Praktik Jual Beli Jabatan di Desa Meningkat, Pemerintah tidak Sehat

  • Politik
  • January 28, 2026
  • 0 Comments

DOSEN Manajemen Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Dr. Agustinus Subarsono menyoroti maraknya praktik jual beli jabatan yang tidak hanya terjadi tingkat atas, provinsi atau kabupaten-kota, namun juga di tingkat desa.

Adanya praktik ini terungkap setelah beberapa kepala daerah yang tertangkap kemudian menyebut adanya praktik ini.

Praktik suap dengan modus jual beli jabatan ini melibatkan transaksi bernilai ratusan juta rupiah yang menguntungkan kedua belah pihak, baik oknum pejabat maupun calon perangkat desa. Fenomena tersebut menjadi sinyal serius tata kelola pemerintahan tengah berada dalam kondisi yang tidak sehat dengan tidak berjalannya merit system.

Ia menilai praktik jual beli jabatan di aparatur desa merupakan peringatan negara dalam kondisi tidak baik-baik dan perlu diagnosa segera agar tidak terjadi kolaps.

Dana investasi

“Dua atau tiga tahun lalu ini hanya pada level kabupaten atau provinsi yang menyasar para kepala dinas atau kepala badan, tetapi pasca pilkada 2024 virus ini menular pada level perangkat desa, paling bawah dalam hirarki pemerintahan,” katanya, Rabu (28/1).

BACA JUGA  KDMP Diharap tidak Menjadi Alat Politik

Kata Subarsono, dalam memenangkan pilkada para kandidat kepala daerah membutuhkan dana investasi yang tidak sedikit seperti untuk partai sebagai kendaraan politik. Kondisi ini mendorong kandidat untuk mengembalikan investasinya dengan menggunakan beragam cara.

“Jika bergantung mengandalkan gaji dan tunjangan tidaklah cukup. Maka, ditempuh praktik jual beli jabatan sebagai terobosan mudah untuk menutup segala pengeluaran menjelang pilkada,” ungkapnya.

Transaksi jabatan

Lebih lanjut, ia menyebutkan transaksi jabatan merefleksikan bahwa moralitas dan spiritualitas para kepala daerah terkurung rendah. Nilai agama gagal sebagai kekuatan moral dan tuntunan hidup untuk menjadi manusia yang religius, beradab, jujur, dan terhormat.

“Di pihak kepala daerah dan bawahan yang menyuap gagal melakukan internalisasi nilai religius agama dalam kehidupannya,” paparnya.

BACA JUGA  Kapolda Jateng Minta Tiga Pilar Dirikan Rumah Restorasi of Justice

Ia menyayangkan jika kondisi ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pandangan nilai yang dianggap pantas dalam masyarakat. Ia menggambarkan ketika money politics untuk jual beli jabatan dianggap biasa dan normal sebagai pertanda serius bahwa pemegang kuasa dan masyarakat sedang sakit.

“Bayangkan kalau keduanya sakit maka terjadilah transaksional antar keduanya karena jika yang sakit hanya salah satu pihak, proses transaksional tidak akan terjadi,” tekannya.

Hukuman tegas

Menurut Subarsono kendisi ini dapat dicegah dengan niat suci yang kuat di antara partai politik (parpol), para kandidat kepala daerah, dan masyarakat luas. Sebagaimana parpol perlu membangun sistem rekrutmen kandidat kepala daerah dengan pertimbangan kompetensi, integritas, dan moralitas yang merupakan poin utama daripada kekuatan ekonomi kandidat.

Oleh karena itu, Subarsono menekankan hukuman tegas dan tanpa kompromi perlu diterapkan terhadap kandidat kepala daerah yang terbukti melakukan praktik politik uang menjelang pilkada. “Penindakan harus diproses secara hukum, tidak hanya berhenti pada sanksi administratif, tetapi juga disertai sanksi pidana,” ujarnya.

BACA JUGA  Dukung Pembangunan Daerah, Telkomsel Perkuat Pemberdayaan Desa

Selain itu, ia mendorong transparansi dalam proses pengisian jabatan, mulai dari tahapan seleksi, publikasi profil kandidat, hingga pelibatan publik dalam pengawasan, termasuk peran jurnalis. Subarsono menyebutkan kelemahan utama rekrutmen aparatur desa dan daerah terletak pada regulasi yang tidak seragam dan celah kewenangan yang terlalu besar di tangan kepala daerah.

Undang-Undang Desa memang menyerahkan pengaturan perangkat desa kepada perda kabupaten/kota, tetapi implementasinya berbeda-beda. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Muzani Tegaskan UUD 1945 tak Bisa Diubah Secara Gegabah

KETUA MPR RI Ahmad Muzani, menegaskan MPR tidak akan gegabah dalam melakukan perubahan terhadap UUD 1945. Namun mereka akan mendengarkan berbagai aspirasi, pandangan, pemikiran, ide, dan gagasan dari berbagai elemen…

Ketika Politik Uang Digital Bakal Jadi Momok Baru Pemilu

BADAN Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar diskusi Srawung Demokrasi yang bertajuk  “Politik Uang Digital: Tantangan Baru dalam Pengawasan Pemilu 2029” secara daring. Edisi perdana Srawung Demokrasi itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

FIFA ASEAN Cup 2026 Ajang Bergengsi, Erick Thohir Sebut Duel Indonesia Vs Malaysia Jadi Laga yang Sangat Dinantikan

  • September 28, 2026
FIFA ASEAN Cup 2026 Ajang Bergengsi, Erick Thohir Sebut Duel Indonesia Vs Malaysia Jadi Laga yang Sangat Dinantikan

Pengembangan Neuropsikologi di Indonesia Dinilai masih Tertinggal

  • September 28, 2026
Pengembangan Neuropsikologi di Indonesia Dinilai masih Tertinggal

Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 Indonesia dan Top 500 Asia Versi EduRank

  • September 28, 2026
Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 Indonesia dan Top 500 Asia Versi EduRank

Polsek Turi Tangkap Pembacok Guru

  • September 28, 2026
Polsek Turi Tangkap Pembacok Guru

Sidak Rumah Pompa Sidokare, Wakil Bupati Temukan Material tak Sesuai

  • September 28, 2026
Sidak Rumah Pompa Sidokare, Wakil Bupati Temukan Material tak Sesuai

56 Ribu Tiket Indonesia vs Malaysia Ludes Terjual, Antusiasme Suporter kian Tinggi

  • September 28, 2026
56 Ribu Tiket Indonesia vs Malaysia Ludes Terjual,  Antusiasme Suporter kian Tinggi