Waduh! Penyakit TBC di Indonesia Peringkat Kedua Dunia

PENYAKIT Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi, mencapai sekitar 12-14 orang  setiap jam.

Meski berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan, Indonesia  masih menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC. Hal itu disampaikan oleh dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K) dalam podcast TropmedTalk yang  diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS).

Dalam  podcast episode ke-37 tersebut, dr. Rina menyampaikan bahwa penyebutan angka kematian tersebut diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap TBC.

“Ini sama bahayanya dengan COVID,” ujarnya.

Dianggap sepele

Namun karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya.

Ia menjelaskan bahwa gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman, melainkan baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4-12 minggu.

BACA JUGA  Cegah Superflu, Warga Bandung Diminta Jaga Kesehatan

Kondisi ini memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat.dr. Rina juga menyampaikan  bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan estimasi mencapai 1.090.000 kasus.

Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menegaskan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.

Namun, peningkatan tersebut  juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi.

Tantangan geografis

Ia pun menyoroti sejumlah tantangan dalam upaya pengendalian TBC di Indonesia. Selain faktor geografis yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah, stigma di masyarakat juga masih menjadi hambatan besar.

Tidak sedikit orang yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis TBC, bahkan khawatir akan kehilangan pekerjaan. Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien.

BACA JUGA  Itjen Kemenkes Apresiasi Aplikasi Logbook

Untuk menjawab tantangan tersebut, dr. Rina yang juga menjabat sebagai  Direktur Zero TB Yogyakarta, menjelaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanggulangan TBC melalui strategi search, treat, and prevent.

Pendekatan ini mencakup penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.

“Namun upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan sektor kesehatan saja,” imbuhnya.

Keterlibatan swasta

Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal.

Terkait hal ini, dr. Rina mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Salah satunya melalui penerapan ACF dengan memanfaatkan rontgen portabel yang telah didistribusikan ke berbagai daerah.

“Ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya.

BACA JUGA  Wamenkes Sebut Penanganan TBC di Sleman Bisa Jadi Contoh

Ia juga menyoroti rencana pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang mengintegrasikan pemeriksaan TBC dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Periksakan diri ke dokter

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dan penanganan kasus di masyarakat.  dr. Rina menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC.

Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan serta bukan merupakan penyakit keturunan juga perlu terus disosialisasikan guna mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan berobat dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia. (AGT/M-01)

Related Posts

Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang

WARGA Okinawa, Jepang selama ini selalu memegang teguh prinsip hara hachi bu. Dengan menerapkan prinsip itu, warga Okinawa memiliki usia harapan hidup yang tinggi, yakni 80 tahun. Prinsip Hara Hachi…

Lewat Autism Awarness Day, Masyarakat Diharap Hapus Stigma Autisme

WALI Kota Bandung, Muhammad Farhan mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap autisme. Hal itu disampaikannya saat acara World Autism Awareness Day 2026 Senin (13/4). Farhan menyebut, peringatan tidak cukup hanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

  • April 14, 2026
Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Menurun

  • April 14, 2026
Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Menurun

PMI se-DIY Terima Hibah Alat Kesehatan Rp3,3 Miliar

  • April 14, 2026
PMI se-DIY Terima Hibah Alat Kesehatan Rp3,3 Miliar

Mendikdasmen Proyeksikan SMANOR Jatim Jadi Role Model

  • April 14, 2026
Mendikdasmen Proyeksikan SMANOR Jatim Jadi Role Model

Saksi Kasus TKD Damarsi Sebut Kades Hadiri Syukuran Pembangunan Kos-kosan 

  • April 14, 2026
Saksi Kasus TKD Damarsi Sebut Kades Hadiri Syukuran Pembangunan Kos-kosan 

Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang

  • April 14, 2026
Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang