
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof Zudan, mengapresiasi Pemkab Cianjur yang telah menyusul ratusan instansi lain menerapkan manajemen talenta.
Manajemen talenta, lanjut Prof Zudah, tidak boleh berhenti sebagai instrumen administrasi kepegawaian.
Kabupaten besar seperti Cianjur membutuhkan ASN dengan kapasitas besar, bukan hanya dalam kinerja dan inovasi, tetapi juga dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Kapasitas kinerjanya, kapasitas solusinya, kapasitas kesabaran dalam melayani masyarakatnya, kapasitas dalam mencari solusi dan inovasi bagi masyarakatnya,” ungkap Prof Zudan saat peluncuran penerapan manajemen talenta ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (26/10/2026).
Sarana strategis
Prof Zudan mengarahkan agar pemanfaatan sistem manajemen talenta harus menjadi sarana strategis. Yakni sistem menempatkan pejabat yang mampu menerjemahkan dan mengeksekusi visi serta misi kepala daerah ke dalam kinerja pemerintahan yang nyata.
Dinamika kepemimpinan daerah yang menurut Prof Sudah menuntut ASN memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan arah kebijakan dan prioritas pembangunan.
Karena itu dengan manajemen talenta, orientasi utamanya adalah menemukan ASN yang berfokus pada solusi, bukan sekadar menghasilkan inovasi.
Inovasi, menurutnya, merupakan sarana untuk menyelesaikan persoalan dan menjawab keluhan masyarakat, bukan tujuan akhir dari kinerja birokrasi.
Selesaikan keluhan
“Manajemen talenta itu untuk mencari ASN yang fokus pada solusi, bukan fokus pada inovasinya. Inovasi hanya alat untuk memberi solusi, alat untuk bisa menyelesaikan keluhan-keluhan masyarakat,” tegasnya.
Terkait kebutuhan di Kabupaten Cianjur, Prof Zudan meminta agar manajemen talenta perlu diarahkan untuk mendukung visi pembangunan Cianjur Berjaya. Dengan cara penempatan ASN yang tepat sesuai kebutuhan organisasi dan prioritas daerah.
Mulai dari pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak. Kemudian peningkatan layanan dasar, penguatan ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan. Serta pembangunan infrastruktur terintegrasi, hingga tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi.
Bukan slogan
Selain menekankan tentang kompetensi dan kinerja, Prof Zudan juga mengingatkan pentingnya menerapkan nilai dasar ASN BerAKHLAK, terutama orientasi pelayanan.
Nilai tersebut harus tercermin dalam perilaku kerja sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan.
“Saya titip ini, berorientasi melayani. Jadi saat ini kita para ASN selalu mengatakan BerAKHLAK, diawali dari kata berorientasi melayani, tetapi dalam praktiknya banyak yang belum mampu menjabarkan itu,” ungkapnya. (*/W-01)







