
PEMBANGUNAN Jembatan Aek Mangadian di Desa Manalu Dolok, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara-Sumatra Utara, membawa angin segar bagi para petani.
Akses menuju areal pertanian Kemeyan yang dulunya terisolasi, kini terbuka lebar.
Dengan panjang 9 meter dan lebar 2 meter, jembatan ini menjadi penghubung vital yang memangkas drastis waktu tempuh ke ladang-ladang produktif warga.
Kepala Desa Manalu Dolok, Pardomuan Manalu mengatakan bahwa pembangunan jembatan tersebut menggunakan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2023.
Dan difokuskan untuk mendukung sektor pertanian yang sempat tertinggal akibat sulitnya akses.
“Sebelum jembatan dibangun, petani harus berjalan kaki memutar hingga satu jam lebih. Saat ini hanya butuh waktu 10 sampai 15 menit menggunakan sepeda moto,Ini sangat membantu percepatan aktivitas pertanian,” jelas Pardomuan, Senin (26/5).
Jembatan ini dibangun di atas Sungai Aek Mangadian yang memiliki kedalaman sekitar 15 meter.
Selama ini, warga kesulitan menyeberang terutama saat musim hujan, karena tidak ada sarana penghubung yang memadai.
Dengan terbukanya akses ini, lahan pertanian di kawasan Kemeyan yang sebelumnya tidak tergarap kini mulai diaktifkan kembali.
Petani sudah mulai turun ke ladang membawa alat dan pupuk dengan kendaraan roda dua, yang sebelumnya mustahil dilakukan.
“Ini bukan sekadar jembatan, tapi penghubung harapan. Pertanian akan hidup kembali, hasil panen lebih cepat sampai ke pasar, dan ekonomi desa ikut bergerak,” tambahnya.
Pembangunan jembatan Aek Mangadian menjadi bukti bahwa Dana Desa yang tepat sasaran mampu memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat dan membuka daerah terisolir. (Satu/S-01)








