Mengapa Media Sosial Bikin Kita Tidak Percaya Diri

DI balik kesan glamor dan menyenangkan dari unggahan serta iklan di media sosial, banyak orang justru merasa tidak nyaman atau tidak puas setelah melihat foto dan video teman maupun influencer. Mengapa hal ini terjadi?

Salah satu alasannya adalah karena kecenderungan orang membandingkan citra tubuh mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap konten yang menampilkan penampilan ideal bisa berdampak negatif terhadap citra tubuh seseorang.

Ada beberapa cara orang membandingkan dirinya dengan gambar di media sosial, yang paling umum adalah upward social comparison—yaitu saat seseorang membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih menarik, lebih sukses, atau lebih baik.

Sementara itu, downward comparison terjadi ketika seseorang merasa lebih baik dibanding orang lain. Namun, studi menunjukkan bahwa kebanyakan orang cenderung melakukan upward comparison.

Menurut Cris E.Haltom PhD., CEDS menulis di Psychology Today, ketika orang membandingkan dirinya secara “naik” dengan sosok ideal di internet, reaksi yang umum adalah merasa kontras.

BACA JUGA  Huawei TechDay 2025 Dilaksanakan di STMM MMTC Yogyakarta

Merasa ada jarak antara diri sendiri dan standar yang ditampilkan. Hal ini bisa menurunkan harga diri, terutama dalam aspek penampilan.

Misalnya, seseorang yang membandingkan ukuran tubuhnya dengan figur publik kemungkinan akan merasa tubuhnya tidak sesuai standar, yang bisa memicu pikiran negatif terhadap dirinya sendiri.

Fenomena ini diperparah oleh budaya media sosial yang mendorong pengguna untuk hanya menampilkan sisi positif dan ideal.

Mereka kerap mengedit foto atau menyesuaikan konten dengan standar kecantikan atau kesuksesan yang dikonstruksi oleh media. Akibatnya, pengguna lain cenderung merasa bahwa hidup orang lain selalu lebih baik, lebih menarik, atau lebih bahagia.

Media sosial dan efek psikologis

Penelitian juga menemukan bahwa efek negatif dari konten ideal ini tidak hanya sesaat. Semakin sering seseorang terpapar unggahan semacam itu, semakin besar kemungkinan munculnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, turunnya kepercayaan diri, bahkan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

BACA JUGA  Ivosights Bantu Perkuat Brand Lokal dengan Teknologi

Siapa yang paling rentan terhadap efek ini? Kaum muda, terutama remaja dan perempuan dewasa muda, adalah kelompok paling berisiko. Saat usia remaja awal, seseorang mungkin merasa terinspirasi oleh citra tubuh ideal, namun seiring bertambah usia, inspirasi itu berubah menjadi tekanan, membandingkan diri secara negatif, dan merasa tidak cukup.

Platform seperti Instagram dan Snapchat, yang sangat berfokus pada visual, menyediakan banyak ruang untuk membandingkan penampilan. Bahkan dengan hadirnya filter, aplikasi edit foto, hingga gambar AI yang menciptakan “influencer” ideal, tekanan ini menjadi semakin besar.

Kebanyakan orang berharap mendapat motivasi dengan melihat konten yang menampilkan penampilan sempurna. Tapi motivasi yang didasari ketidakpuasan terhadap diri sendiri bisa berdampak buruk, seperti mendorong diet ekstrem, olahraga berlebihan, atau bahkan operasi plastik.

BACA JUGA  Adolescence Kisah Anak Tereksploitasi Media Sosial

6 Tips Menjaga Citra Tubuh Tetap Positif:

  1. Batasi waktu layar. Mengurangi penggunaan media sosial bisa meningkatkan suasana hati, rasa puas terhadap diri sendiri, dan kesehatan mental secara keseluruhan.
  2. Ikuti akun yang merayakan keberagaman tubuh. Gerakan body positivity terbukti dapat meningkatkan penerimaan diri.
  3. Bersikap baik pada diri sendiri. Nilai diri Anda tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik.
  4. Fokus pada fungsi tubuh, bukan tampilannya. Apresiasi kemampuan tubuh Anda, bukan hanya bentuknya.
  5. Luangkan waktu untuk aktivitas offline. Beri jeda dari media sosial dan nikmati kehidupan nyata.
  6. Tantang pikiran negatif. Saat merasa tidak cukup baik, sadari dan ubah pola pikir tersebut. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Di Balik Cerita Mistis Ternyata Berperan Lestarikan Lingkungan

SEJARAWAN Universitas Gadjah Mada, Prof. Agus Suwignyo mengungkapkan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap cerita mistis dan film horor tidak dapat dilepaskan dari sejarah sosial dan budaya yang berkembang sejak lama. Di…

Siamang; si Penjaga Ekosistem Rimba Sumatera yang Terancam Punah

SIAMANG (Symphalangus syndactylus) adalah primata endemik Sumatera. Ia terkenal dengan suara khasnya yang punya daya jangkau jauh sehingga dapat terdengar di seluruh penjuru hutan Sumatera. Sayangnya, keberadaan Siamang kini semakin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Pemkab Sergai Perkuat Tata Kelola Aset Daerah untuk Tingkatkan PAD

  • November 5, 2026
Pemkab Sergai Perkuat Tata Kelola Aset Daerah untuk Tingkatkan PAD

Polresta Sidoarjo dan Disnaker Upayakan Loker Penyandang Disabilitas

  • November 5, 2026
Polresta Sidoarjo dan Disnaker Upayakan Loker Penyandang Disabilitas

Di Balik Cerita Mistis Ternyata Berperan Lestarikan Lingkungan

  • November 5, 2026
Di Balik Cerita Mistis Ternyata Berperan Lestarikan Lingkungan

Pemkab Bandung Siap Berkolaborasi Kendalikan Banjir

  • November 5, 2026
Pemkab Bandung Siap Berkolaborasi Kendalikan Banjir

Ekonomi Jabar Tumbuh 5,89%, Tertinggi di Pulau Jawa

  • November 5, 2026
Ekonomi Jabar Tumbuh 5,89%, Tertinggi di Pulau Jawa

Karantina Jateng Gagalkan Pengiriman 3.287 Burung tanpa Dokumen

  • November 5, 2026
Karantina Jateng Gagalkan Pengiriman 3.287 Burung tanpa Dokumen