
TREN kenaikan harga kedelai impor pascalebaran mulai mencekik para pelaku usaha kecil di Kabupaten Sidoarjo. Kenaikan harga itu berdampak langsung pada rantai distribusi, mulai dari tingkat agen hingga perajin tahu dan tempe rumahan
Kondisi itu memaksa mereka untuk memutar otak agar dapur produksi tetap mengepul.
Di Desa Sepande Kecamatan Candi, Sidoarjo para agen kedelai mulai merasakan keluhan dari para pelanggan setianya. Muhammad Fardani, salah satu agen kedelai impor asal Amerika Serikat mengungkapkan, fluktuasi harga sebenarnya sudah terasa sejak menjelang Idulfitri. Namun, kenaikan kembali terjadi setelah lebaran dengan selisih sekitar Rp200 per kilogram.
Saat ini, kedelai impor kualitas premium dipatok pada kisaran Rp10.600 per kilogram,. Itu naik dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp10.400 hingga Rp10.500 per kilogram.
Kendala logistik
Selain beban harga, para agen juga menghadapi kendala logistik. Pasokan yang biasanya rutin datang setiap pekan kini sering mengalami keterlambatan hingga dua hari. Kondisi ini memaksa agen untuk menyediakan berbagai variasi merk guna menjaga ketersediaan stok bagi pelanggan.
”Kami menyediakan empat merek berbeda, yaitu Hiu, Bola, Senggigi, dan BW, dengan kualitas dan harga yang bervariasi agar perajin punya pilihan sesuai anggaran mereka,” ujar salah satu agen kedelai impor M Fardani, Senin (13/4).
Meski harga terus merangkak naik setiap tahun, para perajin tetap menjatuhkan pilihan pada kedelai impor Amerika. Beberapa alasannya antara lain, hasil tahu dan tempe dinilai lebih stabil dan bagus serta pasokan kedelai lokal masih sangat sulit didapatkan di pasaran.
Merek Hiu dan Bola umumnya menjadi favorit perajin tahu. Sementara perajin tempe mengakui lebih banyak memburu merek Senggigi.
Takut naikkan harga
Di tingkat konsumen akhir, kenaikan bahan baku ini tidak lantas membuat harga tahu ikut naik. Juni, salah satu penjual tahu, mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan.
”Kalau harga dinaikkan, pembeli protes. Solusinya, ukuran tahu terpaksa diperkecil sedikit supaya tidak rugi,” kata perajin tahu Juni.
Agen di Desa Sepande setidaknya mendatangkan sembilan ton kedelai setiap pekan. Pelanggannya tidak hanya terbatas di wilayah Sidoarjo, namun merambah hingga luar provinsi dan luar pulau.
Para pelaku usaha kini hanya bisa berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga kedelai. Mengingat tahu dan tempe adalah sumber protein utama masyarakat, ketidakstabilan harga bahan baku ini dikhawatirkan akan berdampak pada ketahanan pangan masyarakat luas. (OTW/M-01)








