
ANCAMAN Amerika Serikat untuk meninggalkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ditanggapi serius oleh negara-negara Eropa. Mereka pun menyusun rencana untuk bertahan jika AS benar-benar menarik diri dari NATO.
Rencana itu dirancang untuk memastikan kemampuan Eropa dalam mempertahankan diri secara independen dalam menggunakan struktur militer. Hal itu bukan untuk menyaingi NATO, tetapi untuk memastikan pertahanan Eropa jika AS tidak lagi memberikan bantuan.
Menurut berbagai media Barat, AS akan tetap berada di NATO, tetapi sebagian besar tanggung jawab pertahanan kawasan akan dialihkan ke negara-negara Eropa. Meski sejatinya rencana itu sudah dimulai sejak 2025 dan pengurangan itu dipercepat ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih Greenland.
Kebutuhan akan inisiatif itu dinilai menjadi lebih mendesak setelah Eropa menolak untuk membantu AS dalam operasi melawan Iran.
Kekecewaan Trump
Trump dikabarkan kecewa karena sekutunya di Eropa menolak mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz, sehingga ia tidak lagi menganggap Eropa sebagai mitra yang dapat diandalkan.
Trump juga menyebut tidak lagi memandang Eropa sebagai mitra pertahanan yang dapat diandalkan setelah negara-negara Eropa menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz kini meragukan kemampuan AS sebagai sekutu di bawah pemerintahan Trump. Sikap Jerman itu mendapat dukungan dari negara-negara Eropa lainnya, termasuk Inggris, Prancis, Polandia, negara-negara Nordik. (*/N-01)






