Demo Iran 2026 Mirip Demo 1979 yang Menumbangkan Shah Iran

ESKALASI unjuk rasa di bebagai kota di Iran sepanjang Januari oleh banyak kalangan mirip dengan kondisi dan demo yang terjadi di negeri itu pada 1979 silam. Demo yang ketika itu menumbangkan monarkhi Iran.

Media pemerintah melaporkan, sedikitnya 3.117 orang tewas baik masyarakat sipil maupun pasukan keamanan selama aksi tersebut. Fenomena itu menandai akumulasi ketegangan multidimensi yang bersifat sistemik.

Berakar dari depresi ekonomi yang ekstrem, pembekuan aset oleh negara-negara Barat serta sanksi internasional, hingga kebijakan represif oleh penguasa dalam menangani demonstran.

Adanya korban kekerasan aparat ini menandai indikator kerapuhan legitimasi rezim. Rezim manapun akan membabi buta ketika menghadapi ancaman eksistensial. Inilah yang terjadi sekarang.

Intervensi asing

Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan posisinya. Jurus yang dipakai adalah selalu menyalahkan pihak luar, yakni Amerika dan Israel.

Intervensi asing merupakan fakta geopolitik yang nyata, Munjid menilai bahwa narasi tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan. Rezim penguasa Iran tidak bisa terus-menerus lempar batu sembunyi tangan dengan menimpakan semua kesalahan kepada intervensi asing. Hal tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

BACA JUGA  Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran, PBB minta Kembali ke Meja Perundingan

Rezim Iran perlu segera merumuskan solusi atas krisis ekonomi primer dan tuntutan demokrasi sebagai penentu kestabilan nasional. Meski situasi ketegangan di Iran sudah mulai mereda. Demonstrasi di jalan, penangkapan, serta pembunuhan telah berhenti. Akan tetapi, masalah utamanya, yakni kesulitan ekonomi sama sekali belum teratasi.

Demonstrasi akan meletus kembali sewaktu-waktu. Rakyat Iran membutuh makan dan menjalani kehidupan dengan normal.

Demonstrasi

Ada kemiripan mendasar antara demonstrasi Januari 2026 dengan peristiwa pada tahun 1979 — peristiwa yang menumbangkan Shah Iran Reza Pahlavi. Keduanya mirip dalam hal besarnya massa protes yang mencerminkan kekecewaan dan kemarahan publik terhadap rezim penguasa. “Publik marah karena bangkrutnya ekonomi, korupsi elit yang merajalela, dan rezim otoriter yang sangat brutal menghadapi protes.

Dikatakan krisis ekonomi yang dihadapi Iran memiliki kompleksitas yang jauh lebih parah. Kapasitas ekonomi Iran dilaporkan hanya beroperasi pada level 50 persen akibat sanksi ekonomi jangka panjang, dampak pandemi, serta memburuknya kondisi global.

BACA JUGA  Kapolri Siap Tindak Tegas para Perusuh

Kondisi tersebut terakselerasi pascainsiden serangan militer AS-Israel terhadap instalasi nuklir Iran ketika perang 12 hari yang memicu lonjakan harga sembako hingga melampaui angka 70%.

Krisis ekonomi

Kondisi itu juga diperburuk dengan terputusnya fasilitas publik, seperti layanan air bersih dan pasokan listrik. Sektor moneter turut mencatatkan rekor devaluasi terburuk dengan nilai tukar rial Iran terdepresiasi hingga menyentuh 1,4 juta rial Iran per 1 dollar AS pascakerusuhan.

Krisis ekonomi luar biasa inilah yang telah menyulut protes keras dari para pedagang di Grand Bazaar. Mereka menutup toko karena kegiatan ekonomi tak bisa berjalan dan turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Alih-alih mendengar aspirasi, celakanya rezim penguasa Iran justru menghadapi demonstrasi secara brutal. Listrik dan jaringan internet dimatikan. Ribuan orang terbunuh, belasan ribu terluka, dan puluhan ribu ditangkap.

Pergerakan massa

Meski begitu, ada perbedaan yang konkret antara dua peristiwa krisis tersebut terutama soal pergerakan massa. Pergerakan massa pada 1979 memiliki tingkat konsolidasi kekuatan publik yang lebih terorganisasi melalui koordinasi antarpemimpin kelompok oposisi.

BACA JUGA  Iran dan Amerika Kembali Saling Serang, Asa Perdamaian Jauh lagi

Pada 1979 kekuatan publik relatif lebih terkonsolidasi. Beberapa pemimpin kelompok oposan saling berkoordinasi. Ada tokoh oposan utama yang menonjol dan mampu menyatukan gerakan, baik kelompok kiri, kanan, maupun profesional, yaitu Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Sebaliknya, demonstran saat ini tidak terkoordinasi, belum tampak adanya figur pemimpin oposan yang diterima yang mampu menyatukan publik.

Selain itu, ketegangan sosiologis juga diperburuk oleh jurang aspirasi antara elit teokrasi lanjut usia dan generasi muda yang kian progresif. Kontrol ketat institusi agama justru memicu alienasi massal.

Sebetulnya, rezim teokrasi Iran tak pernah menjangkau seluruh rakyat Iran. Semakin ketat rezim agama mengontrol, semakin banyak rakyat Iran yang justru menjauh dari agama. (AGT/N-01)

Oleh:

Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada. Ahmad Munjid, M.A., Ph.D.,

Dimitry Ramadan

Related Posts

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

BENCANA gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,4  mengguncang Kolombia bagian barat pada Senin waktu setempat. Akibatnya sebanyak 111 orang tewas  dalam bencana tersebut. Menurut Kolombia, Presiden Abelardo De la Espriella, pihaknya…

Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan

GURU Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A., menyampaikan melalui momentum putusan Mahkamah Konstitusi terkait anggaran fungsi pendidikan perlu dimanfaatkan untuk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

  • August 11, 2026
111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

Persib Pinjamkan Al Hamra Hehanussa ke Garudayaksa

  • August 11, 2026
Persib Pinjamkan Al Hamra Hehanussa ke Garudayaksa

Dompet Dhuafa Bantu Renovasi 4 Sarana Sanitasi di RTQ Ali Imron Bogor

  • August 11, 2026
Dompet Dhuafa Bantu Renovasi 4 Sarana Sanitasi di RTQ Ali Imron Bogor

Tim KKN UGM Bersama Masyarakat Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

  • August 11, 2026
Tim KKN UGM Bersama Masyarakat  Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di DIY Pada Agustus

  • August 11, 2026
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di DIY Pada Agustus

Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan

  • August 10, 2026
Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan