Dukung Swasembada Garam, UGM Perkenalkan Teknologi SWRO

HINGGA saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam upaya mencapai swasembada garam. Padahal, negara ini memiliki garis pantai terpanjang di dunia.

Namun harus diakui persoalan garam tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti teknologi produksi, iklim, distribusi, hingga kondisi ekonomi sosial masyarakat pesisir.

“Ternyata tidak mudah untuk meningkatkan produksi garam sehingga kita masih separuh dari kebutuhan garam kita masih impor,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Pemanfaatan Air Tawar pada Produksi Garam Laut dengan Teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) sebagai Air Minum”, Rabu (17/6), di Kulon Progo.

Guna menjawab persoalan tersebut, Prof. Alim memperkenalkan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) dengan mengintegrasikan produksi garam dengan penyediaan air tawar.

Dapat jadi air bersih

Dengan pemanfaatan teknologi ini, ia berharap air laut tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku garam, tetapi dapat diolah menjadi air bersih yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir yang masih terkendala akses air bersih.

“Semoga kita bisa membantu meningkatkan produksi garam baik kuantitas maupun kualitas, kemudian memanfaatkan air tawar dan juga kita bisa meningkatkan kondisi sosial dan kondisi ekonomi, meningkatkan taraf hidup masyarakat yang berkecimpung di usaha garam,” tuturnya.

Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Rustamadji, menuturkan bahwa program pengembangan garam nasional telah menjadi perhatian UGM sejak lama dan terus dilanjutkan sebagai program prioritas.

BACA JUGA  Buka Layanan Satu Pintu, Rektor UGM Luncurkan University Services

Pemberdayaan masyarakat

Meskipun berbagai macam upaya telah dilakukan, pengembangan industri garam masih menghadapi berbagai macam tantangan untuk memenuhi kebutuhan garam secara mandiri. Oleh sebab itu, ia menuturkan bahwa UGM mendukung upaya pengembangan teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang dapat meningkatkan kapasitas produksi garam nasional.

“Kami sangat mensupport kegiatan yang ada di Pantai Selatan karena kami berharap garam Pantai Selatan ini akan menjadi pola yang sama yang bisa kita bawa ke pulau-pulau kecil,” tuturnya.

Sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ia menilai forum diskusi ini dapat menjadi sarana untuk mempertemukan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat pesisir.

Melalui kolaborasi dari akademisi, pemerintah, kelompok petani garam, serta pelaku usaha, ia berharap inovasi ini dapat diterapkan langsung untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

“Mudah-mudahan nanti dari diskusi ini kita bisa mengetahui permasalahannya dan kemudian bisa memberikan solusi untuk pengembangan garam di masa yang akan datang,” jelasnya.

Belum optimal

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Purworejo, Wiyoto Harjono, menyampaikan apresiasi kepada UGM atas pengembangan teknologi SWRO yang diintegrasikan dengan produksi garam di kawasan pesisir selatan Purworejo.

Meski kualitas garam Purworejo sudah cukup baik, ia menekankan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi adalah meningkatkan kuantitas dan kontinuitas produksi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Ia menilai selama ini potensi garam lokal belum berkembang optimal karena belum terbangunnya keterhubungan yang kuat antara produsen dan pasar.

BACA JUGA  Fakultas Filsafat UGM Tuan Rumah SIT Study Abroad Indonesia

“Selama ini pengembangan garam di pantai selatan ibarat ‘sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku’. Oleh sebab itu, saya harap forum ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam memperkuat ekosistem garam mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan investasi berbasis potensi pesisir selatan,” jelasnya.

Belum memenuhi standar

Guru Besar bidang Teknologi Perikanan Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa saat ini kebutuhan garam nasional terus meningkat untuk kebutuhan berbagai sektor, seperti industri pangan, farmasi, hingga kosmetik.

Akan tetapi, katanya kualitas garam nasional masih belum memenuhi standar yang dibutuhkan oleh industri. Karena standar kualitas domestik belum terpenuhi, Indonesia masih melakukan impor secara selektif untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut.

“Kenyataannya dalam perkembangan produksi garam, mayoritas masih digawangi oleh para petambak garam mikro kecil secara konvensional. Kita masih prihatin karena masih melakukan impor,” jelasnya.

Solusinya ia kemudian mendorong transformasi teknologi penggunaan geomembran (HDPE) dan sistem rumah kaca dalam meningkatkan kualitas dan produksi garam nasional. Selain itu, ia menilai perlu mengaplikasikan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah pekat menjadi produk turunan guna mendukung target swasembada nasional pada tahun 2029 nanti.

Ada kesenjangan

Pada kesempatan itu Koordinator Pemanfaatan Air Laut dan Farmakologi Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Mohammad Zaki Mahasin, menegaskan persoalan garam nasional tidak lepas dari adanya faktor geografis dan iklim Indonesia. Sehingga, saat ini produksi garam nasional masih menghadapi kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi.

BACA JUGA  Tantangan, dan Pemecahan Masalah Hortikultura melalui Program Pemuliaan Tanaman

Zaki menilai teknologi pengolahan garam yang dikembangkan UGM dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas garam rakyat sekaligus membuka peluang diversifikasi produk turunan berbasis garam.

“Dengan pemanfaatan teknologi SWRO, produk dapat didiversifikasi sehingga menghasilkan produk turunan berbasis garam yang meningkatkan potensi ekonomi para petani garam,” jelasnya.

Kendala sertifikasi

Ketua Kelompok Usaha Garam (KUGAR) Pandowo Limo Kulon Progo, Marsino, menceritakan upaya kelompok petani garam dalam mengembangkan produk olahan garam, mulai dari pengembangan garam konsumsi, garam organik, garam terapi, hingga pengembangan ekstrak garam yang memiliki beragam khasiat.

Meskipun kualitas garam yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan, akan tetapi pengembangan produk garam ini masih terdapat kendala pada sertifikasi yang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Saya berharap adanya bantuan kerja sama ini dapat mendukung produk garam lokal agar dapat bersaing di pasar yang lebih besar lagi,” katanya. (AGT/M-01)

Related Posts

Peneliti UGM Kembangkan Sistem Deteksi Dini Berbasis AI

PEMANFAATAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin berkembang di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk chatbot atau mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah…

Hore! Dua Badak Sumatera di TNWK Dilaporkan Tengah Hamil

KABAR positif datang dari Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dua induk betina badak Sumatera Ratu dan Delilah diketahui sedang hamil. Saat ini keduanya terus menjalani pemantauan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tokoh Masyarakat Kotamobagu Temui Kolonel Edward Sitorus, Bintang TNI di Medsos

  • October 10, 2026
Tokoh Masyarakat Kotamobagu Temui Kolonel Edward Sitorus, Bintang TNI di Medsos

Persebaya Bekuk Isenmulang, Persik Hentikan Laju Madura United

  • October 10, 2026
Persebaya Bekuk Isenmulang, Persik Hentikan Laju Madura United

Perlu Kerjasama Antarnegara untuk Hadapi Ancaman Karhutla

  • October 9, 2026
Perlu Kerjasama Antarnegara untuk  Hadapi Ancaman Karhutla

RSUD dr. Slamet Garut Siap Kembangkan Layanan Berstandar Smart Hospital

  • October 9, 2026
RSUD dr. Slamet Garut Siap Kembangkan Layanan Berstandar Smart Hospital

Tasikmalaya Great Sale Diharap Dorong Perekonomian Daerah

  • October 9, 2026
Tasikmalaya Great Sale Diharap Dorong Perekonomian Daerah

PT KAI Perkuat Konektivitas Ekonomi Antarwilayah di Sumut

  • October 9, 2026
PT KAI Perkuat Konektivitas Ekonomi Antarwilayah di Sumut