43 Orang Meninggal Saban Tahun akibat Penyakit tidak Menular

PROSENTASE penyakit tidak menular atau PTM tercatat terus mengalami kenaikan. Bahkan, PTM bertanggungjawab atas kematian 43 orang setiap tahun.

Data Kemenkes (Kementerian Kesehatan) RI, PTM menyumbang lebih 75% penyebab kematian. Bahkan banyak negara termasuk Indonesia, dilaporkan kekurangan pendanaan dalam penanganan penyakit tidak menular.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan hampir 1 dari 3 orang dewasa (30,8%) masih menderita hipertensi, dan hanya sekitar 18,9% saja yang hipertensinya terkendali. Hal itu menunjukkan adanya jurang lebar antara diagnosis dan pengobatan.

Promosi kesehatan

Sementara konsumsi minuman manis juga tinggi dengan hampir setengah populasi (47,5%) mengonsumsi minuman manis paling tidak sekali sehari. Belum lagi soal beban kebiasaan merokok yang masih tinggi, tercatat sekitar 1 dari 4 orang usia 15 tahun ke atas adalah perokok (24,7%).

Angka-angka ini menegaskan pada kita bahwa layanan kuratif dan deteksi dini tidak cukup, tanpa upaya promosi kesehatan kuat, berdampingan dengan preventif dan kuratif.

Tingginya penderita PTM disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain gaya hidup yang tidak sehat, kurang berolahraga, konsumsi minuman manis hingga kurangnya upaya promosi kesehatan. Sehat itu sebetulnya bisa dirancang bukan kebetulan.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Pantau Penyembelihan Hewan Kurban selama Hari Tasrik

Karena itu, upaya promotif sebagai hal utama yang bisa dilakukan agar bisa menjadikan sehat sebagai suatu pilihan yang mudah. Pilihan antara mengobati yang sakit (kuratif) dan mencegah melalui skrining (preventif) masih menjadi dilema hingga saat ini.

Lingkungan pendukung

Keduanya penting namun agar angka penyakit tidak menular (PTM) benar-benar turun diperlukan satu upaya lagi melalui tindakan promotif. Promotif bukan melulu kampanye. Ini menyangkut soal lingkungan pendukung hidup sehat yakni ketersediaan makanan atau minuman yang lebih sehat, ruang publik yang mendukung aktivitas fisik, kawasan tanpa rokok yang nyaman, dan informasi gizi yang gampang dipahami.

Di banyak negara menunjukkan, ketika lingkungan berubah, maka perilaku pun ikut berubah, tanpa perlu menyalahkan pihak mana pun.

Selain itu, diperlukan pendekatan sinergis antar pelaku usaha agar mau diajak berinovasi dengan harapan konsumen mendapat informasi jelas dan pilihan hidup sehat. Sementara dari pemerintah tetap bisa menjaga pelaksanaan kebijakannya secara adil.

BACA JUGA  Sekda Jateng Minta Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Digalakkan

Pendek kata, diperlukan pendekatan yang sinergis antara pelaku usaha yang diajak berinovasi sehingga konsumen yang mendapat informasi jelas dan pilihan sehat.

Tiga alasan

Ada tiga alasan tindakan promotif perlu didorong untuk menurunkan angka kejadian PTM. Pertama, selain berdampak luas, tindakan promotif dinilai murah dan bersahabat dengan pelaku usaha. Berdampak luas karena kebijakan yang disampaikan dari tindakan promotif menyentuh kehidupan masyarakat keseharian.

Misal soal label gizi yang jelas, penggunaan porsi gula yang lebih rendah, soal ruang publik untuk ramah pejalan kaki. Hal-hal semacam ini tentu berdampak pada banyak orang sekaligus.

Akibatnya akan lebih banyak orang yang tetap sehat dalam waktu yang lebih lama. Mati itu pasti, setiap orang akan mati, namun menikmati hidup dengan kualitas hidup yang tinggi dan berakhir dengan masa sakit yang pendek dan mati, tentu menjadi harapan semua orang.

BACA JUGA  Kasus Alergi pada Anak Meningkat, Diagnosa Perlu Tepat

Bagian gaya hidup

Kedua, murah. Saat pilihan yang sehat lebih mudah diakses maka rumah tangga-rumah tangga tak perlu membeli kesehatan dengan biaya mahal, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup kekinian yang menyenangkan. Kemudian ketiga, pemerintah perlu menggandeng pelaku usaha.

Pasalnya, saat ini dominan jenis usaha yang ramai dan menguntungkan secara bisnis adalah usaha yang tak mendukung kesehatan. Pemerintah dalam hal ini dapat menetapkan arah dan standar sehingga industri dapat terus berinovasi di dalam koridor terstandar, dan hasilnya pasar sehat, serta membuat ekonomi yang tetap tumbuh. (AGT/N-01)

Oleh:

(Guru Besar Bidang Ilmu Promosi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular FK-KMK UGM, Prof. dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, Ph.D)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Pengembangan Neuropsikologi di Indonesia Dinilai masih Tertinggal

PENGEMBANGAN neuropsikologi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan yang telah dilakukan di sejumlah negara Asia seperti Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan ekosistem neuropsikologi,…

Anak Muda Disebut Makin Rentan Kena Gangguan Mental

ANAK MUDA dengan rentang usia 15 hingga 24 tahun khususnya perempuan banyak yang mengalami depresi. Hal itu karena terjadi pada saat mereka berada pada masa quarter-life crisis. Namun yang disayangkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Sepuluh Pemain Timnas Indonesia Imbangi Malaysia

  • September 28, 2026
Sepuluh Pemain Timnas Indonesia Imbangi Malaysia

FIFA ASEAN Cup 2026 Ajang Bergengsi, Erick Thohir Sebut Duel Indonesia Vs Malaysia Jadi Laga yang Sangat Dinantikan

  • September 28, 2026
FIFA ASEAN Cup 2026 Ajang Bergengsi, Erick Thohir Sebut Duel Indonesia Vs Malaysia Jadi Laga yang Sangat Dinantikan

Pengembangan Neuropsikologi di Indonesia Dinilai masih Tertinggal

  • September 28, 2026
Pengembangan Neuropsikologi di Indonesia Dinilai masih Tertinggal

Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 Indonesia dan Top 500 Asia Versi EduRank

  • September 28, 2026
Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 Indonesia dan Top 500 Asia Versi EduRank

Polsek Turi Tangkap Pembacok Guru

  • September 28, 2026
Polsek Turi Tangkap Pembacok Guru

Sidak Rumah Pompa Sidokare, Wakil Bupati Temukan Material tak Sesuai

  • September 28, 2026
Sidak Rumah Pompa Sidokare, Wakil Bupati Temukan Material tak Sesuai