
KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemlu) mengatakan jika warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh tentara Israel bertambah dua orang. Dengan begitu, total ada sembilan WNI yang diculik oleh pasukan Israel dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah. Sebelumnya Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengungkapkan bahwa ada dua warga negara Indonesia (WNI) di Kapal Kars-1 Sadabat yang diculik Israel.
“Update Asad dan Hendro, konfirmasi intersep kapal Kasr-1 Sadabat. Total sembilan WNI diculik Israel,” kata Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy kepada wartawan, Rabu (20/5/2026).
Berikut 9 WNI yang diculik tentara Israel berdasarkan laporan GPCI:
1. Herman Budianto Sudarsono. (GPCI – Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
2. Ronggo Wirasanu. (GPCI – Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
3. Andi Angga Prasadewa – (GPCI – Rumah Zakat) Kapal Josef
4. Asad Aras Muhammad – (GPCI – Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
5. Hendro Prasetyo. (GPCI – SMART 171) Kapal Kasr-1
6. Bambang Noroyono. (REPUBLIKA) Kapal BoraLize
7. Thoudy Badai Rifan Billah (REPUBLIKA) Kapal Ozgurluk
8. Andre Prasetyo Nugroho – (Tempo) Kapal Ozgurluk
9. Rahendro herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) Kapal Ozgurluk
Minta dibebaskan
Sebelumnya, Kemlu RI mengutuk keras tindakan Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan Misi Kemanusiaan International Global Sumud Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Kemlu mendesak Israel melepaskan seluruh awak kapal Sumud Flotilla yang ditahan.
“Kementerian Luar Negeri mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional,” kata juru bicara 1 Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, dalam keterangannya.
Kemlu mengungkap situasi di lapangan masih dinamis. Keempat WNI lain yang masih berlayar dalam kondisi rentan dan dapat sewaktu-waktu ditangkap Israel.
“Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Keempat WNI yang masih berlayar tersebut tetap berada dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu juga dapat mengalami intersepsi atau penangkapan oleh militer Israel,” katanya.
Lebih lanjut, Kemlu terus melakukan koordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Cairo, KBRI Roma, KBRI Aman, dan KJRI Istanbul. Kemlu juga menyiapkan langkah antisipatif, seperti penerbitan SPLP apabila paspor WNI disita serta dukungan medis apabila diperlukan. (*/M-01)







