
FILANTROPI dinilai memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah mencapai target Net Zero Emission. Isu ini menjadi fokus utama dalam diskusi bertema “Memimpin Filantropi Menuju Net Zero: Dari Kesadaran ke Aksi Kolektif untuk Membangun Komitmen Filantropi Indonesia” yang digelar Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Association of Carbon Emission Experts Indonesia (ACEXI) di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (8/8).
Diskusi ini membahas tantangan yang dihadapi sektor filantropi, mulai dari rendahnya pemahaman teknis hingga belum adanya panduan kolektif untuk strategi transisi rendah karbon. Di sisi lain, peluang yang ada cukup besar, antara lain meningkatnya kesadaran publik, kekuatan jaringan PFI, serta dukungan teknis dari berbagai mitra.
Hadir sebagai pembicara kunci Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. Narasumber lainnya meliputi perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Wahyu Marjaka, Senior Partner Firma Hukum UMBRA Kirana Sastrawijaya, CEO Indika Foundation Azis Armand, Presiden Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari, Ketua Badan Pengurus PFI Rizal Algamar, serta Ketua Umum ACEXI Lastyo Kuntoaji Lukito.
Rizal Algamar menegaskan PFI yang beranggotakan 240 organisasi dan 280 mitra, dengan lebih dari 8.000 partisipan program rutin, memiliki peran vital dalam menjembatani kesenjangan pembiayaan, memperkuat kapasitas lokal, dan mempercepat inovasi yang berpihak pada keadilan iklim.
“Pendekatan berbasis alam dan perhitungan emisi karbon bukan hanya mengurangi risiko iklim, tapi juga menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang, ketahanan sosial, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Filantropi kekuatan Indonesia
Dalam forum ini, PFI meluncurkan PFI Net Zero Commitment Charter, inisiatif strategis untuk membangun komitmen kolektif dalam pengendalian perubahan iklim yang inklusif dan berbasis komunitas. ACEXI mendukung penuh dengan menyediakan tenaga ahli, pendampingan, dan program kolaborasi.
Kerja sama ini diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Rizal Algamar dan Lastyo Kuntoaji Lukito. Lastyo menekankan bahwa transisi menuju Net Zero adalah keharusan strategis sekaligus etis.
“MoU ini mencakup pemilihan lokasi kerja, pembentukan kelompok kerja PFI, penyusunan peta jalan, serta kolaborasi masif dengan masyarakat,” jelasnya.
Wahyu Marjaka menambahkan, keberadaan PFI dapat mengurangi ketergantungan pada pendanaan luar negeri. Potensi penguatan filantropi untuk Net Zero karbon di berbagai wilayah Indonesia, menurutnya, bisa mendorong ekonomi domestik dengan nilai hingga US$15–17 miliar.
Kolaborasi PFI dan ACEXI ini menjadi langkah awal membangun ekosistem Philanthropy Net Zero di Indonesia, mengintegrasikan sumber daya pemerintah, swasta, masyarakat, dan media untuk mendukung target iklim nasional. (*/S-01)







