
MAHASISWA KKN-PPM UGM Unit Mapai Pangandaran melaksanakan program Edukasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan melalui Komposter dan Ecobrick di Dusun Sanghiangkalang, Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Program itu bertujuan memperkuat budaya pemilahan sampah di masyarakat sebagai langkah awal mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Mahasiswa menggandeng sekitar 30 peserta yang merupakan perwakilan dari setiap dusun di Desa Batukaras sehingga diharapkan mampu menjadi agen edukasi yang menyebarluaskan praktik pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Edukasi sampah
Risqi Nur Amalina Hanifa, mahasiswa KKN dari Program Studi Teknik Infrastruktur Lingkungan mengatakan program yang mereka laksanakan ini dilatarbelakangi oleh keberadaan Program Bank Sampah Desa Batukaras yang telah menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyetorkan sampah bernilai ekonomis.
Untuk mengoptimalkan program tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM Mapai Pangandaran menghadirkan edukasi mengenai pemilahan sampah serta pengelolaan sampah organik dan anorganik agar setiap jenis sampah dapat ditangani sesuai karakteristiknya.
“Melalui pendekatan ini, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan ke Bank Sampah, sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan komposter, sedangkan sampah plastik yang sulit didaur ulang dimanfaatkan menjadi ecobrick,” ujarnya, Senin.
Budaya pemilahan sampah
Renata Satriatama Ranukumbolo, mahasiswa Program Studi Matematika mengatakan pengelolaan sampah melalui Komposter dan Ecobrick, peserta diberikan edukasi soal klasifikasi sampah organik dan anorganik, manfaat pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Selain itu juga demonstrasi pengolahan sampah organik menggunakan komposter rumah tangga menjadi pupuk kompos, serta pengelolaan sampah anorganik melalui pemanfaatan ecobrick.
“Dari kegiatan ini, kami ingin memperkuat budaya pemilahan sampah sebagai langkah awal pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ucapnya.
Kegiatan pelatihan ini menghadirkan narasumber, Amir Hamjah, salah satu penggiat pengelolaan sampah berbasis rumah tangga serta telah menerapkan penggunaan komposter secara mandiri.
Kebiasaan sederhana
Melalui sesi berbagi pengalaman, ia menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga maupun lingkungan.
Ia juga berharap masyarakat Desa Batukaras dapat mulai mengelola sampah secara mandiri. “Awalnya saya juga menganggap mengolah sampah itu sulit. Namun setelah mencoba menggunakan komposter di rumah, ternyata sampah organik dapat berkurang cukup banyak dan hasil komposnya bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” ujarnya.
Sekretaris Desa Batukaras, Supriadi mengapresiasi pelaksanaan program edukasi tersebut yang selaras dengan komitmen pemerintah desa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah sekaligus memperkuat optimalisasi Program Bank Sampah.
Fasilitasi wadah
Menurutnya pemerintah Desa telah memfasilitasi wadah untuk menyetorkan sampah bernilai ekonomis melalui Bank Sampah yang sudah dijalankan oleh masyarakat desa.
“Adanya edukasi mengenai pemilahan sampah, komposter, dan ecobrick, kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa setiap jenis sampah memiliki penanganan yang berbeda sehingga pengelolaan sampah di Desa Batukaras dapat berjalan lebih optimal,” tuturnya.
Salah satu peserta kegiatan, Iyayat Nur Hayati, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan sampah yang sebelumnya belum pernah dipraktikkan.
Sebelumnya ia hanya mengetahui Bank Sampah digunakan untuk menjual sampah plastik yang telah dikumpulkannya. Sekarang ia lebih memahami pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, mengolah sampah organik menggunakan komposter, serta memanfaatkan sampah plastik yang tidak dapat dijual menjadi ecobrick.
“Saya jadi ingin mencoba menerapkan pengelolaan sampah bersama keluarga dan membagikan pengetahuan ini kepada warga di dusun,” ungkap Hayati. (AGT/M-01)







