Masuk Pancaroba, Waspadai Kenaikan Influenza Tipe A

KASUS influenza tipe A di berbagai daerah, dalam beberapa pekan terakhir mengalami kenaikan. Salah satunya terjadi di di Yogyakarta.

Meski gejalanya mirip flu biasa, influenza tipe A dapat menimbulkan gejala lebih berat dan berpotensi mengganggu aktivitas harian.

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., Ph.D., Sp.KKLP., dosen Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dalam podcast TropmedTalk yang diadakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM. Episode ini dibuat sekaligus untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap 12 November.

Dokter Widya yang juga bertugas sebagai klinisi spesialis kedokteran keluarga di Klinik Dokter Keluarga Korpagama UGM – 24 Jam ini mengamati terjadi peningkatan jumlah pasien dengan keluhan batuk, pilek, demam, dan nyeri sendi sejak pertengahan September hingga Oktober 2025.

Kelompok rentan

“Influenza Tipe A ini mempunyai karakteristik dapat menimbulkan gejala yang ringan hingga berat,” jelas dr. Widya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa anak-anak, lansia dan individu dengan daya tahan tubuh rendah termasuk kelompok yang rentan terkena penyakit ini.

BACA JUGA  15 Orang Meninggal dan 1322 Warga Tasikmalaya Terindikasi TB

Influenza tipe A memiliki dua protein penting, yaitu hemaglutinin dan neuraminidase. “Kombinasi keduanya membuat virus lebih mudah masuk ke dalam tubuh dan lebih cepat menyebar ke sel-sel lain,”jelas dr. Widya.

Kedua protein ini juga mudah bermutasi, sehingga sistem imun membutuhkan waktu untuk mengenalinya. Pada kelompok rentan, infeksi yang awalnya hanya di saluran napas atas dapat menjalar ke saluran napas bawah dan memicu kondisi serius seperti pneumonia, yang ditandai sesak napas, nyeri dada, dan napas berat.

Mobilitas masyarakat

Terkait penyebabnya, peningkatan kasus influenza tipe A tidak dipicu oleh satu faktor saja. Secara global, tren serupa juga terpantau. Mobilitas masyarakat yang tinggi membuat penyebaran virus berlangsung lebih cepat.

Selain itu, cuaca hujan dan kondisi pancaroba dalam beberapa minggu terakhir meningkatkan kelembaban udara, sehingga virus lebih mudah bertahan dan menyebar.

“Apalagi jelang akhir tahun, kita dituntut kenaikan kinerja yang terkadang membuat istirahat berkurang atau makan tidak teratur,” terang dr. Widya.

BACA JUGA  Masalah Kesehatan Anak masih Jadi PR Pemerintah

Situasi tersebut turut membuat tubuh jadi lebih rentan terkena penyakit. Apabila gejala mulai dirasakan, sekalipun masih ringan, langkah sederhana seperti mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan menghindari aktivitas fisik berat perlu segera dilakukan.

Bantuan kesehatan

Jika keluhan tidak membaik dalam lebih dari tiga hari, terlebih bila disertai tanda bahaya, maka penting untuk mencari bantuan tenaga kesehatan. Pemeriksaan medis akan membantu memastikan apakah kondisi masih dapat ditangani di rumah atau justru membutuhkan perawatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.

Sebagai upaya pencegahan, dr. Widya menegaskan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menggunakan masker di keramaian, mencuci tangan, menjaga gizi, dan istirahat cukup.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati,” pesannya. Vaksinasi juga menjadi langkah pencegahan penting. Karena virus influenza terus mengalami perubahan, vaksin perlu diberikan secara berulang setiap tahun agar isinya selalu sesuai dengan tipe virus yang sedang beredar.

BACA JUGA  BRI Sosialisasikan QRIS dalam HUT ke-63 RS Fatmawati

Vaksinasi ini menjadi pelengkap dari berbagai langkah pencegahan lain seperti penerapan PHBS, menjaga kebersihan, serta memastikan tubuh tetap dalam kondisi sehat.

Saling mengingatkan

dr. Widya menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Setiap orang dapat menjadi penggerak hidup sehat dan turut mempromosikan perilaku sehat di sekitarnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk saling mengingatkan apabila ada teman atau kolega yang mungkin lupa menjaga kesehatan. “Menjaga kesehatan saluran napas menjadi hal yang krusial, termasuk dengan meminimalkan polusi dan asap agar kualitas udara tetap baik,” jelas dr. Widya.

Menurutnya, upaya kolektif yang dimulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, hingga masyarakat luas merupakan bagian dari semangat mewujudkan generasi sehat dan masa depan yang hebat. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Waduh! Pria Lebih Rentan Terkena Hemofilia

HEMOFILIA adalah penyakit genetik yang menyebabkan darah sulit membeku secara normal. Akibatnya perdarahan dapat berlangsung lebih lama dari biasanya, bahkan bisa terjadi tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini membuat luka…

Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang

WARGA Okinawa, Jepang selama ini selalu memegang teguh prinsip hara hachi bu. Dengan menerapkan prinsip itu, warga Okinawa memiliki usia harapan hidup yang tinggi, yakni 80 tahun. Prinsip Hara Hachi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gebuk Electric PLN, Gresik Phonska Segel Tiket ke Grand Final

  • April 16, 2026
Gebuk Electric PLN, Gresik Phonska Segel Tiket ke Grand Final

Tim SAR Gabungan Tunda Evakuasi Korban Kecelakaan Helikopter

  • April 16, 2026
Tim SAR Gabungan Tunda Evakuasi Korban Kecelakaan Helikopter

Belum Terkalahkan, LavAni Selangkah Menuju Gelar Juara Putaran Kedua

  • April 16, 2026
Belum Terkalahkan, LavAni Selangkah Menuju Gelar Juara Putaran Kedua

2.995 Peserta Ikuti UTBK UPN Veteran Yogyakarta

  • April 16, 2026
2.995 Peserta Ikuti UTBK UPN Veteran Yogyakarta

Sasar Santri, Satlantas Polresta Sidoarjo Tekankan Budaya Safety Riding

  • April 16, 2026
Sasar Santri, Satlantas Polresta Sidoarjo Tekankan Budaya Safety Riding

Waduh! Pria Lebih Rentan Terkena Hemofilia

  • April 16, 2026
Waduh! Pria Lebih Rentan Terkena Hemofilia