Para Mantan Dubes Desak Pemerintah Keluar dari BoP dan Tinjau Rencana Pengiriman Pasukan ke Gaza

FORUM Dialog Nusantara (FDN) bersama sejumlah mantan Duta Besar RI dan pakar mendesak pemerintah untuk meninjau kembali keanggotaannya di organisasi Board of Peace (BOP) serta rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza.

Pasalnya, kebijakan itu dinilai tidak sejalan dengan amanat konstitusi dan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Menurut Co-founder dan Ketua Dewan Penasehat Forum Dialog Nusantara (FDN), Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA., meski motivasi awal bergabung dengan BOP adalah komitmen konstitusional untuk membantu perjuangan rakyat Palestina karena kelumpuhan PBB, situasi saat ini telah bergeser menjadi konflik yang lebih luas.

Terancam bias

FDN bersama sejumlah mantan Dubes mendesak pemerintah untuk meninjau kembali keanggotannya di BOP dan rencana pengiriman pasukan ke Gaza. (Dok.FDN)

Ia menekankan perlunya evaluasi mendalam apakah tetap berada di dalam BOP masih sejalan dengan prinsip perdamaian, terutama ketika anggota organisasi tersebut justru terlibat aktif dalam peperangan.

“Bagaimana jika tujuan awal untuk rekonstruksi Gaza terancam bias oleh kepentingan pihak-pihak tertentu,” ujarnya.

Senada, Duta Besar RI untuk Ukraina 2017-2021, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, ME.,  menegaskan bahwa setiap perjanjian internasional yang menimbulkan beban keuangan negara yang besar seperti iuran keanggotaan BOP, serta keputusan pengiriman pasukan TNI ke luar negeri wajib mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Ia  merujuk pada Pasal 11 UUD 1945.

BACA JUGA  PBB Desak Diakhirinya Tindakan yang Tingkatkan Eskalasi di Timteng

Baginya, kepatuhan terhadap koridor konstitusi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan retorika politik apa pun.

“Hal ini demi menjaga martabat Indonesia sebagai negara demokrasi yang modern dan beradab,” tegasnya.

Kesiapan logistik dan mental prajurit

Pada kesempatan sama, Mayjen TNI (Purn.) Muhammad Lutfie Wittoeng, Duta Besar RI untuk Venezuela 2016–2020 memaparkan analisis teknis mengenai anatomi penugasan militer di zona konflik.

Ia mengingatkan bahwa pengiriman 8.000 personel, yang mayoritas terdiri dari satuan zeni konstruksi dan kesehatan, menuntut kesiapan logistik dan pembekalan mental yang luar biasa karena mereka akan bekerja di lingkungan yang hancur lebur dalam durasi panjang.

“Faktor psikologis prajurit harus menjadi perhatian utama untuk mencegah terjadinya gesekan dengan kelompok lokal seperti Hamas, mengingat tingginya tingkat stres di lapangan yang dapat memicu insiden yang tidak diinginkan jika tidak dikelola dengan pengawasan komando yang sangat jelas,” ujarnya

BACA JUGA  Pemerintah Minta Maaf atas Kasus Keracunan Menu MBG

Di luar mandat PBB

Sementara itu, Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA., Duta Besar RI untuk Lebanon 2019–2025 juga mengkritisi rencana pengiriman pasukan dari sisi mandat internasional dan kapasitas fiskal negara.

“Apa dasar hukum pengerahan pasukan jika dilakukan di luar bendera PBB, mengingat selama ini misi perdamaian Indonesia selalu memiliki legitimasi internasional dan dukungan pembiayaan global yang jelas,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti karakter kepemimpinan Donald Trump yang dianggap eratik dan transaksional, sehingga Indonesia harus sangat berhati-hati agar tidak hanya dimanfaatkan dalam skema politik ‘kesepakatan abad ini’ yang belum tentu menjamin berdirinya negara Palestina yang berdaulat.

Jebakan kepentingan

Adapun Dr. Aloysius Lele Madja, Duta Besar RI untuk Cile 2011 – 2014 mengingatkan potensi jebakan kepentingan bisnis di balik skema rekonstruksi Gaza yang diprakarsai oleh pihak luar.

BACA JUGA  EUDR Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Hutan

Walaupun ia menghargai moralitas politik Presiden yang ingin mewujudkan janji kampanyenya untuk membantu Palestina, ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terjebak menjadi pelaksana alat kepentingan kelompok tertentu yang bersifat transaksional.

“Setiap langkah diplomatik harus tetap terukur dan memastikan bahwa hasil akhirnya adalah solusi dua negara yang adil, bukan sekadar proyek pembangunan fisik yang mengesampingkan kedaulatan politik bangsa Palestina,” ujarnya.

Direktur Eksekutif FDN Justin Djogo  berharap semua masukan itu dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintahan Prabowo Subianto agar dalam mengambil langkah strategis tetap menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas aktif serta menjaga keutuhan konstitusi Republik Indonesia. (*/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Gasak Bhayangkara, Persib Kembali Gusur Borneo dari Posisi Puncak

PERSAINGAN perebutan gelar Super League musim ini semakin sengit. Hal itu setelah aksi saling salib di posisi puncak terus terjadi di penghujung kompetisi. Hanya berselang sehari posisi puncak direbut Borneo…

Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

KABAR kurang mengenakkan datang untuk tim nasional voli putri Indonesia. Pasalnya, opposite andalan, Megawati Hangestri Pertiwi, resmi mengundurkan diri dari skuad Merah-Putih. Pengunduran diri tersebut disampaikan melalui surat resmi kepada…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gasak Bhayangkara, Persib Kembali Gusur Borneo dari Posisi Puncak

  • April 30, 2026
Gasak Bhayangkara, Persib Kembali Gusur Borneo dari Posisi Puncak

Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

  • April 30, 2026
Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

  • April 30, 2026
Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

  • April 30, 2026
Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

  • April 30, 2026
Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia

  • April 30, 2026
Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia