Risiko Mendaki Gunung Saat Aktivitas Vulkanik Meningkat

AKTIVITAS Gunung Dukono kembali menjadi perhatian setelah peristiwa pendakian yang menimbulkan korban jiwa. Gunung api yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, tersebut dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Menanggapi hal ini, Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, menjelaskan karakter Gunung Dukono, potensi bahaya erupsi, serta pentingnya mitigasi berbasis informasi resmi.

Menurut Dr. Mirzam, Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Aktivitas tersebut menjadikan Dukono menarik untuk diamati, terutama bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam sekaligus menyaksikan fenomena erupsi secara langsung.

Jangan abaikan keselamatan

Namun, daya tarik tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.

“Gunung api itu menjadi semakin menarik ketika gunung apinya aktif. Para pendaki ingin menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan atraksi yang luar biasa,” paparnya.

Mirzam menyebut bahwa aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Keinginan untuk memperoleh foto, video, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan bahaya yang dapat terjadi di lapangan.

“Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi,” bebernya.

BACA JUGA  BPPTKG Catat 887 Gempa Terjadi di Puncak Merapi Selama Sepekan

Status Meningkat, Pendakian Seharusnya tidak Dilakukan

Dr. Mirzam menjelaskan bahwa status gunung api ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Status tersebut terdiri atas normal, waspada, siaga, hingga awas, atau level 1 sampai level 4.

Peningkatan status biasanya didasarkan pada sejumlah indikator, seperti aktivitas kegempaan, erupsi kecil, dan perubahan aktivitas gunung.

Dalam konteks Gunung Dukono, ia menyebutkan bahwa pada Agustus 2024 status gunung berada pada level 2 dengan rekomendasi radius aman sejauh 3 kilometer.

Pada Desember 2024, radius rekomendasi tersebut meningkat menjadi 4 kilometer. Selanjutnya, pada 17 April 2026, status Dukono berada pada level 3 sehingga aktivitas pendakian seharusnya tidak dilakukan.

“Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun,” tandasnya.

Bahaya Erupsi tidak Hanya Abu Vulkanik

Mirzam mengingatkan bahwa bahaya gunung api tidak hanya berasal dari abu vulkanik. Memperhatikan arah angin memang dapat membantu menghindari sebaran abu, tetapi langkah tersebut hanya mengurangi salah satu jenis risiko.

Erupsi gunung api juga dapat menghasilkan bom vulkanik, awan panas, gas beracun, aliran lava, lahar, hingga longsor.

BACA JUGA  Merapi Alami 101 Guguran Lava dalam Sepekan

“Usaha kita melihat arah angin ke mana itu hanya meminimalisir salah satu bencana, yaitu jatuhnya abu vulkanik yang terbawa angin,” imnu6.

Mirzam menambahkan, material seperti bom vulkanik sangat berbahaya karena terlontar secara balistik dan tidak mengikuti arah angin. Selain itu, awan panas memiliki kecepatan tinggi sehingga sulit dihindari apabila sudah melintas.

Sistem peringatan dini

“Kalau yang keluar adalah wedhus gembel dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,” ucapnya.

Dr. Mirzam mengatakan, sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi. Informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah harus dapat diterima masyarakat, dipahami dengan baik, serta disampaikan melalui pihak yang dipercaya masyarakat setempat.

Tantangan di lapangan muncul karena tidak semua masyarakat memiliki akses internet, memahami sistem peringatan dini, maupun memahami bahasa Indonesia dengan baik.

“Tidak semua terhubung dengan jaringan internet. Tidak semua orang memahami warning system. Ada beberapa yang juga tidak bisa berbahasa Indonesia di daerah itu,” lanjutnya.

Dukungan tokoh masyarakat

Karena itu ujar Mirzam,  tokoh masyarakat, kepala desa, pemandu lokal, dan pihak yang dipercaya warga perlu dilibatkan sebagai penghubung informasi.

BACA JUGA  Gunung Ibu Kembali Erupsi, Warga Diminta Mawas Diri

Dengan demikian, informasi ilmiah dapat diterima masyarakat melalui bahasa yang lebih mudah dipahami. Mitigasi bencana gunung api merupakan tanggung jawab bersama.

Pemerintah, PVMBG, BNPB, akademisi, pengelola wisata, pemandu, masyarakat lokal, hingga pendaki memiliki peran masing-masing. Informasi mengenai status gunung api dan rekomendasi aktivitas harus merujuk pada sumber resmi, bukan hanya berdasarkan pengalaman individu atau pihak pengelola wisata.

“Setiap wisatawan harus mencari informasi yang cukup, apakah ini saat yang tepat, apakah ini paling berisiko atau tidak. Itu harus ditakar. Gunung api aktif tetap dapat dinikmati dari jarak aman.”

Prioritas utama

“Kegiatan wisata alam tidak harus dihentikan sepenuhnya, tetapi perlu dilakukan dengan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku,” sambungnya.

Mirzam kembali mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Keindahan alam, pengalaman pendakian, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa.

“Like yang kita dapat dan popularitas itu tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar,” tutupnya. (zahra/M-01)

Related Posts

Tim KKN UGM Bersama Masyarakat Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

BAGI masyarakat Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, air bukanlah sesuatu yang langka atau sulit dicari. Jaringan air pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) telah mengalir…

Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan

GURU Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A., menyampaikan melalui momentum putusan Mahkamah Konstitusi terkait anggaran fungsi pendidikan perlu dimanfaatkan untuk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

  • August 11, 2026
Polda Jateng Beri Penghargaan kepada 49 Insan Berprestasi

Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

  • August 11, 2026
Antisipasi Karhutla, Polda Sulsel Gelar Apel Pasukan

Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

  • August 11, 2026
Dieng Culture Festival 2026 Siap Beri Pengalaman Berbeda

Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

  • August 11, 2026
Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

  • August 11, 2026
Ketua Majelis Hakim Ikuti Pelatihan, Sidang Putusan Bupati Ponorogo Nonaktif Ditunda

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

  • August 11, 2026
111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia