UGM Soroti Salah Kaprah Stunting, Bahaya Stigma Anak Pendek

GURU Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Adi Utarini, MPH., Ph.D., menilai masih banyak kesalahpahaman dalam memaknai stunting atau tengkes di berbagai lapisan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Prof. Adi dalam pidato Dies Natalis ke-76 Universitas Gadjah Mada, Jumat (19/12). Ia menyoroti besarnya anggaran negara untuk penanganan stunting yang diperkirakan setara dengan 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Ini merupakan salah satu masalah kesehatan dengan alokasi anggaran yang sangat masif, diperkirakan ekuivalen dengan 1,9 persen Gross Domestic Product Indonesia,” ujarnya dalam pidato berjudul Membentuk Generasi Muda Sehat Menuju Indonesia Emas.

Biaya besar untuk 80 juta penerima MBG

Menurut Prof. Adi, program penanganan stunting juga menjangkau lebih dari 80 juta penerima manfaat Makanan Bergizi Gratis (MBG), serta melibatkan lebih dari 20 kementerian dan lembaga dengan koordinasi vertikal yang luas dan tersebar.

BACA JUGA  UGM dan Polda DIY Sepakat Bentuk Pusat Studi Kepolisian

Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya biaya, cakupan program yang sangat luas, serta meningkatnya laporan risiko keracunan makanan dapat berimplikasi pada efektivitas program dalam menurunkan angka stunting dan keberlanjutannya di masa depan.

Salah kaprah stunting dan stigma di masyarakat

Data tahun 2024 menunjukkan hampir seperlima balita di Indonesia atau sekitar 19,8 persen-setara 4,5 juta anak-tergolong stunting. Angka tertinggi tercatat di Nusa Tenggara Timur (37 persen), sementara terendah di Bali (8,7 persen).

Meski demikian, Prof. Adi menegaskan bahwa jumlah keluarga yang berisiko stunting mencapai dua kali lipat dari jumlah anak stunting, yakni lebih dari 8,6 juta keluarga. Ia menjelaskan stunting merupakan gangguan pertumbuhan tinggi badan akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau penyakit kronis, yang berdampak pada perkembangan kognitif anak sehingga tidak optimal.

BACA JUGA  UGM Kukuhkan Dua Guru Besar Teknik Nuklir dan Fisika

“Namun, tinggi badan tidak semata-mata ditentukan oleh asupan nutrisi atau penyakit kronis,” katanya.

Faktor keturunan anak pendek

Ia mencontohkan, faktor keturunan atau herediter juga dapat menyebabkan anak bertubuh pendek tanpa mengalami stunting. Menyamakan anak pendek dengan stunting, menurutnya, justru berpotensi menimbulkan dampak buruk jangka panjang.

Orang tua dan tenaga kesehatan yang keliru menilai anak sebagai stunting cenderung memberikan asupan makanan berlebih. Akibatnya, anak berisiko mengalami obesitas, diabetes melitus, serta penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Selain itu, stigma stunting juga dapat menurunkan kepercayaan diri anak dan berdampak buruk terhadap kesehatan mentalnya. “Anaknya tidak stunting, tetapi lingkungan sekitarnya justru merusak masa depannya dengan stigma stunting,” pungkas Prof. Adi. (AGT/S-01)

BACA JUGA  Ekonom Sampaikan 7 Desakan Darurat Ekonomi

Siswantini Suryandari

Related Posts

PPLS Mediasi Korban Lumpur dengan Minarak Lapindo Soal Pembayaran Ganti Rugi

PUSAT Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) memfasilitasi mediasi antara perwakilan korban lumpur Lapindo dan pihak PT Minarak Lapindo Jaya. Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kepala PPLS, Darwis Daraba, ini digelar di…

Dukung Pembangunan Daerah, Telkomsel Perkuat Pemberdayaan Desa

SEBAGAI bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat pembangunan desa dan mendorong transformasi digital yang inklusif, Telkomsel kembali menggelar program  Baktiku Negeriku. Program tahun ini dilaksanakan pada 21–23 Mei di Desa Balegede,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

PPLS Mediasi Korban Lumpur dengan Minarak Lapindo Soal Pembayaran Ganti Rugi

  • June 4, 2026
PPLS Mediasi Korban Lumpur dengan Minarak Lapindo Soal Pembayaran Ganti Rugi

Polda DIY Sabet Penghargaan di Rakernis Keuangan 2026

  • June 4, 2026
Polda DIY Sabet Penghargaan di Rakernis Keuangan 2026

Korban Titik Dapur MBG di Jabar Mulai Bersuara

  • June 4, 2026
Korban Titik Dapur MBG di Jabar Mulai Bersuara

Wagub DIY Minta Bidang Kesehatan Terus Dimoderasi

  • June 4, 2026
Wagub DIY Minta Bidang Kesehatan Terus Dimoderasi

Ahmad Luthfi Kunci 87 Persen Lahan Persawahan di Jateng

  • June 4, 2026
Ahmad Luthfi Kunci 87 Persen Lahan Persawahan di Jateng

Keberadaan Borobudur Diharap Mengerek Pariwisata di Daerah Sekitar

  • June 4, 2026
Keberadaan Borobudur Diharap Mengerek Pariwisata di Daerah Sekitar