Awas! Cemaran Mikroplastik Air Hujan Ancam Kesehatan Manusia

“ANCAMAN mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar. Pada studi hewan, partikel ini sudah ditemukan di beberapa organ dan berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi,” ungkap Dr. Annisa Utami Rauf, S.Pd., Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Sabtu.

Cemaran mikroplastik yang ada dalam kandungan air hujan diketahui setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan hasil penelitianya terkait adanya artikel plastik mikroskopis tersebut berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, hingga sisa pembakaran sampah plastik.

“Mikroplastik yang melayang di udara kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama air hujan,” katanya.

Fenomena ditemukannya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta menandai fase baru pencemaran lingkungan yang berpotensi mengancam kesehatan manusia.

Padat penduduk

Risiko paparan mikroplastik, katanya muncul  lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan.

Kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik perlu ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan. “Risikonya memang tinggi di kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta,” katanya.

Ia membenarkan telah ada upaya mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan sudah mulai. Hal ituperlu terus didukung.

Ditemukan dalam darah

Ia juga membeberkan sejumlah penelitian global telah menemukan keberadaan mikroplastik dalam darah dan organ manusia, termasuk sistem pencernaan.

BACA JUGA  Rumah Warga Roboh, TNI/Polri Bersama BPBD dan Perangkat Desa Lakukan Penanganan Darurat 

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa partikel plastik mampu masuk dan menetap di tubuh dalam jangka waktu lama. Meski begitu, Annisa menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak spesifik terhadap kesehatan manusia masih terus dikembangkan.

“Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya akumulasi dalam tubuh manusia, tetapi efek pastinya belum jelas karena penelitian masih berlangsung,” ujarnya.

Perbedaan respon tubuh terhadap paparan mikroplastik, imbuhnya membuat penelitian di bidang ini semakin kompleks. Setiap individu bisa memiliki kemampuan berbeda dalam melepaskan atau menahan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh.

Langkah preventif

Karena itu, langkah pencegahan menjadi hal yang paling masuk akal dilakukan saat ini. “Kita belum tahu pasti seperti apa efeknya, tapi yang jelas upaya preventif harus dijalankan sedini mungkin,” kata Annisa.

Sumber utama paparan mikroplastik di kehidupan sehari-hari berasal dari kemasan makanan dan minuman berbahan plastik. Air dalam botol sekali pakai, wadah makanan panas, serta lapisan plastik pada produk makanan berpotensi menjadi media perpindahan mikroplastik ke tubuh manusia.

Menurut Annisa, gaya hidup praktis di kota membuat masyarakat sering tidak sadar terhadap bahaya tersebut.

“Paparan paling tinggi biasanya dari makanan dan minuman yang dikemas plastik. Kebiasaan ini memang perlu diubah secara bertahap,” tuturnya.

BACA JUGA  Tiga Orang Meninggal Akibat Banjir Lahar Hujan Merapi

Rendahnya kesadaran

Dari sisi kesehatan masyarakat, tantangan terbesar dalam mengendalikan paparan mikroplastik adalah rendahnya kesadaran dan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Langkah sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik dapat menjadi titik awal perubahan.

“Kita bisa mulai dari hal kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menghindari kantong plastik saat berbelanja. Upaya kecil ini berkontribusi besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan,” ujarnya.

Pengolahan limbah

Annisa juga menyoroti pentingnya tanggung jawab industri dalam pengelolaan limbah plastik. Produsen besar dinilai memiliki peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari hulu hingga hilir.

“Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

Ia menilai konsep reduce dan reuse masih menjadi strategi paling efektif dalam mengurangi potensi akumulasi mikroplastik di alam. Beberapa negara telah memulai langkah konkret dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang mengembalikan produk lama atau mendaur ulang limbah plastik.

Kolaborasi industri

Menurutnya, pola semacam itu dapat diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan konteks sosial dan budaya masyarakat. “Program pengurangan sampah bisa dilakukan lewat kolaborasi industri dan masyarakat. Intinya, sampah harus dikurangi dari sumbernya,” ujarnya.

BACA JUGA  Dua Mahasiswa UNS Rebut Posisi II Ajang FILM 2025

Keberadaan mikroplastik yang kini ditemukan di atmosfer, bahkan pada air hujan dan awan, memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menjangkau seluruh lapisan lingkungan.

Riset di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global.

“Mikroplastik sudah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara dan awan. Kalau kita tidak menghentikan sumbernya, dampaknya bisa semakin luas,” kata Annisa.

Kesadaran kolektif

Annisa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mulai dari individu hingga pembuat kebijakan.

Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik.

Pendidikan sejak dini juga penting untuk membentuk perilaku ramah lingkungan.

“Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sejak anak-anak sudah dibiasakan membawa botol minum sendiri, kita bisa berharap generasi berikutnya lebih peka terhadap isu plastik,” tegasnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Peringati Hari Osteoporosis, Perwatusi Ajak Warga Rutin Bergerak

PERSATUAN Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) Kabupaten Bandung mengajak masyarakat membiasakan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik, olahraga sesuai kemampuan, serta pemenuhan nutrisi untuk menjaga kesehatan tulang. Upaya ini dinilai…

Pangkas Risiko Demensia dengan Melakukan Pola Hidup Sehat Sejak Dini

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 55,2 juta penderita demensia berbagai tipe di seluruh dunia pada 2019. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan menuanya populasi dunia, jumlah penderita alzheimer dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

  • October 27, 2026
Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

  • October 27, 2026
Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

  • October 27, 2026
The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

  • October 27, 2026
OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

  • October 27, 2026
Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

PTN Diminta Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Industri

  • October 27, 2026
PTN Diminta Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Industri