Mahasiswa KKN UNY Inisiasi Program GCOSO di Kulon Progo

MAHASISWA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tengah praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Serang, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo menginisiasi program GCOSO (Gerakan Cerdas Olah Sampah Organik).

Program itu bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, agar dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai guna seperti kompos dan pupuk organik cair.

Melalui program tersebut, para mahasiswa berupaya memberikan edukasi sekaligus praktik langsung kepada masyarakat mengenai cara mengolah sampah organik secara sederhana di tingkat rumah tangga.

Ketua kelompok KKN, Marcelino Albertus Yosanta Woen, menjelaskan program GCOSO hadir sebagai solusi sederhana untuk membantu masyarakat mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.

Peduli lingkungan

“Melalui GCOSO, kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan maupun pertanian,” ujarnya, Kamis (5/2/26).

BACA JUGA  Sampah di Kota Bandung Diprediksi Naik 30 persen selama Nataru

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan materi mengenai jenis-jenis sampah, dampak buruk sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, serta pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.

Warga juga diajak memahami bahwa kebiasaan mengelola sampah dapat dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama yang membentuk perilaku peduli lingkungan.

Selain penyampaian materi, mahasiswa KKN juga mengajak masyarakat mengikuti praktik langsung pembuatan komposter sederhana menggunakan galon atau ember bekas. Komposter ini digunakan untuk mengolah sampah organik seperti sisa sayur, kulit buah, dan daun kering melalui proses fermentasi dengan bantuan aktivator seperti EM4 dan larutan molase.

Potensi ekonomi

Dalam praktik tersebut, warga diajarkan cara menyusun lapisan bahan kompos yang terdiri dari sampah kering sebagai sumber karbon, tanah, serta sampah basah sebagai sumber nitrogen.

BACA JUGA  Pelesir ke London, Fitra Riau Ingatkan Gubernur Bawa Oleh-oleh Investasi

Setelah disiram larutan aktivator, campuran tersebut kemudian disimpan di tempat teduh untuk proses fermentasi. Dalam waktu sekitar dua minggu dapat dihasilkan pupuk organik cair, sementara kompos padat dapat diperoleh setelah sekitar empat minggu.

Tidak hanya berhenti pada tahap pengolahan, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi mengenai potensi ekonomi dari produk kompos yang dihasilkan. Kompos dapat dimanfaatkan untuk pertanian, tanaman pekarangan, maupun tanaman hias yang banyak dimiliki warga desa.

Program GCOSO yang diinisiasi mahasiswa KKN UNY tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.

Masalah kesehatan

Program ini dilaksanakan oleh kelompok KKN UNY yang dipimpin oleh Marcelino Albertus Yosanta Woen bersama sembilan anggota tim, yaitu Abhidilla Zahra Ayus, Amoriz Fairus Nadien, Aneira Syifa Auliya, Aprilia Wanda Irawati, Ario Pramuditya Pratama, Azhara Retha Tanjung, Dyna Rizmandani Yuliati, Fiskawulan Lismiramdani, dan Nahari Choirunisa.

BACA JUGA  Perusahaan Tambang Diminta Bantu Jaga Kelestarian Lingkungan dan Alam

Dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti warga setempat, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan.

Sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya berupa sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan daun kering yang memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

KEPALA Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Haris Martapa membenarkan terjadinya longsor di sejumlah lokasi di Sleman setelah terjadi hujan deras yang disertai angin kencang. Ia menyebutkan talud di…

PMI se-DIY Terima Hibah Alat Kesehatan Rp3,3 Miliar

SELURUH Klinik PMI kabupaten/kota se-DIY Selasa (14/04) menerima hibah peralatan medis modern senilai Rp3,3 miliar. Jumlah itu diproyeksikan akan meningkatkan standar fasilitas kesehatan sekaligus mempercepat respons kedaruratan medis di seluruh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

  • April 14, 2026
Dampak Cuaca Buruk Sejumlah Lokasi di Sleman Longsor

Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Menurun

  • April 14, 2026
Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Menurun

PMI se-DIY Terima Hibah Alat Kesehatan Rp3,3 Miliar

  • April 14, 2026
PMI se-DIY Terima Hibah Alat Kesehatan Rp3,3 Miliar

Mendikdasmen Proyeksikan SMANOR Jatim Jadi Role Model

  • April 14, 2026
Mendikdasmen Proyeksikan SMANOR Jatim Jadi Role Model

Saksi Kasus TKD Damarsi Sebut Kades Hadiri Syukuran Pembangunan Kos-kosan 

  • April 14, 2026
Saksi Kasus TKD Damarsi Sebut Kades Hadiri Syukuran Pembangunan Kos-kosan 

Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang

  • April 14, 2026
Hara Hachi Bu, Prinsip Berhenti Makan Sebelum Kenyang