Ada Sejumlah Opsi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat

MENTERI Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan ada sejumlah opsi  guru yang akan mengajar di Sekolah Rakyat. Opsi guru tersebut bisa lewat penugasan dari ASN atau guru yang telah bersertifikat pendidikan profesi guru.

“Dua itu yang masih dimatangkan,” kata Gus Ipul di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/3/).

Dia menuturkan perencanaan perekrutan guru dan kurikulum Sekolah Rakyat sudah mencapai tahap final. Satgas dipimpin oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen).

“Kurikulumnya sudah cukup matang yang memimpin adalah Dikdasmen,” ujarnya.

Ia juga memastikan tata kelola Sekolah Rakyat dengan sekolah-sekolah lainnya tidak akan ada kesenjangan. Sebab, pengelolaan Sekolah Rakyat juga bekerja sama dengan kementerian lain.

BACA JUGA  Usul dan Sanggah Bansos Bisa Lewat Command Center 021-171

“Dikti juga, Kementerian Dikdasmen. Jadi ini juga adalah sekolah pemerintah gitu. Yang penyelenggaranya pemerintah, jadi kita keroyokan,” kata Mensos.

Ia mengatakan saat ini terdapat 53 Sekolah Rakyat yang siap beroperasi pada tahun ajaran 2025-2026. Sebanyak 82 Sekolah Rakyat masih dalam tahap asesmen bangunan hingga tanah.

Ia menyebutkan saat ini ada 200 titik usulan bangunan atau lahan kosong dari Pemda untuk Sekolah Rakyat.

“Jumlah sekarang ada 82 yang akan dimulai proses asesmennya oleh Pekerjaan Umum (PU),” katanya.

Dalam pembangunan Sekolah Rakyat, kata Gus Ipul, pemerintah tak hanya menggunakan APBN tapi akan melibatkan swasta untuk membangun sarana dan prasarana.

“Sarana prasarana nanti yang membangun PU, bukan Kementerian Sosial,” katanya.

BACA JUGA  Mensos: Masuk Sekolah Rakyat Siswa Akan Jalani Talent Test

Mensos menambahkan saat ini masih menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk kebutuhan Sekolah Rakyat. Perhitungannya akan disesuaikan dengan biaya operasional per orang.  “Jadi, per orang itu berapa nanti kami sampaikan,” katanya.

Tiap wilayah akan memiliki perhitungan yang berbeda. Sebab, ada jenjang pendidikan yang berbeda. “Kalau SMA, SMP, SD kan beda-beda ya, belum sama maksudnya, setiap daerah indeksnya berbeda-beda,” pungkasnya. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) berduka atas wafatnya Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch., Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan salah seorang tokoh penting dalam perkembangan pendidikan desain interior…

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

AJANG olahraga lari Borobudur 100 tidak hanya menjadi ajang unjuk kebugaran, tetapi juga sarana untuk menggalang kepedulian sosial, guna mendukung kebutuhan medis dan harian anak-anak penyandang cerebral palsy. Project Director…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polresta Sleman Selidiki Kasus Pembuangan Bayi

  • September 27, 2026
Polresta Sleman Selidiki Kasus Pembuangan Bayi

Muzani Tegaskan UUD 1945 tak Bisa Diubah Secara Gegabah

  • September 27, 2026
Muzani Tegaskan UUD 1945 tak Bisa Diubah Secara Gegabah

Sleman Siap Gelar Musyawarah Kalurahan Pergantian Lurah Antarwaktu

  • September 27, 2026
Sleman Siap Gelar Musyawarah Kalurahan Pergantian Lurah Antarwaktu

Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

  • September 27, 2026
Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

  • September 27, 2026
Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

  • September 27, 2026
Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit