Fenomena Marriage is Scary Berkembang di Kalangan Generasi Muda

DI INDONESIA kini telah muncul dan berkembang fenomena takut terhadap ikatan perkawinan (marriage is scary) dan fenomena pilihan tidak memiliki anak atau childfree.

Pakar Pusat Studi Islam Peradaban dan Keindonesiaan FIAI (Fakultas Ilmu Agama Islam) UII (Universitas Islam Indonesia), Dr. Maulidia Mulyani dalam pidato ilmiah Milad ke-83 UII di kampus setempat, Senin, mengungkapkan tren ini semakin mengemuka.

Beberapa individu atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak yang seringkali didasari oleh sebuah ketakutan melahirkan generasi yang lemah atau ketidapercayaan terhadap kapabilitas negara dalam mengakomodir kebutuhan mereka.

Kontradiktif

Sementara itu, sebuah observasi menunjukkan adanya dua pola masyarakat yang cukup kontras, sebagian besar masih memandang penting pernikahan namun tidak menganggap penting putus sekolah sebagai penghalang, sementara kelompok lainnya menunjukkan tren “marriage is scary” yang mana, mereka enggan menikah karena berbagai kekhawatiran.

“Kemunculan fenomena ini bukan secara kebetulan, melainkan menunjukkan adanya pergeseran paradigma signifikan di kalangan masyarakat kontemporer,” katanya.

BACA JUGA  Ketua DPD RI:Generasi Muda Harus Berani, Berkarakter dan Berbudaya

Namun di sisi lain hal ini menjadi sebuah kompleksitas pandangan terhadap sebuah institusi keluarga dan reproduksi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi dan budaya yang membentuk ulang norma-norma tradisional.

Apa yang tampil di media sosial katanya menjadi ukuran utama oleh masyarakat kita, termasuk adanya standar media sosial terhadap potret kehidupan rumah tangga secara baik maupun buruk.

Standar baru

Apa yang terjadi di dalam institusi keluarga bukan menjadi konsumsi pribadi, melainkan konsumsi bersama yang kemudian menyebabkan sebagian masyarakat menilai dan menciptakan standarnya.

Dikatakan tren “Marriage is Scary” di media sosial, terutama di TikTok, secara signifikan memengaruhi pandangan remaja Muslim terhadap pernikahan, menyoroti ketakutan dan ambivalensi yang berakar pada narasi negatif mengenai beban dan tantangan hidup berumah tangga.

Ketakutan ini, lanjutnya bukan hanya dipicu oleh representasi media, tetapi juga diperparah oleh stigma sosial dan kesulitan dalam menemukan pasangan yang sesuai. Di sisi lain, stigma posisi rentan perempuan masih selalu ada baik dalam lingkup domestik maupun publik.

BACA JUGA  Telkomsel Siap Cerahkan Literasi AI Generasi Muda

“Kekerasan yang terjadi pada anak juga belum berhenti dan turut menjadi isu yang krusial dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk negara dalam menjamin perlindungan dan kesejahteraan mereka,” katanya.

Angka Perceraian Tinggi

Selain dua fenomena di atas, Maulidia juga menyoroti kerentanan perempuan dan dan anak kaitannya dengan angka perceraian di Indonesia. Ia mengungkapkan angka perceraian di Indonesia kini telah mencapai rata-rata 300 ribu kasus per-tahun di Indonesia, dengan sekitar 50 kasus per-jam.

Kondisi ini, ujarnya turut menggambarkan sisi kerentanan di mana posisi perempuan seringkali menanggung beban sosial dan ekonomi yang lebih besar pasca-perceraiannya, termasuk tanggung jawab pengasuhan anak dan kesulitan dalam hal finansial.

Posisi rentan seorang perempuan ujarnya bukan timbul secara tiba-tiba namun terstruktur dan tersistematis. Seperti perempuan yang bekerja awalnya dan ketika masuk dalam lembaga pernikahan, ia kemudian dilarang bekerja oleh pasangannya, sehingga hal ini membatasi
kemandirian ekonomian dan meningkatkan ketergantungan pada pasangan.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Berkomitmen Tekan Penggunaan Tembakau pada Generasi Muda

“Pemenuhan nafkah pascaperceraian seringkali tidak memadai dan meninggalkan perempuan dalam kondisi finansial yang genting serta kemudian dan memperburuk kerentanan ekonomi perempuan,” katanya.

Pergeseran nilai

Dari perceraian itu, katanya anak-anak juga turut menjadi korban sehingga mengalami teknanan emosional dan psikologis yang dapat mempengaruhi mereka.

Potret fenomena yang terjadi pada sebuah institusi keluarga di era kini menjadi sebuah arena yang penuh dengan tantangan dan perubahan yang signifikan, termasuk juga menuntut analisa mendalam mengenai kerentanan yang dialami oleh perempuan dan anak-anak di tengah pergeseran nilai.

Menurut dia, intervensi negara menjadi suatu hal yang krusial dalam mengatasi kerentanan ini, mengingat pergeseran paradigma tentang
pernikahan dan keluarga dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan sosial. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Inilah Lingo, Media Belajar Literasi Anak Usia Dini

DI TENGAH maraknya penggunaan gawai sebagai sarana belajar, tim mahasisa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan Lingo,  Literasi Interaktif Non-Gawai Berbasis Teknologi Pengenalan Ucapan sebagai permainan edukatif pra dan awal sekolah.…

Pulihkan Kualitas Hidup Penderita Osteoartritis Lutut Lewat Prolotherapy dan Olahraga Terukur

OSTEOARTRITIS menjadi salah satu penyakit muskuloskeletal yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan keterbatasan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

  • September 12, 2026
Polisi  Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

  • September 12, 2026
Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

  • September 12, 2026
Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

  • September 12, 2026
Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

  • September 12, 2026
Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK

  • September 12, 2026
Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK