Sejarah Jalur Gaza Dari Masa Kuno hingga Konflik Modern

SEJARAH jalur Gaza cukup panjang dan penuh konflik, dari zaman kuno hingga konflik modern antara Israel dan Palestina.

Saat ini, wilayah ini masih berada dalam ketegangan tinggi, dengan Hamas yang berkuasa di Gaza dan Israel yang tetap mengontrol sebagian besar aspek kehidupan di sana.

Presiden AS Donald Trump akan menguasai Gaza dan merelokasi dua juta warga Palestina ke negara-negara Arab.

1. Masa Kuno: Jalur Gaza Sebagai Pusat Perdagangan

Jalur Gaza terletak di pesisir Laut Mediterania dan telah menjadi jalur perdagangan penting sejak zaman kuno. Beberapa peristiwa penting pada masa ini antara lain:

  • Masa Mesir Kuno (sekitar 1500 SM): Gaza menjadi bagian dari kekaisaran Mesir sebagai pos perdagangan penting.
  • Masa Filistin (abad ke-12 SM): Wilayah ini diduduki oleh bangsa Filistin, yang sering berkonflik dengan orang Israel dalam cerita-cerita Alkitab.
  • Masa Kekaisaran Romawi dan Bizantium (63 SM-638 M): Gaza menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi dan kemudian Bizantium, menjadi kota Kristen yang penting.
BACA JUGA  Setelah Prancis, Giliran Kanada Bakal Akui Negara Palestina

2. Masa Islam dan Kesultanan Utsmaniyah

  • Masa Penaklukan Islam (638 M): Pasukan Muslim di bawah Khalifah Umar bin Khattab merebut Gaza dari Kekaisaran Bizantium.
  • Masa Kesultanan Utsmaniyah (1517–1917): Gaza menjadi bagian dari Kekaisaran Utsmaniyah selama lebih dari 400 tahun, tetapi tetap merupakan wilayah kecil yang kurang berkembang dibandingkan kota-kota lain di Palestina.

3. Periode Mandat Inggris (1917–1948)

Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh akibat Perang Dunia I, Inggris mengambil alih Palestina berdasarkan Mandat Inggris atas Palestina yang diberikan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Beberapa peristiwa penting:

  • Deklarasi Balfour (1917): Inggris mendukung pembentukan “tanah air nasional bagi orang Yahudi” di Palestina, yang menyebabkan ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi.
  • Peningkatan Imigrasi Yahudi: Banyak orang Yahudi bermigrasi ke Palestina, meningkatkan konflik dengan penduduk Arab.

4. Perang Arab-Israel 1948 dan Kendali Mesir

  • Pada tahun 1947, PBB mengusulkan pembagian Palestina menjadi negara Yahudi dan negara Arab, tetapi rencana ini ditolak oleh negara-negara Arab.
  • Ketika Israel mendeklarasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, negara-negara Arab, termasuk Mesir, menyerang Israel.
  • Hasil perang: Jalur Gaza diduduki oleh Mesir dan tidak dimasukkan ke dalam wilayah Israel.
  • Pemerintahan Mesir (1948–1967): Gaza dikuasai Mesir tetapi tidak dianeksasi secara resmi. Warga Palestina tetap berada di kamp-kamp pengungsi, dan ketegangan meningkat dengan Israel.
BACA JUGA  The Power of All Eyes on Rafah

5. Perang Enam Hari 1967 dan Pendudukan Israel

  • Pada tahun 1967, dalam Perang Enam Hari, Israel mengalahkan Mesir, Yordania, dan Suriah, merebut Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan.
  • Pendudukan Israel (1967–1994): Israel mendirikan pemukiman Yahudi di Gaza dan mengontrol penuh wilayah tersebut.
  • Intifada Pertama (1987–1993): Warga Palestina melakukan perlawanan besar-besaran terhadap pendudukan Israel.

6. Perjanjian Oslo dan Kendali Palestina (1994–2005)

  • Perjanjian Oslo (1993): Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menandatangani perjanjian damai yang memberi Palestina otonomi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
  • Pembentukan Otoritas Palestina (1994): Wilayah Gaza mulai dikelola oleh Otoritas Palestina.
  • Penarikan Israel (2005): Israel secara sepihak menarik semua pemukim Yahudi dan militernya dari Jalur Gaza, tetapi tetap mengendalikan perbatasan, laut, dan udara Gaza.
BACA JUGA  AS Serang Tiga Situs Nuklir Iran, Konflik Kawasan Bisa Meluas

7. Hamas dan Blokade Gaza (2006–sekarang)

  • Pemilu Palestina 2006: Kelompok Hamas memenangkan pemilu di Gaza dan bentrok dengan Fatah (partai yang berkuasa di Tepi Barat).
  • Blokade Israel-Mesir (2007): Setelah Hamas mengambil alih Gaza, Israel dan Mesir memberlakukan blokade ketat, membatasi pergerakan barang dan orang.
  • Konflik Berulang: Sejak 2008, terjadi beberapa perang antara Israel dan Hamas, termasuk pada tahun 2008, 2012, 2014, dan 2021.
  • Krisis Kemanusiaan: Blokade dan perang menyebabkan krisis ekonomi, pengangguran tinggi, serta kekurangan listrik dan air bersih. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

BENCANA gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,4  mengguncang Kolombia bagian barat pada Senin waktu setempat. Akibatnya sebanyak 111 orang tewas  dalam bencana tersebut. Menurut Kolombia, Presiden Abelardo De la Espriella, pihaknya…

Hepatitis Kerap Didengar tetapi Masih Disalahpahami

HEPATITIS merupakan penyakit yang sering didengar, tetapi masih kerap disalahpahami. Penyakit ini kerap dikaitkan dengan gejala kulit dan mata yang menguning. Padahal, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh banyak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

  • August 11, 2026
Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

  • August 11, 2026
Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

  • August 11, 2026
Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

  • August 11, 2026
Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

  • August 11, 2026
Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

  • August 11, 2026
111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia