Pentingnya Literasi Kesehatan Mental untuk Cegah Bunuh Diri

DUA pegawai di Provinsi Jawa Barat ditemukan meninggal akibat bunuh diri dalam sehari pada Rabu (11/2) silam. Aksi tersebut terjadi di Karawang dan Kota Bandung.

Kejadian tersebut sontak membuat masyarakat di Jawa Barat terkejut dan menyisakan duka yang mendalam bagi kedua keluarga serta kerabat korban. Dilansir dari data Pusiknas Bareskrim Polri, tercatat 1.270 kasus bunuh diri di Indonesia terjadi sejak 7 November 2025, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus per bulan.

Puncaknya terjadi pada bulan Oktober 2025 dengan jumlah mencapai 142 kasus. Dari sekitar 7,66% kasus bunuh diri terjadi pada remaja berusia di bawah 17 tahun.

Sementara kelompok usia yang paling rentan melakukan aksi bunuh diri adalah masyarakat dengan usia produktif, yaitu 30-59 tahun, dengan jumlah sekitar 594 orang.

Lima kategori profesi

Pusiknas juga mengidentifikasi lima kategori profesi dengan jumlah kasus bunuh diri paling banyak. Para petani menempati urutan pertama dengan 107 orang, diikuti oleh karyawan swasta sejumlah 91 orang, dan wiraswasta 83 orang.

Sementara itu, buruh harian lepas tercatat sebanyak 54 orang, dan yang tak kalah memprihatinkan adalah pelajar atau mahasiswa dengan jumlah kasus bunuh diri ditemukan mencapai 50 orang.

BACA JUGA  OJK Gandeng Pemkot Tasikmalaya Luncurkan Program CAANG

Menanggapi kasus tersebut, Manager Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M. Psi., Psikolog, menegaskan bahwa angka tersebut hanya bagian dari gambaran sebenarnya, bukan data seutuhnya.

Menurutnya, laporan kasus bunuh diri di Indonesia cenderung masih rendah dan banyak under-reporting, sehingga kasus tidak terlapor bisa jadi lebih banyak daripada angka resmi saat ini.

“Tahun 2025, angka bunuh diri sudah mencapai lebih dari 1.000 kasus di Indonesia, jadi, sudah sepatutnya hal tersebut dijadikan semacam ‘wake-up call’ yang serius bagi masyarakat,” ujarnya, Kamis (26/2).

Tekanan psikologis

Nurul menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat sejumlah hal penting akibat tekanan psikologis yang semakin kompleks.

“Beban ekonomi, psikologis, tuntutan sosial, hingga tekanan akibat tuntutan gaya hidup dan harapan yang tinggi yang tidak terkelola dengan baik menjadi salah satu bentuk kompleksitas masyarakat sosial saat ini,” ungkapnya.

Dia menegaskan bahwa tidak semua individu dengan masalah atau gangguan mental mendapatkan akses penanganan psikologis yang memadai. Angka kasus bunuh diri saat ini kata dia, bukan hanya statistik, tetapi merupakan kebutuhan krusial untuk meningkatkan literasi kesehatan mental, dan membangun sistem kesehatan mental yang terintegrasi, yang mencakup upaya promosi, prevensi, kurasi, dan rehabilitasi di keluarga, masyarakat/komunitas, sekolah, tempat kerja, maupun layanan kesehatan.

BACA JUGA  Kenali Duck Syndrome dan Cara Mengatasinya

Tanggung jawab ganda

Terkait dengan para pelaku bunuh diri berasal dari kelompok usia produktif, Nurul menyebut fase ini secara umum adalah fase hidup yang produktif, namun penuh dengan beban dan tanggung jawab.

Fase ini acapkali disebut sebagai fase “tanggung jawab ganda” di mana karier sedang berada di puncak tuntutan dan komitmen, sementara di sisi lain tanggung jawab terhadap diri dan keluarga juga sedang besar-besarnya.

Pada kelompok usia ini, tekanan seringkali tidak bersumber dari satu masalah saja, namun sudah merupakan akumulasi dari berbagai hal mulai dari tekanan yang kronis, tuntutan tanggung jawab yang tidak bisa dihindari, dan minimnya ruang aman untuk sekedar bercerita tentang kelelahan emosionalnya.

“Pada fase-fase produktif tersebut, mereka cenderung lebih rentan mengalami masalah atau gangguan kesehatan mental, salah satunya membuat mereka berpikir untuk melakukan tindakan ekstrem sebagai bentuk penyelesaian,” ujar Dosen Fakultas Psikologi UGM ini.

Upaya sistematis

Untuk melakukan proses pencegahan bunuh diri, diperlukan upaya secara sistematis dengan melibatkan seluruh pihak, seperti keluarga, masyarakat, tempat kerja, institusi pendidikan, serta pihak pengambil kebijakan.

BACA JUGA  Tingkatkan Minat Masyarakat, Din Arpus Kabupaten Brebes Cari Duta Baca

“Kalau dilansir dari WHO, pencegahan bunuh diri yang efektif harus berbasis komunitas dan multi sektor. Ini merupakan tanggung jawab bersama.” tegasnya.

Nurul menyarankan sejumlah alternatif langkah preventif di lingkup kehidupan sosial. Di tingkat keluarga, orang dewasa harus menjadi “safe adult” yang menyediakan ruang aman bagi seluruh anggota keluarga.

Perluas layanan kesehatan

Di sekolah, tingkat literasi kesehatan mental masih perlu dikembangkan. Terakhir, akses layanan kesehatan mental harus meluas dan merata ke seluruh daerah.

Ia juga menjelaskan bahwa rasa kepedulian dari keluarga, empati dari masyarakat, pemerintah yang responsif, serta profesional tersedia, maka fondasi kesehatan mental yang kuat dapat terbangun dengan baik.

“Pencegahan bunuh diri ini bukan sekedar langkah heroik menyelamatkan satu nyawa, namun jauh lebih kompleks dari itu, merupakan langkah sistemik yang membuat masyarakat merasa lebih aman, ada jaminan, dan tidak merasa ditinggalkan,” ungkapnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Wamendagri Puji Inovasi Penanganan TB Jateng

WAKIL Menteri Dalam Negeri Ahmad Wiyagus terkesan dengan model penanganan tuberculosis (TB) di Provinsi Jawa Tengah. Dia bahkan meminta agar model penanganan TB di Jawa Tengah menjadi model yang harus…

Siaga TBC, Sekda Jateng Dorong Percepatan Eliminasi

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah mendorong percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) melalui penguatan skrining, pengobatan, dan pencegahan hingga tingkat desa. Hingga 9 Oktober 2026, baru 421 dari 8.563 desa/kelurahan di Jateng yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Kalog Raih Penghargaan Sector Champion Logistik

  • October 15, 2026
Kalog Raih Penghargaan Sector Champion Logistik

KPK Jerat Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam Operasi Tangkap Tangan

  • October 15, 2026
KPK Jerat Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam Operasi Tangkap Tangan

Presiden Prabowo Lantik Yusuf Jauhari dan Richard Tampubolon Jadi Wamenhan

  • October 15, 2026
Presiden Prabowo Lantik Yusuf Jauhari dan Richard Tampubolon Jadi Wamenhan

Kondisi Haji Umuh Dilaporkan Ngedrop Usai Laga Persib vs Viettel

  • October 15, 2026
Kondisi Haji Umuh Dilaporkan Ngedrop Usai Laga Persib vs Viettel

Barantin Petakan Risiko Operasional Karantina se-Jawa

  • October 15, 2026
Barantin Petakan Risiko Operasional Karantina se-Jawa

Merger BPR di Magelang Diharap Kerek Pembiayaan UMKM

  • October 15, 2026
Merger BPR di Magelang Diharap Kerek Pembiayaan UMKM