Kiat Sehat Berpuasa untuk para Lansia

BERPUASA di bulan Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Meski begitu hukum tersebut tidak serta mutlak untuk semua kalangan, salah satunya bagi orang lanjut usia (lansia).

Menjalankan ibadah puasa bagi lanjut usia (lansia) memerlukan perhatian khusus terkait pola makan dan kondisi kesehatan fisik. Direktur RSU Assakinah Medika Sidoarjo dr Adhi Candra Qomaruzzaman, menekankan pentingnya klasifikasi kondisi kesehatan lansia dalam mengatur asupan nutrisi selama Ramadan.

Menurut dr Adhi, secara medis, lansia dibagi menjadi dua kategori, yakni lansia sehat dan lansia dengan penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes.

Bagi lansia sehat, fokus utama adalah pemenuhan kalsium dan protein untuk menjaga kekuatan otot dan tulang, yang bisa didapatkan dari putih telur serta makanan bergizi lainnya.

Peringatan keras

Bagi lansia yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, dr Adhi memberikan peringatan keras untuk menghindari natrium atau garam. Konsumsi makanan asin dan gurih diketahui dapat memicu kenaikan tekanan darah secara signifikan.

BACA JUGA  Memburu Fitrah seusai Berpuasa

“Hindari makanan asin. Sebagai gantinya, konsumsi pisang secukupnya atau jus semangka tanpa gula saat berbuka dapat membantu menurunkan tekanan darah,” tegas dr Adhi.

Sementara itu, bagi penderita diabetes (kencing manis), manajemen gula adalah kunci utama. Lansia dalam kategori ini wajib menghindari gula putih, gula pasir, dan minuman kemasan. Batas aman konsumsi gula harian bagi mereka berada di rentang 25 hingga 40 miligram.

Sebagai solusi, dr Adhi menyarankan penggunaan gula stevia yang mampu memberikan rasa manis tanpa meningkatkan kadar gula darah. Selain itu konsumsi obat-obatan rutin harus tetap dijaga sesuai anjuran dokter.

Bisa dehidrasi

Terkait kebiasaan minum kopi dan teh, dr Adhi membolehkan konsumsi maksimal dua cangkir kecil espresso tanpa gula guna menunjang kinerja jantung. Namun, ia sangat tidak menyarankan konsumsi kafein saat waktu sahur.

“Kopi dan teh bersifat diuretik, yang menarik cairan tubuh dan mengeluarkannya lewat urin. Jika diminum saat sahur, lansia akan lebih cepat mengalami dehidrasi dan rasa haus di siang hari,” kata dr Adhi.

BACA JUGA  Asal Usul Permen Karet Awalnya Diciptakan untuk Hiburan

Kedisiplinan dalam menjaga pola makan bagi lansia yang menjalankan ibadah puasa bukan sekadar anjuran, melainkan keharusan medis. Dr Adhi memperingatkan adanya dampak kesehatan langsung bagi lansia yang nekat melanggar pantangan makanan, terutama bagi penderita hipertensi dan diabetes.

Lansia dengan riwayat darah tinggi yang tetap mengonsumsi makanan asin atau gurih berisiko mengalami gangguan metabolisme yang bermanifestasi pada fisik.

Kaki bengkak

“Dampak yang paling sering terlihat adalah kaki menjadi sering bengkak dan muncul rasa sesak napas atau ngos-ngosan,” ujar dr Adhi.

Kondisi serupa juga mengancam lansia penderita diabetes. Jika mereka tidak patuh mengonsumsi obat dan tetap mengonsumsi makanan manis saat sahur, tubuh akan mengalami penurunan stamina yang drastis.

Pasien cenderung akan merasa letih, lesu, dan lemah (L3), yang menyebabkan mereka hanya ingin tidur sepanjang hari dan kehilangan tenaga untuk beraktivitas menjelang siang hari.

Dalam kesempatan tersebut, dr Adhi juga mengoreksi kebiasaan masyarakat yang sering meminum kopi di waktu mepet berakhirnya sahur atau injure time. Ia menegaskan bahwa kafein memiliki sifat adiktif yang mirip dengan nikotin pada rokok, namun efek sampingnya saat puasa sangat merugikan bagi lansia.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Berkomitmen Tekan Penggunaan Tembakau pada Generasi Muda

Jaga lambung

“Kopi dan teh bersifat menarik cairan dalam tubuh. Jika dikonsumsi saat sahur, apalagi sebagai pembuka atau tanpa makan terlebih dahulu, akan memicu frekuensi buang air kecil yang tinggi,” jelasnya.

Bagi lansia yang sudah terbiasa mengonsumsi kafein, dr Adhi menyarankan agar waktu minum kopi digeser ke malam hari setelah berbuka puasa. Ia juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan utama terlebih dahulu sebelum meminum kopi untuk menjaga lambung.

Serta sangat dianjurkan untuk tidak menambahkan gula pasir guna menjaga kadar gula darah tetap stabil. (OTW/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Lewat Autism Awarness Day, Masyarakat Diharap Hapus Stigma Autisme

WALI Kota Bandung, Muhammad Farhan mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap autisme. Hal itu disampaikannya saat acara World Autism Awareness Day 2026 Senin (13/4). Farhan menyebut, peringatan tidak cukup hanya…

Zero TB Yogyakarta Gelar ACF di Gunungkidul

DINAS Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Zero TB Yogyakarta menggelar ACF (Active Case Finding)  untuk menemukan kasus tuberkulosis atau TBC di Gunungkidul. Kegiatan ACF yang dilakukan Zero TB…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Timnas Indonesia Gasak Timor Leste, Vietnam Cukur Malaysia

  • April 13, 2026
Timnas Indonesia Gasak Timor Leste, Vietnam Cukur Malaysia

Lewat Autism Awarness Day, Masyarakat Diharap Hapus Stigma Autisme

  • April 13, 2026
Lewat Autism Awarness Day, Masyarakat Diharap Hapus Stigma Autisme

Walhi Jabar Nilai Pemkab Bandung Gagal Atasi Bencana Banjir 

  • April 13, 2026
Walhi Jabar Nilai Pemkab Bandung Gagal Atasi Bencana Banjir 

Zero TB Yogyakarta Gelar ACF di Gunungkidul

  • April 13, 2026
Zero TB Yogyakarta Gelar ACF di Gunungkidul

Imigrasi Surabaya Amankan 3 WN Tiongkok dalam Operasi Wirawaspada

  • April 13, 2026
Imigrasi Surabaya Amankan 3 WN Tiongkok dalam Operasi Wirawaspada

Bidang Ilmu Kimia UGM Masuk Peringkat 2 Nasional

  • April 13, 2026
Bidang Ilmu Kimia UGM Masuk Peringkat 2 Nasional