Perkuat Konservasi Regional, UGM Kirim Wakil ke Forum Forensik DNA Satwa Liar

DOSEN Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Dr. Dwi Sendi Priyono, S.Si., M.Si., mewakili Indonesia dalam pertemuan perdana jaringan forensik DNA satwa liar se-Asia Tenggara yang berlangsung di Singapura, 27–28 Agustus 2026 lalu.

Pertemuan tersebut diselenggarakan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) melalui Global Programme on Crimes that Affect the Environment (GPCAE) bekerja sama dengan National Parks Board (NParks) Singapura.

Pertemuan itu merupakan bagian dari proyek GUARD Wildlife di bawah International Consortium on Combating Wildlife Crime (ICCWC), yang melibatkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), International Criminal Police Organization (INTERPOL), UNODC, dan World Customs Organization (WCO).

Perkuat jejaring

Forum tersebut menjadi wadah untuk memperkuat jejaring dan kapasitas forensik DNA dalam mendukung penanganan kejahatan terhadap satwa liar di kawasan Asia Tenggara.

BACA JUGA  Kelahiran Anak Gajah di Taman Satwa Bukti Kesuksesan Pelestarian Ex Situ

Sendi menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang mempresentasikan profil, kapasitas, serta tantangan pengembangan forensik DNA satwa liar di Indonesia. Ia juga memperkenalkan Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi UGM, sebagai satu-satunya laboratorium model dari Indonesia dalam jaringan tersebut.

“Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi UGM telah menangani identifikasi forensik satwa liar secara morfologis sejak 2010 dan mulai mengembangkan forensik DNA sejak 2021,” ujar Sendi dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Kamis.

Laboratorium tersebut jelasnya telah menangani lebih dari 42 kasus, mengidentifikasi 18 spesies dilindungi, serta memberikan pelatihan kepada lebih dari 140 personel penegak hukum dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kejahatan terhadap satwa liar

Berbagai kajian yang dilakukan laboratorium tersebut juga menunjukkan temuan penting dalam penanganan kejahatan satwa liar. Salah satunya adalah indikasi jalur perdagangan gading internasional yang melintasi pasar Indonesia.

Selain itu, tim peneliti mengidentifikasi produk cula badak palsu yang kemudian mendorong pengembangan metode quantitative polymerase chain reaction (qPCR) untuk identifikasi secara cepat.

BACA JUGA  Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual, Dosen UGM Dipecat

Kajian lainnya mencakup validasi primer forensik untuk sejumlah takson tertentu. Hasil penelitian tersebut telah dan sedang dipublikasikan dalam jurnal internasional.

“Pengembangan forensik DNA satwa liar di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan laboratorium khusus, pendanaan, akreditasi, dan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas banyak pulau,” jelas Sendi.

Penguatan infrastruktur

Indonesia katanya membutuhkan penguatan infrastruktur dan kelembagaan agar kapasitas forensik DNA satwa liar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung penegakan hukum.

Salah satu gagasan yang didorong adalah pembentukan Center of Excellence forensik DNA satwa liar tingkat nasional. Center tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan kapasitas laboratorium, pendanaan berkelanjutan, akreditasi ISO/IEC 17025 untuk lingkup forensik, serta jejaring pelatihan dalam satu kelembagaan.

BACA JUGA  Peduli Lingkungan, BPK IX Gelar Kegiatan Bertajuk Jejak Budaya Citarum

Model ini juga diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan koordinasi dan akses layanan forensik di tengah kondisi geografis Indonesia.

“Kami mendorong adanya Center of Excellence forensik DNA satwa liar tingkat nasional yang dapat menyatukan kapasitas laboratorium, pendanaan berkelanjutan, akreditasi khusus, dan jejaring pelatihan di bawah satu institusi,” ungkapnya.

Perluas kolaborasi

Keikutsertaan UGM dalam pertemuan jaringan forensik DNA satwa liar se-Asia Tenggara tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas kolaborasi internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kapasitas forensik satwa liar.

Jejaring ini juga diharapkan membuka peluang dukungan dari lembaga internasional, termasuk UNODC dan INTERPOL, terhadap penguatan sistem forensik DNA satwa liar di Indonesia. (AGT/M-01)

Related Posts

UGM Pertahankan Predikat Five Star Plus HURS 2025

UNIVERSITAS Gadjah Mada berhasil mempertahankan predikat Five Star Plus dalam Healthy University Rating System (HURS) 2025 yang diselenggarakan oleh ASEAN University Network–Health Promotion Network (AUN-HPN). Penghargaan tersebut diserahkan dalam 2025…

Angkat Kisah Mahasiswa Penerima KIP, Fapet UGM Raih Peringkat 3 PREA 2026

FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) meraih posisi 3 kategori Teknologi & Digital PR Program dalam PERHUMAS PR Excellence Awards (PREA) 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui program komunikasi digital…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tingkatkan Layanan, KAI Logistik Hadirkan Fitur Live Chat di Website

  • October 21, 2026
Tingkatkan Layanan, KAI Logistik Hadirkan Fitur Live Chat di Website

Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penyerangan Rombongan Persib U-18

  • October 21, 2026
Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penyerangan Rombongan Persib U-18

Polda DIY Pastikan 32 Peserta Aksi yang Diamankan sudah Dipulangkan

  • October 21, 2026
Polda DIY Pastikan 32 Peserta Aksi yang Diamankan sudah Dipulangkan

Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

  • October 21, 2026
Program Bagi HP Gratis Berisiko Jadi Beban Fiskal dan Boros Anggaran

Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

  • October 20, 2026
Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

  • October 20, 2026
Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan