
SELAMA kita mungkin hanya menganggap kulit salak sebagai limbah sehingga hanya dibuang begitu saja. Namun di tangan para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta melalui Program Pengenalan Lapangan Kependidikan (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pengolahan kulit salak di Padukuhan Watuadeg, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, limbah itu bermanfaat dan bernilai.
Mereka memperkenalkan bagaimana cara mengolah limbah yang berupa kulit salak tersebut menjadi sesuatu yang berguna.
Dalam kegiatan ini, warga diajak memanfaatkan limbah kulit salak menjadi wedang herbal yang memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus manfaat kesehatan.
Adalah Nirmala Aurelia, Chesna Ganendra Putra Wibowo, Widya Puspita Dewi, Arsya Khalid Mahardika, Fyinn Lika Ambitha, Hasna Izza Luthfia, Ananta Feiza Nery Widowati, Nabila Ilma Yenisa, dan Nanda Olivia Pandjaitan yang memperkenalkan cara-cara mengolah kulit salak menjadi wedang atau minuman yang bermanfaat.
Kandungan kulit salak
Kulit salak diketahui memiliki kandungan flavonoid, tanin, antioksidan, dan serat alami yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan, termasuk membantu menjaga kadar gula darah dan kesehatan pencernaan.
Melalui edukasi ini, mahasiswa tersebut mengenalkan cara sederhana mengolah kulit salak menjadi wedang herbal yang dapat dikembangkan menjadi produk rumah tangga bernilai jual.
Peserta pelatihan diajarkan proses pembuatan wedang kulit salak mulai dari pencucian bahan, pemotongan, pengeringan menggunakan sinar matahari, hingga proses penyeduhan agar menghasilkan cita rasa yang optimal. Mahasiswa juga memberikan informasi mengenai variasi rasa, seperti campuran jahe, kayu manis, serai, hingga madu dan lemon agar produk lebih menarik bagi konsumen.
Diversifikasi produk
Selain pelatihan utama pembuatan wedang kulit salak, mahasiswa turut mengenalkan inovasi olahan lain berupa salak gummy sebagai alternatif produk berbasis buah salak. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas peluang diversifikasi produk olahan salak di masyarakat sehingga hasil panen tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ketua kelompok PLK, Nabila Ilma Yenisa, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka wawasan masyarakat tentang pemanfaatan salak secara lebih menyeluruh, termasuk bagian kulit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kulit salak yang biasanya dianggap limbah ternyata memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Harapannya, warga dapat mengembangkan inovasi ini sebagai peluang usaha sekaligus mengurangi limbah hasil pertanian,” ujar Nabila.
Potensi lokal
Sementara itu, Kepala Dukuh Watuadeg, Eko Sutrisno, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi mahasiswa PLK UNY dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut relevan dengan kondisi wilayah yang memiliki potensi pertanian salak cukup besar.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengetahuan praktis kepada warga tentang cara memanfaatkan potensi lokal secara lebih kreatif. Mudah-mudahan ilmu yang diberikan mahasiswa UNY bisa diterapkan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Eko.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PLK UNY berharap masyarakat Watuadeg semakin inovatif dalam memanfaatkan hasil pertanian lokal, tidak hanya pada buah salaknya, tetapi juga limbah kulitnya yang berpotensi menjadi produk unggulan berbasis pangan lokal. Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi desa. (AGT/M-01)








