
ISTILAH daddy issues belakangan ini lagi ramai di jagat maya. Daddy issues kerap digunakan untuk menggambarkan dampak psikologis dari hubungan yang kurang sehat dengan figur ayah. Meski bukan istilah medis resmi, kondisi ini sering tercermin dalam pola hubungan seseorang ketika dewasa.
Beberapa tanda umum yang kerap muncul antara lain:
- Ketertarikan pada pasangan lebih tua: Dorongan bawah sadar untuk mencari figur ayah yang bisa memberi perhatian, rasa aman, dan kasih sayang yang tidak didapat di masa kecil.
- Butuh validasi berlebihan: Selalu ingin diyakinkan atau mendapat kasih sayang dari pasangan karena rasa tidak aman dan kesulitan mempercayai orang lain.
- Sikap posesif dan takut ditinggalkan: Keinginan kuat mempertahankan hubungan meski tidak sehat, akibat ketakutan mendalam terhadap kesepian.
- Rasa tidak percaya diri dan sulit percaya: Kesulitan mempercayai pria lain, bahkan sering memproyeksikan ketidakamanan diri kepada pasangan.
Penyebab :
- Ayah yang absen: Tumbuh besar tanpa kehadiran ayah yang konsisten.
- Hubungan disfungsional: Memiliki ayah yang emosionalnya jauh, tidak dapat diandalkan, atau bahkan melakukan kekerasan.
- Keterikatan tidak aman: Pengalaman masa kecil yang membentuk pola keterikatan tidak sehat, sehingga menyulitkan seseorang menjalin hubungan yang stabil di kemudian hari.
Meskipun istilah ini sering dipakai secara populer, para ahli psikologi lebih sering mengaitkannya dengan masalah keterikatan (attachment issues).
Penting diingat, tidak semua orang yang tumbuh dengan ayah yang absen atau bermasalah akan mengalami kondisi ini, karena banyak faktor lain yang turut berperan dalam perkembangan emosional seseorang. (*/S-01)









