
SEKRETARIS Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco menekankan pentingnya membangun pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak.
Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari capaian administratif dan akademik, tetapi juga dari kontribusinya terhadap masyarakat, dunia industri, pembangunan daerah, dan kemajuan bangsa.
Hal itu diungkapkan Prof Badri seusai melantik Prof. Ir. Ridho Kresna Wattimena, M.T., Ph.D., sebagai Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta periode 2026–2030 di Graha Diktisaintek, Gedung D lantai 2, Jakarta, Selasa.
Kepada para pimpinan perguruan tinggi negeri, Prof. Badri mendorong penguatan sinergi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi secara bertahap, dari teaching university menuju research university, kemudian berkembang menjadi entrepreneurial university.
Hadirkan inovasi
Ia berharap para pimpinan perguruan tinggi mampu membangun kolaborasi, mengembangkan talenta, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sementara itu, para pejabat fungsional dan pengawas diharapkan memperkuat profesionalisme, integritas, kompetensi, kedisiplinan, serta akuntabilitas dalam pelaksanaan tugas.
“Kebijakan yang baik tidak akan memberikan hasil optimal tanpa pelaksanaan yang tepat, terukur, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Kepada para pimpinan perguruan tinggi negeri, Prof. Badri mendorong penguatan sinergi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi secara bertahap, dari teaching university menuju research university, kemudian berkembang menjadi entrepreneurial university.
Ia berharap para pimpinan perguruan tinggi mampu membangun kolaborasi, mengembangkan talenta, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sementara itu, para pejabat fungsional dan pengawas diharapkan memperkuat profesionalisme, integritas, kompetensi, kedisiplinan, serta akuntabilitas dalam pelaksanaan tugas.
Tambah jumlah Guru Besar
Usai pelantikan, Prof. Ir. Ridho Kresna Wattimena, M.T., Ph.D., yang selama ini dikenal sebagai Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung menyampaikan sejumlah program prioritas yang akan menjadi fokus awal kepemimpinannya di UPN “Veteran” Yogyakarta.
Salah satu agenda utama adalah meningkatkan jumlah guru besar sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan kualitas sumber daya manusia perguruan tinggi.
“Program prioritas yang paling segera adalah mengejar jumlah guru besar, yang saat ini masih sangat kurang,” kata Prof. Ridho.
Dikatakan penguatan jumlah guru besar menjadi langkah penting untuk mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi di lingkungan kampus. Upaya tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik UPN “Veteran” Yogyakarta dalam menghadapi persaingan antar perguruan tinggi.
Peningkatan daya saing
Selain pengembangan sumber daya akademik, Prof. Ridho menargetkan peningkatan peringkat dan daya saing UPN “Veteran” Yogyakarta. Ia juga menyinggung peluang transformasi kelembagaan menuju status PTN-BH yang menurutnya berpotensi terealisasi mulai tahun depan.
Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong UPN “Veteran” Yogyakarta agar semakin kompetitif, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memperluas kontribusinya bagi masyarakat serta pembangunan nasional.
Sementara itu, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., yang mengakhiri masa jabatannya sebagai Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta periode 2018-2022, 2022-2026 menyampaikan ucapan selamat kepada Prof. Ridho atas amanah kepemimpinan yang diterimanya. Ia berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan fondasi yang telah dibangun sekaligus membawa universitas berkembang lebih maju.
Prof. Irhas menitipkan empat pesan utama bagi kepemimpinan UPN Veteran Yogyakarta Periode 2026–2030. Pertama, menjaga marwah UPN sebagai kampus yang mewarisi nilai perjuangan para pendahulu dan memiliki identitas sebagai kampus bela negara.
Jaga kebersamaan
Kedua, memperkuat kekompakan seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan. Menurutnya, kebersamaan menjadi modal penting untuk mempercepat pencapaian tujuan institusi sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan kondusif.
Ketiga, melanjutkan dan memperkuat tata kelola universitas di seluruh lini, meliputi bidang akademik, sumber daya manusia, keuangan, serta berbagai sumber daya pendukung lainnya. Tata kelola yang baik dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program dan peningkatan kinerja institusi.
Keempat, mendorong UPN semakin berkembang sebagai perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi Indonesia.
Pijakan baru
Ia berharap fondasi kelembagaan yang telah dibangun dapat menjadi pijakan bagi rektor baru untuk mempercepat kemajuan universitas tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi identitas UPN
Dengan kepemimpinan baru periode 2026–2030, UPN diharapkan mampu memperkuat kualitas akademik, meningkatkan daya saing, serta mengembangkan tata kelola yang semakin baik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meneguhkan peran UPN sebagai perguruan tinggi yang berkarakter bela negara, unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berdampak bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. (AGT/A-01)








