Jejak Deforestasi di Balik Banjir dan Longsor Sumatra

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) diduga kuat dipicu oleh deforestasi masif yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah hulu, lemahnya penegakan hukum, serta meningkatnya risiko hidrometeorologi disebut menjadi kombinasi penyebab utama.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi “Pengelolaan Hutan dan Mitigasi Bencana” yang digelar di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM belum lama ini. Dikutip dari laman UGM, sejumlah pakar dihadirkan untuk membahas penyebab bencana dari aspek geospasial, kebijakan kehutanan, pengelolaan DAS, perencanaan, hingga perhutanan sosial.

Peneliti hidrologi hutan UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa bencana di Sumatra merupakan hasil pertemuan fatal antara cuaca ekstrem dan ekosistem hutan yang sudah rapuh.

Kapasitas alam untuk menahan banjir dan longsor terus melemah akibat deforestasi, alih fungsi lahan, hingga tata ruang yang mengabaikan aspek kerawanan bencana.

BACA JUGA  UGM Masuk peringkat 41 Versi THE

“Curah hujan ekstrem itu pemicu. Tapi akar masalahnya adalah kerusakan ekosistem dari hulu ke hilir dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematis,” ujarnya.

Memutus siklus bencana

Hatma merekomendasikan strategi pemutusan siklus bencana melalui dua pendekatan yaitu menghentikan deforestasi dan melindungi sisa hutan. Serta pendekatan teknis dan sosial seperti penataan ulang tata ruang berbasis risiko, edukasi dan pelibatan masyarakat.

“Bencana ini bukan kegagalan alam, tetapi kegagalan dalam implementasi dan penegakan hukum terhadap regulasi konservasi dan tata ruang,” tegasnya.

Dari perspektif geospasial, Dr. Belinda Arunarwati Margono dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyoroti belum optimalnya komunikasi antara pemerintah daerah dan pusat, sehingga peringatan dini yang sudah tersedia sering kali tidak ditindaklanjuti.

BACA JUGA  Lobster Rica-Rica Jadi Salah Satu Daya Tarik Pariwisata Samosir

“Deteksi dini itu ada, tetapi mekanisme tindak lanjut dan pemahamannya belum jalan,” ujarnya.

Deforestasi masif dan lemahnya pengawasan

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. San Afri Awang, menambahkan bahwa lemahnya pengawasan pembangunan kehutanan semakin memperburuk situasi.

Ia menyoroti pemerintah daerah yang tidak menjalankan penegakan hukum seperti Undang-Undang Konservasi Tanah dan Air karena tidak dianggarkan dalam program daerah. “Kondisi ini harus segera diantisipasi,” tegasnya.

Sementara itu, pakar konservasi tanah dan air UGM, Prof Ambar Kusumandari, menjelaskan bahwa secara morfometri, empat dari sepuluh DAS yang dikaji di tiga provinsi tersebut sudah tergolong berisiko tinggi sejak awal.

Kondisi ini diperparah oleh keberadaan patahan tanah yang membuat wilayah tersebut lebih rentan longsor, terutama setelah gempa bumi.

BACA JUGA  Perluas Layanan Bisnis, Kalog Angkut CPO

“Dengan deforestasi yang sangat cepat, bencana hidrometeorologis akan makin meningkat, berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan sumber cadangan air,” katanya.

Laju deforestasi di kawasan taman nasional

Pakar kehutanan UGM lainnya, Prof. Ahmad Maryudi, menekankan bahwa laju deforestasi di kawasan taman nasional di Sumatra sebagian besar dipicu faktor antropogenik atau aktivitas manusia.

Ia menyebut fenomena policy inflation (menumpuknya berbagai kebijakan yang tidak harmonis) dan capacity collapse (melemahnya kapasitas lembaga) sebagai penyebab makin lemahnya pengelolaan kawasan hutan.

“Deforestasi ini akumulasi bertahun-tahun. Dan ya, ini jelas menjadi kontributor utama bencana,” ujarnya. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Dompet Dhuafa Bantu Renovasi 4 Sarana Sanitasi di RTQ Ali Imron Bogor

DALAM upaya menciptakan lingkungan belajar Al-Qur’an yang bersih, aman, dan kondusif bagi masyarakat, GREAT Edunesia Dompet Dhuafa menyalurkan Dana Aksi Kebaikan untuk pembangunan dan renovasi 4 unit sarana sanitasi di…

Tim KKN UGM Bersama Masyarakat Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

BAGI masyarakat Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, air bukanlah sesuatu yang langka atau sulit dicari. Jaringan air pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) telah mengalir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

  • August 11, 2026
Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

  • August 11, 2026
Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

  • August 11, 2026
Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

  • August 11, 2026
Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

  • August 11, 2026
Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

  • August 11, 2026
111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia