Parah! Kata Hijab pun Digunakan untuk Prostitusi

GURU BESAR Ranting Ilmu/Kepakaran Bahasa dan Media Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Rika Astari, S.S., M.A., mengemukakan, kata hijab telah banyak dijadikan branding dan tidak sedikit perempun berhijab yang menjadi bintang iklan pemasaran.

Target merek dengan kata hijab, ujarnya adalah wanita yang berhijab yang bekerja atau pun memiliki kegiatan aktif, cuaca panas, menggunakan hijab membuat wanita berhijab gerah, berkeringat lebih dan berbau.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di Universitas Ahmad Dahlan bersama tiga perempuan lain yang juga menyampaikan pidato pengukuhan, Prof. Rika mengemukakan secara historis, komodifikasi bahasa religi memang sudah ada sejak masa lalu.

Bahkan, imbuhnya ditemukan pula hadis palsu (maudhu’) yang mengaitkan suatu produk dengan bahasa religi, misalnya hadis palsu yang menyebutkan keutamaan khusus memakan semangka atau timun.

BACA JUGA  Sheikalova Hijab, Brand Lokal Asal Tasikmalaya

Menarik minat

“Komodifikasi bahasa religi pada hadis tersebut dengan tujuan untuk menarik minat pembeli dan dagangannya laku,” katanya.

Prof. Rika juga menjelaskan, sebenarnya tidak hanya dalam bahasa religi Islam saja yang digunakan, namun dalam agama lain juga terjadi.
Hal lainnya, katanya, kata hijab juga digunakan untuk menarik konsumen pinjaman onile. Ia menyebutkan ada beberapa iklan pinjaman online yang menampilkan perempuan berhijab.

Prostitusi Online

Yang menyedihkan, lanjutnya, kata hijab juga dilekatkan pada prostitusi online. “Fenomena yang paling ironis adalah munculnya tagar kontradiktif seperti #hijabsexy dan beberapa tagar yang menggunakan bahasa religi yaitu hijab pada konten-konten yang berseberangan dengan nilai substansialnya.

Prof. Rika mencatat, sekurangnya ada 21 topik tagar yang menggunakan kata hijab namun untuk kepentingan promosi prostitusi online.

BACA JUGA  Mahasiswa UNY Ajak Warga Produksi Hijab Motif Eco-Pri

“Hal ini mengubah fungsi hijab dari alat penutup aurat menjadi elemen estetika yang justru digunakan untuk menarik perhatian seksual,” ujarnya.

Dengan demikian, imbuhnya, simbol agama tidak lagi dipandang sebagai representasu ketaatan melainkan sebagai kostum yang meningkatkan nilai jual penyedia jasa dalam pasar gelap prostitusi. Ia menyebut hal itu sebagai layanan tersedia di lokasi spesifik dengan identitas lokal. (Agt/M-01)

Related Posts

UGM Pertahankan Predikat Five Star Plus HURS 2025

UNIVERSITAS Gadjah Mada berhasil mempertahankan predikat Five Star Plus dalam Healthy University Rating System (HURS) 2025 yang diselenggarakan oleh ASEAN University Network–Health Promotion Network (AUN-HPN). Penghargaan tersebut diserahkan dalam 2025…

Angkat Kisah Mahasiswa Penerima KIP, Fapet UGM Raih Peringkat 3 PREA 2026

FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) meraih posisi 3 kategori Teknologi & Digital PR Program dalam PERHUMAS PR Excellence Awards (PREA) 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui program komunikasi digital…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

  • October 21, 2026
Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

  • October 20, 2026
Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

  • October 20, 2026
Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

Polda Jateng Bongkar Jaringan Judi Togel Lintas Wilayah

  • October 20, 2026
Polda Jateng Bongkar Jaringan Judi Togel Lintas Wilayah

Polda Jateng Ungkap Peredaran Miras Ilegal di Karimunjawa

  • October 20, 2026
Polda Jateng Ungkap Peredaran Miras Ilegal di Karimunjawa

Aksi Demo Mahasiswa di Bandung Tuntut Prabowo-Gibran Mundur

  • October 20, 2026
Aksi Demo Mahasiswa di Bandung Tuntut  Prabowo-Gibran Mundur