Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Sulit Diterapkan di Indonesia

KEBIJAKAN-kebijakan pemerintah yang bersih dan berwibawa seperti pengawasan melekat, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) sangat sulit diterapkan.

“Penyebab utamanya adalah patologi birokrasi, rendahnya profesionalisme pegawai negeri, kebijakan pemerintah yang kurang transparan, kurang akuntabel, “ kata Prof Johan Arifin, Rabu (4/12).

Johan Arifin adalah profesor Ilmu Akuntansi Sektor Publik Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia.

“Selain itu keengganan terhadap kontrol sosial, kurangnya manajemen partisipatif dan menyebarnya konsumerisme serta ideologi hedonis,” lanjut Johan Arifin.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor di kampus UII Jl Kaliurang Sleman, Johan Arifin mengungkapkan berbagai slogan anti KKN sulit diterapkan.

“Kini hanya digunakan oleh pejabat pemerintah/negara sebagai sarana meredam kemarahan rakyat terhadap politik kekuasaan,” ujarnya.

Hal ini, ujarnya telah menjadi bahan basa-basi dan retorika bagi pihak berwenang.

“Hebatnya, masyarakat tidak pernah merasa bertanggung jawab secara layak terhadap pihak berwenang yang diberi wewenang oleh mereka,” ungkap Johan Arifin.

BACA JUGA  Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII Ganti Nama Jadi FTDI

“ Akibatnya, kita tidak pernah merasa memiliki pemerintahan yang bertanggung jawab,” katanya.

Menurutnya keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai transparansi dan akuntabilitas akan sangat penting dalam upaya meningkatkan tata kelola dan manajemen kekuasaan di Indonesia.

Oleh karena itu, membangun Indonesia yang baru dan lebih baik memerlukan upaya serius untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik.

Transparansi dan akuntabilitas penting tidak hanya dalam penyelenggaraan pemerintahan saja, tetapi juga dalam pengelolaan pelayanan publik.

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme penyakit birokrasi

Johan mengingatkan saat ini disinyalir terdapat banyak permasalahan pada lembaga sektor publik di Indonesia, di antaranya adalah perihal birokrasi pada lembaga pemerintahan.

Dalam suatu pemerintahan, birokrasi merupakan sebuah unsur yang paling penting. Fatanya birokrasi dikenal sebagai pihak yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk berbagai keperluan.

Mulai dari administrasi, komunikasi, penegakan peraturan, serta berbagai macam bentuk perizinan lainnya.

“Birokrasi merupakan penggerak utama penyelenggaraan negara, dan misi serta fungsinya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA  Ahok Diperiksa KPK dalam Kasus Korupsi LNG

Berbagai hal negatif potensial muncul terkait dengan birokrasi ini misalnya peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis, oknum birokrasi ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai dengan kompetensinya,.

Juga kewenangan yang tumpang tindih (overlapping) sehingga memunculkan kecenderungan

penyalahgunaan kewenangan oleh birokrat dan berbagai hal negatif lainnya.

Menurutnya Indonesia pada saat ini sedang mengalami kontraksi dan kemunduran demokrasi.

Adanya penyempitan ruang publik yang dilakukan oleh negara dengan institusi demokrasi mengarah ke sistem otoriter.

Dengan institusi yang sangat tersentraluisasi dan tidak ada jaminan kebebasan.

“Ini yang menjadi pertanyaan bangsa Indonesia, seperti di mana demokrasinya? Siapa yang paling bertanggung jawab atas berkurangnya ruang publik di Indonesia? Apakah hanya pemerintah atau masyarakat saja?,” ujarnya.

Pemerintah daerah harus tanggungjawab

Menurut Johan Arifin yang bertanggungjawab terjadinya penyempitan ruang publik adalah pemerintah daerah.

BACA JUGA  UII Nilai Draft RUU KKS Berisiko Picu Overreach Negara

Badan-badan yang bertanggungjawab atas keamanan, pengelola ruang umum dan masyarakat itu sendiri.

Johan mengingatkan penyakit birokrasi yang muncul di negeri ini antara lain penyalahgunaan wewenang dan penyalahgunaan jabatan, suap, sogok.

Serta pertentangan kepentingan, arogansi, intimidasi, nepotisme dan kredibilitas rendah.

“Masih ada yang lain, yakni kurangnya pengetahuan dan keterampilan para petugas di berbagai kegiatan operasional, korupsi,” katanya.

Berdasarkan faktor sejarah, patologi birokrasi akut di Indonesia disebabkan oleh budaya birokrasi yang dipertahankan di sektor pemerintahan selama bertahun tahun.

Pada masa kolonial, birokrasi dipandang sebagai simbol royalti bagi pejabat/aparatnya yang harus menerima pelayanan atas jabatannya.

Budaya Pangreh Praja, abdi pemerintah yang ada pada birokrasi dinasti nusantara, menciptakan budaya  bawahan harus mengabdi pada penguasanya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyoroti dilema dan ketidakadilan yang dihadapi insan pers di tengah perkembangan media sosial. Di satu sisi, jurnalis dituntut menjunjung tinggi etika, kebenaran, dan independensi.…

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

INDONESIA menghadapi beban dengue yang masih tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

  • October 29, 2026
Silmy Karim Didakwa  Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

  • October 29, 2026
Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

  • October 29, 2026
Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

  • October 29, 2026
Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

  • October 29, 2026
Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

  • October 29, 2026
Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue