AS Siap Lanjutkan Perang, Iran Siap Melawan

MENTERI Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth menegaskan pihaknya siap melanjutkan perang dengan Iran jika kesepakatan damai kedua negara tidak tercapai. Hal itu dikatakan Hegseth saat menghadiri konferensi tingkat tinggi pertahanan di Asia, pada Sabtu (30/5).

Dia mengklaim AS sangat mampu untuk melanjutkan perang dengan Iran jika diperlukan. “Kami lebih dari mampu, persediaan kami lebih dari cukup untuk itu, baik di sana maupun di seluruh dunia karena kami punya amunisi canggih yang melimpah,” tegasnya.

Sebelumnya, pada Kamis (28/5), AS dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan melanjutkan negosiasi soal program nuklir Iran. Namun hingga kini kini kedua pihak belum juga menemui kata sepakat.

BACA JUGA  Hasil Imbang Warnai Hari Kelima Piala Dunia

Masih punya drone canggih

PERNYATAAN para pejabat Iran bahwa mereka siap berperang selama berbulan-bulan dengan Amerika Serikat dan Israel bukan bualan belaka
Salah satu rudal Iran yang siap diluncurkan. (Dok.IG)

Sementara itu, Iran menyatakan telah menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menembak jatuh pesawat nirawak atau drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat (AS) di dekat Selat Hormuz awal pekan ini.

Media Iran melaporkan bahwa drone tersebut jatuh di dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Pencegatan tersebut menandai penggunaan tempur pertama dari sistem yang dikembangkan secara lokal bernama Arash-e Kamangir.

Mereka juga menyebut serangan itu sebagai peringatan bagi pesawat musuh yang beroperasi di dekat ruang udara dan perbatasan maritim Iran.

Lakukan penyelidikan

Pada bagian lain, Pemerintah AS juga tengah menyelidiki dugaan penggunaan rudal buatan China oleh Iran dalam penembakan pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS di wilayah barat daya Iran bulan lalu.

BACA JUGA  Akhirnya Hujan Turun di California Selatan Tapi Berpotensi Longsor

Sebab berdasarkan sejumlah sumber, pesawat tempur itu ditembak dengan menggunakan rudal pertahanan udara portabel atau man-portable air defense systems (MANPADS) buatan China.

Selain itu, beberapa pejabat AS juga menduga China kemungkinan memasok radar peringatan dini jarak jauh kepada Iran pada awal konflik. Sistem radar tersebut diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman.

Hingga kini, otoritas Amerika Serikat masih mengumpulkan bukti terkait asal-usul peralatan militer tersebut dan waktu pengirimannya ke Iran.  (*/M-01)

 

Dimitry Ramadan

Related Posts

Otoritas Daerah Prancis Diminta Terapkan Jam Malam

AKSI kerusuhan yang terjadi di Prancis sebagai buntut dari aksi demonstrasi biaya hidup membuat kehidupan di beberapa wilayah negara itu lumpuh. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu pun menyerukan pemberlakuan jam…

Polisi Prancis Tahan 2.400 Orang Terduga Pelaku Kerusahan

SEDIKITNYA 2.400 orang ditahan dalam kerusuhan yang terjadi di Prancis pada Sabtu (17/10). Di sisi lain sekitar 1.000 petugas penegak hukum terluka. Aksi protes besar-besaran terjadi di Prancis pada Sabtu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tingkatkan Layanan, KAI Logistik Hadirkan Fitur Live Chat di Website

  • October 21, 2026
Tingkatkan Layanan, KAI Logistik Hadirkan Fitur Live Chat di Website

Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penyerangan Rombongan Persib U-18

  • October 21, 2026
Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penyerangan Rombongan Persib U-18

Polda DIY Pastikan 32 Peserta Aksi yang Diamankan sudah Dipulangkan

  • October 21, 2026
Polda DIY Pastikan 32 Peserta Aksi yang Diamankan sudah Dipulangkan

Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

  • October 21, 2026
Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

  • October 20, 2026
Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

  • October 20, 2026
Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan