rusak Rumah Warga

“Gambaran anak-anak yang meninggal dan orang-orang yang putus asa dan kelaparan yang melarikan diri demi keselamatan, kita tidak bisa mengabaikan tragedi ini. Kita tidak bisa membiarkan diri kita mati rasa terhadap penderitaan ini, dan saya tidak akan diam,” ujarnya.

Dia juga menyuarakan dukungan terhadap proposal gencatan senjata multi-tahap Biden untuk mengakhiri perang dan membebaskan tawanan Israel di Gaza.

Israel dan Hamas telah melakukan perundingan secara tidak langsung selama berbulan-bulan untuk menyelesaikan perjanjian tersebut, namun sejauh ini belum ada solusi yang ditemukan. Setidaknya di permukaan, nada bicara Harris tampak menyimpang dari pernyataan Biden yang pro-Israel.

“Harris menciptakan jarak dari Biden di Gaza dengan menekankan penderitaan warga Palestina,” demikian bunyi judul utama Washington Post setelah komentar wakil presiden tersebut.

Tidak membuat perbedaan

Namun, Hazami Barmada, seorang aktivis Arab-Amerika yang mengorganisir protes di ibu kota AS untuk menyadarkan situasi di Gaza, mengatakan bahwa pernyataan simpati publik dari wakil presiden tidak membuat perbedaan.

BACA JUGA  Pete Hegseth Calon Menhan AS tidak Tahu Asean Lulusan Harvard

Barmada menekankan bahwa Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan dia melihat anak-anaknya sendiri di wajah anak-anak di Gaza. Namun, departemen Blinken terus menyetujui senjata senilai miliaran dolar untuk Israel.

“Jadi tidak, menurut saya empati saja tidak cukup,” kata Barmada kepada Al Jazeera.

“Kami telah menyaksikan genosida, pembersihan etnis, apartheid, pendudukan ilegal, kekerasan, segala jenis kekejaman yang terjadi terhadap warga Palestina di layar televisi kami selama 76 tahun. Kita perlu melampaui empati dan mengambil tindakan sebelum terlambat,” lanjutnya. (BBC/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

BENCANA gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,4  mengguncang Kolombia bagian barat pada Senin waktu setempat. Akibatnya sebanyak 111 orang tewas  dalam bencana tersebut. Menurut Kolombia, Presiden Abelardo De la Espriella, pihaknya…

Jumlah Korban Meninggal saat Gempa di Jepang Jadi 38 Orang

GEMPA bumi bermagnitudo 7,1 yang melanda Jepang, pekan lalu, masih menyisakan duka. Ribuan warga disebut masih bertahan di tempat-tempat pengungsian. Sementara itu, jumlah korban tewas meningkat menjadi 38 orang. Menurut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

IDN Bantu Tingkatkan Kompetensi Warga di Kawasan Candi Prambanan

  • August 14, 2026
IDN Bantu Tingkatkan Kompetensi Warga di Kawasan Candi Prambanan

Dukung Pengelolaan Sampah, KKN UGM Hadirkan Kompor Roket di Pulau Bawean

  • August 14, 2026
Dukung Pengelolaan Sampah, KKN UGM Hadirkan Kompor Roket di Pulau Bawean

Polsek Sleman Selidiki Pembuang Bayi di Zona Klitikan Pasar Sleman

  • August 14, 2026
Polsek Sleman Selidiki Pembuang Bayi di Zona Klitikan Pasar Sleman

UGM Gandeng Indosat-NVIDIA Luncurkan AI Technology Center

  • August 14, 2026
UGM Gandeng Indosat-NVIDIA Luncurkan AI Technology Center

Kapal Induk Garibaldi Dipastikan Tiba di Tanah Air Tepat Waktu

  • August 14, 2026
Kapal Induk Garibaldi Dipastikan Tiba di Tanah Air Tepat Waktu

Bali United Dapat Pelajaran dari Sabah FC

  • August 14, 2026
Bali United Dapat Pelajaran dari Sabah FC