
UNIVERSITAS Ahmad Dahlan Yogyakarta, menggelar wisuda di Gedung JEC, Janti Bantul pada Sabtu. Sebanyak 1.853 lulusan Program Sarjana (S1), 11 lulusan Program Sarjana Terapan (D4), 263 lulusan Program Magister (S2) dan 3 lulusan Program Doktor (S3) tercatat diwisuda.
Dari keseluruhan wisudawan yang berjumlah 2.130 orang ini, 39 di antaranya mengikuti wisuda secara daring dan selebihnya 2.091 orang mengikuti wisuda secara luring.
Rektor UAD, Prof. Muchlas MT, dalam pidatonya menyebut dari keseluruhan lulusan tersebut, 98 persen di antaranya meraih predikat cumlaude atau dengan pujian.
Dikatakan pencapaian tersebut menjadi hal yang sangat membanggakan bagi kampus. Rektor pun berterima kasih kepada jajaran dosen serta para orang tua yang telah memberikan dukungan.
Bukan akhir

Rektor mengingatkan kepada para lulusan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar melainkan mnjadi awal dari proses dari perjalanan belajar yang sangat panjang.
Dikatakan dunia yang akan mereka hadapi terus berubah, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat. Teknologi yang saat ini dikatakan sangat maju dalam beberapa tahun ke depan akan tergantikan oleh teknologi yang lebih baru.
“Dalam situasi seperti ini, ijazah yang Saudara peroleh merupakan bukti bahwa Saudara telah menguasai kompetensi tertentu. Namun, ijazah itu tidak menjamin seluruh pengetahuan yang Saudara miliki hari ini akan selalu relevan di masa mendatang,” jelasnya.
Terus belajar
Karena itu, para wisudawan ini diminta terus belajar dan jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah.
“Milikilah rasa ingin tahu, keberanian untuk mempelajari hal-hal baru, serta kerendahan hati untuk menerima pengetahuan dari siapa pun,” imbuhnya.
Diingatkan pula, setelah lulus, wisudawan akan memasuki dunia kerja yang penuh dengan peluang dan tantangan.Persaingan dunia kerja, jelasnya semakin terbuka dan batas-batas geografis semakin kehilangan maknanya.
Para wisudawan katanya, tidak hanya akan berhadapan dengan lulusan perguruan tinggi lainnya di Indonesia, namun juga berhadapan dengan sumber daya manusia dari berbagai negara.
AI jadi tantangan
Di sisi lain, katanya, perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan tantangan bagi berbagai profesi. Sejumlah pekerjaan rutin, kata Prof. Muchlas mulai dapat dilakukan oleh mesin dan sistem cerdas.
Namun demikian, para lulusan diminta tidak memandang perkembangan ini dengan rasa takut tetapi lebih banyak memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas pekerjaan.
“Yang perlu Saudara kembangkan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara etis dan bertanggung jawab.”
“Saya ingin mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki integritas, empati, dan kepedulian terhadap sesama.”
“Jangan hanya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan. Persiapkan pula diri Saudara untuk menciptakan peluang, menghasilkan inovasi, membangun usaha, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” pesan Rektor.
Manfaat bagi masyarakat
Di bagian lain, Rektor mengingatkan ukuran keberhasilan seorang lulusan bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang diraihnya atau seberapa besar penghasilan yang diperolehnya, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat dihadirkannya bagi kehidupan orang lain.
“Jagalah nama baik almamater dan Persyarikatan Muhammadiyah melalui perilaku, integritas, prestasi, serta kontribusi nyata. Tunjukkan bahwa lulusan UAD bukan hanya memiliki kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga menjunjung tinggi akhlak mulia, kejujuran, kepedulian sosial, serta semangat Islam Berkemajuan.”
“Jadilah pribadi yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan, membawa kemajuan, menghargai perbedaan, dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya. (AGT/M-01)







